NASEHAT SYAIKH ABDURRAHMAN AS-SUDAIS -hafidzohullah- By: Akh Anshori

Allah muhammad 17

 

Dari Ummu Husein

copas: NASEHAT SYAIKH ABDURRAHMAN AS-SUDAIS
-hafidzohullah-
….
Siang kemarin Universitas Islam Madinah kedatangan tamu yang mulia; Syaikh Abdurrahman as-Sudais hafidzohullah (Imam dan khotib masjidil harom yg sering kita dengar lantunan bacaan Quran beliau yang merdu di negeri kita). Seusai mengimami sholat dhuhur di masjid kampus UIM (masijid Syaikh Bin baz rahimahullah ), beliau menyampaikan tausiyah di hadapan para thullab. Berikut ini terjemahan transkip sebagian tausiuyah beliau yang amat berharga untuk para thullabul ilm, terkhusus di tanah air tercinta.

” Semakin bertambah ilmu seorang alim tentang Allah dan Rasul-Nya shallallahualaihiwasallam dan semakin tahu agama Allah , maka akan semakin banyak manfaat yang ia tebarkan kepada hamba-hamba Allah ta’ala yang lain. Dan akhlaqnya kepada kaum muslimin bahkan kepada non muslim akan semakin baik. Karena kewajiban kita adalah beragama sebagimana beragamanya Rasulullah shallallahualaihiwasallam sebagaimana Allah firmankan kepada beliau :

” Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘imran:159)

Nabi Shallahu’alaihiwasallam merupakan manusia yg paling baik akhlaqnya dan teladan terbaik utk manusia.Maka para thullabul ‘ilm sudah sepatutnya utk berakhlaq dg akhlaq yg baik ,sehingga manfaat yg ia tebarkan dpt dirasakan seluruh lapisan masyarakat dan diterima oleh manusia.

Hendaknya pula bagi para thullabul ilm meniti manhaj pertengahan dan i’tidal dalam beragama. Allah ta’ala berfirman :

” Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqoroh : 143)

Hindarilah sikap belebih-lebihan. Sudah seyogyanya bagi thullabul ilm untuk memiliki hati yg selamat dari kebencian , kedengkian dan permusuhan antara satu dg yg lainnya. Kenapa tidak..!! Kitab kita satu, Sunnah Rasulillah adalah petunjuk kita, dan manhaj salafussholih manhaj kita..!!
Sungguh amat disayangkan keadaan thullabul ilm hari ini. Mereka saling bermusuhan disebabkan perkara ijtihadiyah. Mereka saling membid’ahkan dan saling menfasikkan hanya gara2 berselisih dalam masalah ijtihadiyyah. Dahulu Abu Bakr , Umar dan juga para imam kaum muslimin ; Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i , Imam Ahmad dan yg lainnya, mereka jg pernah berselisih dalam masalah ijtihadiyyah akan tetapi hati mereka tetap satu, selamat dari saling membenci dan tetap saling mencintai.

Sebagian dari mereka hari ini menyibukkan diri dg mencari-cari aib orang lain. Ini merupakan kesalahan. Manusia mana yg tidak pernah tergelincir dalam kesalahan?! Manusia mana yg baik saja..tanpa pernah salah.!! carilah udzur utk saudaramu terlebih dalam perkara ijtihadiyyah dan kembalikanlah kepada para ahlul ilmi. Allah ta’ala berfirman :

” Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.” (QS. Al-an’am:28)

Sehingga jika ada perselisihan dalam perkara ijtihadiyyah tidak menyebabkan hilangnya persaudaraan (ukhuwwah islamiyyah) dan tetap saling menjaga hak-hak seorang mukmin.”

By: Akh Anshori

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: