CERMIN DAN KETULUSAN BY :Aan Chandra Thalib

 

Seorang mukmin cermin


Orang mukmin saudara sendiri

Cermin mukmin

 

502. CERMIN DAN KETULUSAN

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

المؤمن مرآة أخيه، والمؤمن أخو المؤمن؛

"Seorang mu’min adalah cermin bagi saudaranya. Dan seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain." (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-)

Sahabat…
Bukan suatu kebetulan bila dalam potongan hadits diatas Rasululullah shallallahu alaihi wasallam memilih cermin sebagai perumpamaan seorang mu’min.
Itu karena tak ada yang lebih tulus dari cermin.
Dia tak pernah berdusta dan selalu berbicara pada puncak kejujurannya. Dalam diamnya ia memberitahu apa adanya tentang kita.

Ketulusan cermin adalah ketulusan yang paripurna, itu karena dia tak pernah menyimpan dendam.
Kita bisa merasa apa saja di depannya. Merasa hebat, baik, tampan, cantik, atau apa saja. Bahkan kita bisa memanipulasi jiwa dan hati kita. Namun apa yang dia lihat dari kita akan ditampakkan apa adanya.
Dan bila kita pergi dia tidak akan menyimpan bayangan wajah kita di dalamnya.

Begitu juga seorang mu’min, dia tidak akan membeberkan kekurangan saudaranya pada orang lain.
Dia akan akan menutupi kekurangan itu, seperti cermin yang tak membiarkan bayangan orang lain tinggal di dalamnya.

Ketulusan cermin, sejatinya adalah pekerjaan hati, memerlukan iman yang jujur dalam menatanya. .
Seperti cermin yang tak boleh buram, maka ketulusan seorang mukmin kepada saudaranya tak boleh ternodai oleh kepentingan-kepentingan apapun, termasuk dalam hal memaknainya atau mencari manfaat dari ketulusan itu sendiri.

Ketulusan yang paripurna haruslah terwujud pada pribadi mu’min yang shaleh, agar dia menjadi cermin hidup bagi saudaranya dan bagi orang yang menaruh harapan pada jati diri kemuslimannya.

____________________
Jeddah Sabtu 17-07-1435 H
ACT El Gharantaly

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: