NALAR PUBLIK TERCEDERAI: Asian Games 30 T, Pertemuan IMF-BANK DUNIA 810 M, Lombok 548 tewas hanya dikucurkan 38 M Oleh: Natalius Pigai.

COPAS
*******

Berikut ini ada tulisan Pak Natalius Pigai, Komisioner Komnas HAM asal Papua.
Saya dapat tulisan ini dari WAG.
Membacanya membuat dada makin sesak, betapa tidak, di negeri dimana NASIONALISME dan PATRIOTISME diukur dari seberapa keras anda berteriak “Saya Indonesia!! Saya Pancasila!!”, ternyata “harga” 500an lebih nyawa manusia dan ribuan lagi yang hidup menderita bak menggelandang, tidak lebih mahal dari ongkos produksi sebuah video pendek berdurasi 30 detik yang hanya menampilkan khayalan tentang seorang politikus yang seakan hebat dengan motor gede-nya.

Di negeri ini, menjadi tuan rumah rapat tahunan “rentenir” kelas dunia jauh lebih dirasa terhormat ketimbang memanusiakan anak bangsanya sendiri.

Dan… Saya Pancasila, ternyata sila kelima “KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA” menjadi sama khayalnya dengan adegan “motor terbang” yang bagi sebagian pemujanya adalah aksi heroik.

#LombokBencanaNasional

*******

Copas 👇👇👇

NALAR PUBLIK TERCEDERAI:
Asian Games 30 T, Pertemuan IMF-BANK DUNIA 810 M, Lombok 548 tewas hanya dikucurkan 38 M

Oleh: Natalius Pigai

Gempa yang mengguncang Lombok meluluhlantakkan infrastruktur vital, menghancurkan ribuan rumah/gedung. Jumlah korban tewas mencapai 548 jiwa. Aktivitas perekonomian dan pemerintahan macet. Belum lagi suasana kebatinan masyarakat. Meski sedemikian parah, pemerintah baru mengucurkan dana Rp38 miliar. Jumlah ini lebih kecil dari bantuan pemerintah untuk pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia Oktober 2018 sebesar Rp810 miliar dan Asian Games Rp30 triliun. Hal ini
dinilai tidak adil.

Adalah adanya bentuk ketidakadilan terkait anggaran untuk korban gempa di Lombok NTB yang hanya puluhan milar rupiah jika dibandingkan dengan bantuan pemerintahan untuk acara seremonial yang mencapai ratusan miliar rupiah adalah potret nyata dan ketidakpedulian Pemerintahan Jokowi saat ini. Hal ini semakin membuktikan pemerintah tidak adil terhadap orang-orang miskin dan korban bencana alam yang saat ini sedang menderita. Bahkan pemerintah cenderung meninabobokan orang-orang kaya dan kaum elit.

Potret ketidakpedulian terlihat dari distribusi anggaran dimana soal-soal ceremonial menghabiskan anggaran begitu fantastis, seperti pertemuan bank dunia mencapai Rp850 miliar dan 30 T untuk Asian Games yang diselenggarakan secara besar-besaran di atas penderitaan rakyat Indonesia.

Pemerintah harus tahu bahwa bencana alam di Lombok telah menjadi perhatian dunia internasional, termasuk para atlet yang saat ini sedang berlaga di Asian Games.

Pemerintah tentu memastikan adanya pemenuhan kebutuhan hak asasi termasuk sandang, pangan dan papan untuk korban bencana alam. Upaya-upaya pemenuhan remedial bagi korban termasuk korban gempa di Lombok menjadi urgensif. Oleh karenanya rakyat pantas kecewa pada Jokowi yang harusnya secara jujur menyampaikan kepada peserta Asian Games bahwa bangsa Indonesia sedang dalam musibah. Hal itu dilakukan agar menimbulkan simpati dari atlet negara-negara lain. Tindakan seperti itu wajar sebab kita berada di milenium kemanusiaan dimana pilar-pilar HAM dan intervensi kemanusian telah menjadi nilai universal tiap negara.

Gempa NTB telah merusak segalanya termasuk korban nyawa yang tidak sedikit jumlahnya maka termasuk bencana besar sehingga penanganannya harus diambil alih pemerintah pusat dengan managemen termasuk pendanaanya. Oleh karena itu sudah wajar jika pemrintah mengumumkan Bencana Nasional. Pernyataan bencana naaional tidak terpengaruh pada Lombok baik investasi dan destinasi wisata karena bencana alam ini sudah tentu diketahui oleh publik di seluruh dunia. Tidak ada alasan yang lebih kuat untuk menghindari tanggungjawab pemerintah dengan alasan investasi dan pendapatan dari sektor pariwisata selain empati Kemanusian.

Peristiwa Lombok adalah peristiwa kemanusian dengan kerugian yang diterima sesuai rilis BMKG maka kerugian lebih dari Rp7 triliun Sementara pemerintah hanya membantu Rp38 miliar.

Berpedoman pada pengalaman gempa Aceh, Yogyakarta dan lainnya idealnya sudah punya pengalaman cukup untuk bekerja secara sistemik, terkordinasi, cepat, tepat dan maksimal. Baik pada fase darurat paska gempa, fase rehabilitasi dan recovery semua aspek kehidupan sosial ekonomi dan infrastruktur masyarakat.

Hari ini nalar publik tercederai dengan kebijakan darurat penanganan gempa Lombok di tangan Jokowi yang mengecilkan suasana kebatinan masyarakat Lombok yang sedang sedih. Memang ironi di negeri kemanusiaan yang adil dan beradab.

Natalius Pigai, Aktivis Kemanusiaan

Lombok irawati umar

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: