Air Mata Bu Risma Oleh : Ainna Amalia F.N.*

Risma surabaya

 

Sungguh luar biasa ibu Walikota ini….
Air Mata Bu Risma..
(Koran Jawa Pos – Senin, 17 Februari 2014):

Satu minggu terakhir Bu Risma, sapaan akrab Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, menjadi trending topic di Twitter setelah tampil menyentuh dalam acara Mata Najwa di Metro TV pada Rabu malam, 12 Februari 2014. Wali kota yang telah menorehkan puluhan prestasi hanya dalam waktu tiga tahun kepemimpinannya itu sempat berurai air mata ketika Najwa Shihab menanyakan isu pengunduran dirinya sebagai wali kota Surabaya. Risma mengakui bahwa dalam masa jabatannya, dirinya mengalami banyak tekanan dari banyak pihak. Tekanan kepada Risma mengingatkan saya akan kisah Baginda Nabi Muhammad dan pengemis Yahudi buta di sudut pasar Madinah. Pengemis buta itu selalu mencaci maki dan menjelek-jelekkan nabi di tengah keramaian pasar. Dari mulut pengemis selalu keluar hinaan, “Muhammad gila, Muhammad pembohong dan tukang sihir.”

Namun begitu, sang kekasih Allah itu setiap pagi ke pasar, selalu menyuapkan makanan ke mulut pengemis dengan lembut, penuh kasih sayang, dan tanpa kata-kata. Pengemis buta tidak pernah menyadari bahwa yang menyuapinya adalah orang yang selalu dia hina. Nabi Muhammad melakukannya setiap hari hingga beliau wafat. Sejak itu, tak ada lagi yang menyuapi pengemis buta di sudut pasar tersebut.

Hingga suatu pagi, Sayidina Abu Bakar, pengganti Nabi Muhammad sebagai pemimpin negara, melakukan sebagaimana yang dilakukan nabi, menyuapi pengemis Yahudi buta di sudut pasar. Namun, pengemis buta tahu bahwa Abu Bakar bukan orang yang biasa menyuapinya. Dia menghardik marah. “Kamu siapa? Bukan kamu yang biasa menyuapi aku. Orang yang biasa menyuapiku selalu dengan penuh kelembutan,” katanya sambil memegang tangan Abu Bakar.

Akhirnya, Abu Bakar mengaku bahwa dirinya adalah sahabat orang yang selalu menyuapi si pengemis setiap hari. “Orang yang biasa menyuapi kamu setiap hari telah wafat, dialah Muhammad Rasulullah,” kata Abu Bakar sambil menyeka air mata.

Mendengar itu, pengemis buta menangis tersedu-sedu. Ingat ketika dia menghina dan memfitnah Baginda Nabi. Ingat bagaimana nabi tetap dengan penuh kelembutan menyuapinya setiap hari tanpa kemarahan. Setelah itu, pengemis menyatakan masuk Islam dan mohon ampunan.

Kisah inspiratif itu bisa menjadi pelajaran bahwa fokus, konsistensi, kerja keras, kelembutan, dan kasih sayang dapat digunakan untuk menghadapi tekanan. Risma yang sekarang menghadapi banyak tekanan dari kelompok-kelompok yang buta nuraninya tidak boleh patah arang.

Saya percaya, Risma merupakan sosok pemimpin sederhana, tegas, dan berani. Pemimpin dengan tekad bekerja dan mengabdi kepada masyarakat, jauh dari ketertarikan terhadap kegaduhan panggung politik.

Banyak prestasi yang telah diraih, menjadi bukti bahwa Risma adalah pemimpin yang inspiratif. Dia telah mengubah wajah Surabaya menjadi lebih ramah dan bersahabat bagi warganya. Surabaya yang bisa menjadi kebanggaan bagi Indonesia.

Di bawah kepemimpinannya, Kota Surabaya meraih tiga kali Piala Adipura, yaitu pada 2011, 2012, dan 2013 untuk kategori kota metropolitan. Tidak hanya itu, di bawah tangan dinginnya, Surabaya pernah meraih sejumlah penghargaan internasional seperti The 2013 Asian Townscape Sector Award dari PBB untuk Taman Bungkul Surabaya. Juga menjadikan Surabaya kota dengan partisipasi terbaik se-Asia Pasifik dalam mengelola lingkungan pada 2012 versi Citynet.

Pada Oktober 2013 Risma membawa Kota Surabaya memperoleh penghargaan tingkat Asia Pasifik, yaitu Future Government Awards 2013 di dua bidang sekaligus, yakni data center dan inklusi digital, menyisihkan 800 kota di seluruh Asia Pasifik.

Bukan hanya itu, sosok Risma juga sempat menjadi sorotan internasional. Risma dikategorikan sebagai kandidat wali kota terbaik dunia pada 2012 bersama dengan Joko Widodo yang waktu itu menjabat wali kota Surakarta.

Sederet prestasi diraih sosok yang selalu tampil apa adanya itu. Dia mencontohkan kesederhanaan dengan menerapkan efisiensi untuk menghemat anggaran. Misalnya, selalu naik pesawat kelas ekonomi. Tidak menggunakan banyak kendaraan ketika kunjungan daerah. Cukup satu mobil ditumpangi ramai-ramai. Dengan begitu, anggaran transportasi perjalanan dinas pegawai pemkot yang dulu menghabiskan Rp 14 miliar berkurang menjadi hanya Rp 7 miliar.

Risma juga menerapkan sistem elektronik dalam hal yang terkait dengan anggaran dan pencairan uang. Dengan sistem itu, angka kebocoran anggaran bisa diminimalkan sehingga anggaran bisa dimaksimalkan untuk menyejahterakan masyarakat Surabaya.

Sederet prestasi dan model kepemimpinan Risma itu seakan menjadi oasis di tengah padang gersang kepemimpinan nasional. Sudah lama kita tidak melihat, mendengar, dan merasakan seorang pemimpin yang tekad pengabdian kepada masyarakatnya besar. Sebuah kepemimpinan yang menjauh dari keriuhan panggung politik.

Semangat kepemimpinan Rasulullah Muhammad telah merasuki kepemimpinan Risma, yaitu sense of crisis atau kepekaan atas kesulitan rakyat Surabaya, sense of achievement yang berarti semangat memajukan masyarakat, serta raufun rahim atau pengasih dan penyayang.

Jika tiga prinsip itu terus dipegang Risma, saya percaya bahwa semua tekanan dengan sendirinya akan mereda atau terpaksa reda. Dan Risma akan berhasil membawa Surabaya menjadi kebanggaan Indonesia. Sejarah akan mencatat kiprahnya serta menjadi inspirasi dan motivasi pada masa mendatang. Keringat dan air mata Risma akan menjadi air mata kebahagiaan warga Surabaya dan Indonesia nanti.

Oleh : Ainna Amalia F.N.*
*) Akademisi dan pengurus LKK NU Wilayah Jawa Timur
(ainna_amalia@yahoo.co.id)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: