Puasa Bicara, Puasa Pertama Di Jalan Tarikat

 

Puasa itu

Puasa perisai

Ibadah-4

Ibadah-2

Adzan Pol

 

Puasa Bicara, Puasa Pertama Di Jalan Tarikat

Tujuannya bukan sekedar untuk menghinidari kata2 kotor, pergunjingan & menyakiti orang lain tapi agar lebih mampu mendengar & merasakan pesan dari sesama.

1 kata kanjeng Nabi, dalam puasa kita belajar mengendalikan hawa nafsu dan mencegah setan menggoda kita .

2. Mereka yang menempuh jalan tarikat, berpuasa berarti mengendalikan diri secara lahiriah dan batiniah .

3. secara lahiriah, puasa berarti mengendalikan diri dan memuasakan seluruh panca indera .

4. secara batiniah, puasa ‘menutup’ 7 pintu yaitu mata, telinga, mulut, hidung, dubur, kemaluan dan pori-pori .

5. puasa pertama di jalan tarikat adalah puasa bicara. Puasa bicara kotor, bergunjing dan sakiti orang lain .

6. tujuan akhirnya bukan sekedar hindari 3 hal di atas, tetapi menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat.

7. ketika seseorang puasa bicara, ia lebih mampu mendengar dan merasakan pesan atau isyarat dari Allah .

8. setiap saat, Allah berkomunikasi dengan hambaNya. Tidak dengan kata-kata, tapi dengan kejadian di sekitar kita.

9. terlalu banyak bicara membuat kita lebih fokus mengumpat penyebab kejadian dan lupa pesan-pesanNya .

10. silahkan mencoba. Mulailah ikuti puasa lahiriah dengan puasa bicara dan rasakan manfaatnya .

# Kita menjawab panggilan adzan, ketika kita diseru untuk shalat dan dipanggil menuju kejayaan bukan dengan kepercayaan diri menggebu-gebu, bukan juga dengan keyakinan jiwa menderu-deru, bukan pula dengan rasa pasti mampu yang berseru-seru.

# “Hayya ‘alash shalaah.. Marilah shalat!”, ajak Muadzin. Jawab kita bukan, “Siap! Bisa! Pasti bisa! Luar Biasa!” “Hayya ‘alal falaah! Mari menuju keberhasilan, kemenangan, dan kejayaan!”, sambung muadzin. Dan jawab kita bukan pula, “Saya! Saya! Saya! Yeaaa!”

# Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, setaqwa-taqwa manusia, setaat-taat hamba, dan sekuat-kuat pengabdi Rabbnya mengajarkan sebuah jawaban yang apa adanya tentang betapa lemahnya kita. Ungkapan paling jujur itu adalah, “La haula wa la quwwata illa billah. Tiada daya untuk menghindar dari keburukan dan tiada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan, selain dengan pertolongan Allah, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

# “Dengan asma Allah”, adalah ikrar iman kita. Tak ada tempat bagi nama selainNya, bahkanpun nama kita, dalam berangkat maupun kembali, berjalan maupun berhenti, di kala pulang maupun pergi. Hanya namaNya yang layak diagungkan di setiap tapak dan langkah, berjalan dan berkendara, hatta hingga jatuh dan bangunnya. Semua dalam nama Allah, agar kita menghadapkan wajah padaNya dengan lurus dan berserah diri.

# Selanjutnya, kita menginsyafi bahwa hanya Allah-lah sandaran terkuat, terkokoh, terhebat. Bukan diri, ilmu, ataupun hal-hal yang kita daku sebagai milik yang menjadi tempat bergantung. Bukan anak maupun pasangan, bukan kerabat maupun kawan, bukan rekan ataupun atasan. “Aku bertawakkal hanya kepada Allah”, adalah ikrar kepasrahan kita. Bahwa tiap tapak yang terayun serta tiap langkah yang terpijak ini, Allah-lah yang mengatur, mengarahkan, dan menepatkannya.

# Dan akhirnya, “Tiada daya untuk menghindar dari maksiat dan keburukan, serta tiada kekuatan untuk menunaikan ketaatan dan meraih kebaikan; melainkan dengan kuasa dan pertolongan Allah.” Inilah kealpaan kita yang mudah tergoda, maka hanya dari Allah pembentengannya. Inilah kerawanan kita yang dalam bahaya, maka hanya dari Allah perlindungannya. Inilah kemalasan kita yang sering tak hendak, maka hanya dari Allah semangat dan kemampuannya. Inilah kelembekan kita yang tak menjangkau, maka hanya dari Allah penggapaiannya.

# Demikianlah, di lapis-lapis keberkahan, tiap helaan nafas, tiap detakan jantung, dan tiap denyutan nadi terjalani dengan asma Allah, dengan tawakkal pada Allah, dan dengan pengakuan bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali dengan karunia Allah. Sebab kita mengerti, pengakuan atas ketakberdayaan di hadapan Yang Maha Jaya adalah sumber kekuatan yang tak pernah kering, tak pernah habis, dan tak pernah berakhir. [ Salim A. Fillah dalam Rajutan Makna ]

# Mari kita tunaikan panggilan Allah , kita sholat shubuh berjamaah, karena sholat shubuh berjamaah seperti beribadah semalam suntuk

# Untailah doa saat keningmu masih menyentuh sajadah. Jangan lupa selipkan doa untuk saudara2 kita yang berada di Gaza , #PrayForGaza#

Selamat menunaikan ibadah Sholat SHUBUH DAN SELAMAT BERPUASA

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: