NOSTALGIA .

 

Gus Dur Jabatan

 

# NOSTALGIA #

Kemarin, 21 Oktober, lima belas tahun silam, Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid secara resmi memasuki Istana Merdeka. Pukul 09.00 WIB, beliau langsung menerima kunjungan puluhan kiai di Wisma Negara. Itulah sepanjang sejarah, rombongan tamu bersarung dan bersandal dengan santai memasuki Wisma Negara, bangunan yang dibuat oleh Bung Karno dan terasa “angker” di
zaman Pak Harto.

Di era Gus Dur pula, istana kepresidenan menjelma rumah rakyat. Seringkali, pada dinihari Presiden Gus Dur menerima kunjungan kiai dari Jawa Timur yang membuat paspampres canggung. Tamu Gus Dur yang “antik” juga banyak: pengembara yang minta “sangu”, para biksu, orang berpakaian kejawen berambut
gondong, Greg Barton, Indonesianis berbaju batik yang dengan sopan kulonuwun ke Paspampres; hingga bule sahabat Gus Dur, seorang filmmaker asal Australia bernama Mr. Curtis yang diizinkan mendokumentasikan aktivitas Presiden Gus Dur secara bebas, selama 24 jam full, nyaris tanpa batasan dan tanpa sensor [kadang-kadang bikin geregetan staff kepresidenan juga].

Ini belum lagi para wartawan yang dengan enjoy mengakses jerohan istana. Pendek kata, sejak awal menjadi presiden, Gus Dur membuka istana bagi siapapun. Untuk keterbukaan ini, saya kira Gus Dur sudah bikin rekor dunia sebagai presiden yang rela aktivitas dan privasinya diintip dunia. Bahkan, film
dokumenter garapan Mr. Curtis tentang aktivitas Presiden Gus Dur yang berjudul “High Noon in Jakarta”, kabarnya menyabet beberapa penghargaan di festival film di luar negeri.

Di era Gus Dur pula Open House dilakukan di dalam istana hingga karpet terbaik di Cradential Room [tempat presiden menerima kepala negara dan duta besar asing] yang masih gres harus amburadul diinjak ribuan pasang kaki beragam
jenis manusia: menteri, satpam, pasukan kuning, santri, hingga pengelana. Staf rumah tangga istana sempat menyampaikan keberatan kepada Gus Dur. Apa jawab beliau? “Ya biarin aja rakyat menikmati karpet istana yang masih baru itu, toh karpet itu dibeli pakai uang rakyat.”

Sebagai presiden, pemerintahan Gus Dur yang singkat memang tidak sempurna, tapi beliau telah melakukan banyak perubahan fundamental.
Jokowi bukan Gus Dur, bukan pula Bung Karno, apalagi Pak Harto. Kepemimpinannya tentu memiliki karakteristik tersendiri. Kita berharap Jokowi bisa melaksanakan amanah dengan baik, karena sebagaimana kata Imam Al-Ghazali, setiap pemimpin adalah gambaran dari rakyatnya.

[ Qonita Ulil Azmi ]

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: