REVOLUSI KEMANUSIAAN RASULULLAH SAW

Muhammad super star

 

REVOLUSI KEMANUSIAAN RASULULLAH SAW
26 Juni 2014 pukul 6:29
Revolusi Kemanusiaan Daripada Rasulullah SAW .

Disadur kembali oleh
Ki H DR. Ihwan Natapradja
Ketua Yayasan SAWALA KANDAGA KALANG SUNDA
© 2014

Alhamdulillah,
Nahmaduhu wa nasta’inuhu, Wastagfiruh wa na’udzubihi min syururi anfusina,
Man yahdillahu fala muhdillalah, Wa man yudhil fala hadiyallah,
Wa ashadu anla ilaha ilallahu, Wahdahu la syarikallah, Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu
Ya nabiya bad’a.

Qulillahi fil Quar’nul Karim:

Laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasantul liman kanay arjullaha
wal yaumal-akhira wa zakarallaha kasira

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(Q.S. Al Ahzab, 33: 21)

Kaum Muslimin rahimakumulllah!

Dalam rangka mengambil hikmah dari Maulid Nabi Besar Muhammad saw marilah kita panjatkan salam dan shalawat, agar senantiasa selalu tercurah kepadanya. Beliau sebagai khatamanul anbiya, sudah jelas akan kebesarannya, bukan saja karena nama beliau selalu disebut oleh ummat Muslim di seluruh dunia. Karena jika hanya disebut namanya saja, banyak sudah nama-nama besar yang disebut-sebut dalam abad ke-21 ini, banyak sudah nama-nama takoh dunia yang dibesarkan oleh umat manusia. Tetapi junjunan kita ini yang telah menunjukkan mujijat, lahir, hijrah dan wafat pada hari yang sama, Rasulullah saw bukan saja manusia besar, bukan saja pemimpin besar, beliau adalah seorang Nabi dan Rasull, manusia yang mendapat wahyu dari Allah SWT.

Sejarah menunjukkan, bahwa di dunia ini pernah lahir manusia-manusia yang namanya besar, sejarah dunia penuh dengan nama-nama besar. Memang benar, manusia besar dan hebat tidak dilahirkan setiap hari, tidak setiap tahun, tidak setiap windu, tidak pula setiap dekade, tetapi mungkin setiap seratus tahun sekali muncul manusia besar, tetapi meskipun demikian di dalam sejarah dunia kita mengenal benyak sekali nama-nama besar.

Tetapi Muhammad lebih besar dari pada semua manusia besar, lebih besar dari pemimpin besar, oleh karena itu beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Bukan saja mendaptkan wahyu, tetapi mendapatkan mujijat dari Allah SWT. Maka dari itu pantaslah Muhammad menjadi contoh, suri teladan yang baik bagi kita, karena beliau mendapat bimbingan dari Allah SWT, karena mendapat wahyu sudah tentu luput dari pada kesalahan, beliau adalah “faultless”.

Seyogyanya Rasulullah menjadi contoh bagi kita semua, contoh dalam usaha menbangun masyarakat yang adil, sejahtera, sentausa aman dan damai. Masyarakat yang dicita-citakan oleh kita semua.

Marilah kita renungkan sejenak amal perbuatan dan usaha Rasulullah saw pada pembinaan ahlak, pembinaan mental, pembinaan batin, di mana ia telah mencurahkan hidupnya 100% untuk masalah ini. Simaklah ayat-ayat Al Qur’an yang ditutunkan di Mekkah, hampir keseluruhannya bermakna mengenai penguatan batin manusia. Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah berisikan pembangunan mental dan ahlak, “mental preparation”, atau “mental investment”, oleh karena itu jika kita menjalankan atau hendak membangun masyarakat kita tidak boleh meninggalkan “mental investment” ini. Jangan hanya mempersiapkan “investment of human skill” saja atau SDM tetapi juga dengan “mental investment”, persiapan ahlak.

Sedangkan ayat-ayat yang diturunkan di Madinah berisikan hukum-hukum dan peraturan, karena di Madinah itulah terbentuknya Negara, terbentuknya masyarakat. Negara dan masyarakat yang memerlukan peraturan-peraturan dan tatanan, sehingga kita sebut “Masyarakat Madani” atau “civil society”.

Kembali kepada persiapan mental tadi, inilah yang dimaksudkan dengan “retooling” dari pada batin, atau “retooling” dari pada jiwa kita.

Kaum Muslimin Rahimakumullah!

Masya Allah, betapa hebatnya Nabi Muhammad yang dengan dasar persiapan batinnya, seluruh hidupnya dipersembahkan di atas persada “amal”. Bathinnya telah dipersiapakan atas dasar arkanul iman, atas kepercayaan kepada Allah SWT, kepada malaikat-malaikat, kepada para Nabi dan Rasul, kepada kitab dan ajarannya, percaya kepada kabar takdir dan percaya kepada hari kiamat.

Di atas dasar batin yang kuat ini seorang seorang penulis Barat mengomentari bahwa Muhammad adalah “Made of Thunderbolts”, Muhammad itu dibuat dari pada zat-zat petir. Di atas kekuatan batin dan keimanan inilah timbul amal dengan tiada hentinya, hidup Muhammad tiada lain adalah rangkaian amal dan perbuatan.

Apakah arti pembangunan ahlak itu? Tiada lain dari pada AMAL. Dapatkah kita membangun dengan hanya memeluk lengan baju? Dapatkah kita membangun hanya dengan duduk termenung? Dapatkan kita membangun hanya dengan tafakur dan menghitung tasbih? Tidak. Membangun adalah amal, amal dan amal. Amal di atas dasar batin yang kuat.

Subhanallah, Muhamamd telah dijanjikan oleh Allah SWT, akan adanya kejayaan, kemenangan dan hasil gemilang dari pada amal-amalnya.

Firman Allah: ”Aku tidak menyia-nyiakan amal-amalan yang beramal.” (Q.S. 3:195)

Siapa yang lebih benar dari pada Allah, dan Allah selalu menepati janji. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? (Q.S. At Taubah, 9:111)

Pernahkah Allah ingkar janji? Sabda Allah adalah selalu terjadi. Allah menjajikan Muhammad akan kemenangan di dalam peperangan. Allah menjanjikan kejayaan kepada Muhammad, Allah menjajinkan kemakmuran kepada Muhammad, Allah menjanjikan keberhasilan kepada Muhammad. Lalu apakah Muhammad karena ada janji Allah yang pasti dan terlaksana lalu dia berdiam diri, duduk termenung menunggu penebusan janji Allah Itu? Tentunya tidak!!

Meskipun dijanjikan Allah SWT, beliau tetap berjuang, beramal, dan beliau menggerakkan semua sahabatnya untuk betempur di medan perang. Beliau tetap beramal, berbuat, bekerja, berjuang, berusaha meskipun telah dijanjikan suatu kemenangan dan keberhasilan.

Inilah contoh ketabahan batin yang paling hebat, contoh bahwa kekuatan batin adalah dasar dari pada amal. Allah melaksanakan janjinya atas dasar pelaksanaan amal kita, itulah pelaksanaan dari pada Rahim-Nya Allah kepada kita. Karena Rahman Allah telah dibuktikan kepada kita walaupaun kita tidak pernah beramal.

Ke-rahmanan Allah telah diberikan ketika kita lahir ke dunia, kita belum beramal, tetapi beberapa kebahagiaan dan kenikmatan telah diberikan oleh Allah SWT, antara lain: penglihatan, pendengaran, kemampuhan bergerak, hidung untuk menghirup udara yang segar, mulut untuk mengisap susu ibu dsb. Tanpa amal kita sudah diberi kebahagiaan oleh Allah SWT, itulah rahman-Nya Allah kepada kita.

Tetapi rahim dari Allah SWT adalah ganjaran atas amal perbuatan kita. Jika kita bekerja memeras keringat, kita mengelola tanah dan ladang, menanam padi atau bercocok tanam, tentu akan ada hasilnya, hasil itulah yang disebut rahimiah dari pada Allah. Hasil dari pada amal kita. Oleh karena kita beramal, menggarap tanah, menanam, memupuk, menyiram, berusaha, berniaga, berkarya datanglah hasil daripada jerih payah kita yang membawa bahagia bagi kita dan keluarga.

Jika kita bekerja di atas lapangan perekonomian, perdagangan, dan dilakukan dengan sebaik-baikya, kita akan mendapatkan hasil dari pada perbuatan kita sehingga kita bisa menafkahi keluarga kita. Inilah rahimiah Allah SWT. Jika kita menyebut Allah Rahman Rahim, jangan lupa bahwa rahimiah tidak bisa dipisahkan daripada amal perbuatan kita. Maka dari itu jika kita ingin membangun masyarakat Islam yang berahlak, kita harus ingat bahwa membangun itu adalah beramal, bahwa beramal itu memerlukan dasar bathiniah yang kuat, iman yang kuat, keyakinan yang kuat, dan contoh bathiniah Rasululah adalah yang sekuat-kuatnya untuk dijadikan contoh bagi kita semua.

Semangat Rasulullah adalah ajaran yang benar, semangat ajaran itu adalah membawa kita kepada perjuangan, rela berkorban untuk mencapai maksud dan tujuan kita.

Kaum Muslimin Rahimakumullah!

Kita tahu bahwa Muhammad bin Abdullah dilahirkan sebagai anak yang miskin, sebagai penggembala kambing, dilahirkan di dalam alam padang pasir yang gersang, tetapi akhirnya beliau dapat mencapai puncak ketinggian yang dapat dicapai oleh manusia.

Muhammad bin Abdullah yang masih kecil, kemudian tumbuh menjadi besar, kadang-kadang pada malam hari pergi ke padang pasir, jauh dari perkampungan. Beliau pergi ke padang pasir di dalam keadaan gelap gulita, tidak melihat apa-apa melainkan langit yang membiru dan menghitam di malam hari. Beliau tidak lain seorang yang ummi (buta aksara), tetapi beliau selalu dan dapat membaca kemerlipan bintang di angkasa. Beliau tidak mempunyai guru, kyai dan ustad, beliau adalah ustadnya, kyiayinya dan gurunya sendiri. Beliau membaca keindahan dan keagungan Alam semesta.

Lalu beliau mendapatkan wahyu, beliau didatangi Malaikat Jibril. Hikmah datang ke hadapan beliau, malaikat Jibril datang di hadapan beliau, sehingga di dalam salah satu riwayat terkisah kedahsyatan Muhammad pertama kali didatangi oleh Malaikat Jibril. Beliau melihat ke muka dijumpainya Jibril, melihat ke kanan, dijumpainya Jibril, melihat ke kiri dijumpainya Jibril, melihat ke atas dijumpainya Jibril, melihat ke bawah dijumpainya Jibril, demikian seterusnya sepertinya jutaan wajah Jibril.
Kali inilah turunnya ayat pertama dari Allah SWT yang terkenal yaitu surat Al Alaq ayat 1 – 5:

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.
5 Yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. 96:1-5)

Dengan turunnya ayat-ayat tersebut di atas, Nabi Muhammad mulai mengadakan revolusi kepada manusia, itulah yang oleh Bung Karno disebut revolusi total atau “A summing up of many revolution in one generation”. Berbagai revolusi yang telah beliau adakan di dalam satu generasi, di dalam satu angkatan.

Beliau mengadakan revolusi politik, bangsa Arab yang tadinya terpecah-belah dalam berbagai kubu dan suku, menjadi satu bangsa dan Negara kesatuan yang kuat.

Beliau mengadakan revolusi ekonomi, yang tadinya perdagangan berdasarkan penghisapan manusia oleh manusia, dengan hukum-hukum ekonomi yang beliau adakan menurut bimbingan Allah, maka ekonomi menjadi suatu perekonomian yang adil.

Beliau mengadakan revolusi sosial, antara lain mengangkat derajat kaum perempuan, yang tadinya perempuan dipakai menjadi objek sesksual dan ketidak adilan serta tidak dianggap mempunyai nama dan hak waris, kini mempunyai status yang sangat dihargai oleh Islam.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa salah satu gerakan atau revolusi yang dibangunkan olah Rasulullah adalah revolusi sosial yang sangat hebat. Walaupun kita melakukan kilas-balik seluruh lembaran sejarah dunia, baik di Timur maupun di Barat, baik dahulu maupun sekarang kita tidak akan menjumpai bandingan daripada revolusi sosial yang digerakkan oleh Nabi Muhammad .

Sesungguhnyalah bahwa jasa peninggalan revolusi yang sangat besar ini adalah perubahan akhlak dan jiwa jang diwujudkan beliau dengan perbuatan dan contoh-contoh yang diberikannya sendiri dan yang dicontohkan beliau dengan dasar-dasar pengajaran yang dibawakannya.

Sehingga anjuran dan ajaran Rasul itu mendapatkan keberhasilan dan kemenangan, sukses besar karena segala macam teori perbaikan yang dibawakannya dimulai dari diri beliau sendiri dengan memberikan contoh dan perbuatan dan memperbaiki dirinya sendiri terlebih dahulu. Dasarnya adalah, memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain dan masyarakat. Inilah cara yang paling penting dan pokok dasar dari tingkatan perbaikan ahlak dan budi pekerti. Masyarakat adalah susunan dari berbagai individu, individu ini adalah anggota daripada suku-suku dan bagian-bagian dari masyarakat, maka jika anggota masyarakat itu tidak sempurna maka mustahil akan terdapat kesempurnaan pada masyarakat itu sendiri.

Maka sebelum Allah SWT mengangkat Muhammad sebabagai Rasul yang mulia, sebagai utusan Allah untuk mengajak dan menuntun ummat manusia seluruhnya kepada perbaikan dan keutamaan, terlebih dahulu diri utusanNya itu sendiri dididik dan diasuh serta digembleng dengan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya, sabda beliau:

“Allah yang mengasuh dan mendidik aku, maka disempurnakanNya pendidikanku”.

Firman Allah: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Q.S. Al Qalam, 68:4)

Kemudian barulah beliau menyatkan kepentingannya didatangkan sebagai utusan Allah dengan sabdanya:

“Aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang utama”

Segala macam budi pekerti yang baik dan mulia adalah menjadi sifat dan terdapat di dalam diri Nabi Muhammad , antara lain:

jujur
lurus
benar
tahu akan kewajiban
penyayang
sabar
tahu malu
berani
pandai mejaga kehormatan
rendah hati
pemurah
pengasihani.

Sifat-sifat dan budi pekerti beliau yang tinggi inilah yang dapat menarik hati segenap kawan dan lawan untuk tunduk dan memberikan penghormatan kepadanya dan selanjutnya untuk menuruti pengajaran-pengajarannya dengan patuh dan ta’at. Pada ahirnya mereka sayangi beliau berserta ajarannya itu lebih daripada menyayangi orangtuanya, sanak saudaranya dan kaum keluarganya sendiri.

Pelajaran yang beliau bawakan kini telah berlangsung berabad-abad, dan dengan keluhuran budi dan ketinggian ahlak beliau masih tetap bersinar, terang benderang tidak dapat dipungkiri biarpun oleh mereka yang tidak beriman akan kerasulannya.

Firman Allah:
QAD NA’LAMU INNAHU LAYAHZUNUKAL-LAZI YAQULUNA FA INNAHUM LÃ YUKAZZIBUNAKA WA LÃ KINANAZ-ZÃLIMINA BI ÃYÃTILLÃHI YAJHADUN

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah (Q.S. Al Anam, 6:33)

Dari ayat di atas ada tiga faktor yang terpenting maka revolusi jiwa dan ahlak yang diwujudkan beliau dapat berhasil sebaik-baiknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

PERTAMA – PENGARUH CONTOH YANG DIPERLIHATKAN BELIAU DENGAN AMAL PERBUATAN SENDIRI.

Beliau memberi tuntunan, bimbingan serta pimpinan bukan dengan hanya memberikan teori-teori yang muluk-muluk saja tetapi terutama dengan kenyataan dan perbuatan.

KEDUA – PENGARUH DASAR-DASAR PENGAJARAN YANG DIBERIKANNYA.

Adalah dasar-dasar persamaan, persaudaraan, keadilan dan kemerdekaan yang didatangkan beliau sebagai bagian-bagian bagi kesempurnaan iman membawa pengaruh besar sekali dalam memperbaiki budi pekerti dan dalam menuntun keluhuran jiwa.

KETIGA – PENGARUH ‘AKIDAH DAN KEPERCAYAAN.

Maka kepercayaan akan wujudnya Allah s.w.t., yang tidak bersekutu, yang menjadi raja segala raja, yang kuasa menahan dan memberi, yang kuasa memberi kemanfaatan dan kemudlaratan, yang memandang sama derajat kedudukan semua hamba-hambaNya, semua kepercayaan-kepercayaan ini meninggikan derajat jiwa manusia kearah kemerdekaan yang murni dan membebaskan dari belenggu dan ikatan taklid buta dan mengekor kepada perkataan guru dan membangkitkan setiap amal perbuatan yang dilakukan karena wajahnya Allah s.w.t. semata.

Akidah dan kepercayaan akan wujudnya Allah swt inilah yang membuka jalan bagi ahlak dan budi pekerti yang utama. Sebab barang siapa yang beriman dan percaya akan wujudnya Allah s.w.t. dengan segala sifat-sfat kesempurnyaanya maka akan timbul sifat-sifat sebagai berikut:

TIDAK MELAKUKAN KEDUSTAAN.
Karena perbuatan dusta itu akan dapat disembunyikannya dari mata Allah yang maha mengetahui akan segala-galanya. Maka dengan demikian dengan sendirinya tentulah sifat jujur dan lurus dalam dirinya.

Firman Allah:

LÃ TUDRIKUHUL-ABSÃRU WA HUWA YUDRIKUL ABSÃR, WA HUWAL-LATIFUL-KHABIR

(Allah) tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Allah dapat melihat segala yang kelihatan; dan Allahlah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al Anam:, 6:103)

TIDAK BERSIFAT RIA.
Karena sifat ria adalah perbuatan yang ingin dipuji orang, tentu ia tidak akan munafik atau bermuka dua, karena perbuatan demikian menjauhkan diri dari pada Allah s.w.t. dan akan merugikan dirinya sendiri.

WA NAHNU AQRABU ILAIHI MIN HABLIL-WARID.

Dan Aku lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Q.S. Qaf, 50:16)

MEMILIKI SIFAT BERANI.
Berani dalam berfikir, berani hatinya, tidak gentar dalam menghadapi maut sekalipun. Karena ia percaya, bahwa yang memiliki segenap jiwa dan raganya adalah Allah s.w.t. sendiri. Dengan begitu selanjutnya timbullah rasa kehormatan di dalam jiwanya dan untuk menghilangkan kehinaan dan kedzaliman.

INNA SALÃTI WA NUSUKI WA MAHYÃYA WA MAMÃTI LILLÃHI RABBIL-‘ÃLAMIN.

Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S. Al Anam, 6:162)

TIDAK BERSIFAT PENGECUT.
Juga menyerahkan diri kepada nasib belaka, tetapi akan selalu berjuang terus-menerus melenyapkan segala kejahatan dan kedurjanaan, baik yang menimpa dirinya maupun yang menimpa orang lain, karena Allah tidak menyukai kejahatan dan kedurjanaan.

TIDAK AKAN BERSIFAT BAKHIL DAN SERAKAH.
Sebaliknya ia akan memiliki sifat pemurah dan pengasihani, karena ia percaya bahwa rezeki penghidupan itu adalah datang dari pada Allah s.w.t. dan Allah memberikannya kepada hamba-hambanya dengan tiada terbatas.

INNALLÃHA YARZUQU MAY YASYÃ’U BI GAIRI HISÃB.

Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (Q.S. Ali Imran, 3:37)

TIDAK BERSIFAT EGOIS.
Tidak mementingkan diri sendiri, sebab demikian berarti menghambat ummat manusia yang lain untuk turut mengecap nikmat karunia yang dirutunkan Allah s.w.t. untuk bersama. Syarat peri-kemanusiaan sebagai manusia adalah dengan adanya perasaan santun dan kasih sayang terhadap sesamanya serta rukun dan damai dengan keluarganya, tetangganya, bangsanya dan umat manusia seluruhnya.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al Anbiyaa, 21: 107)

MEMILIKI PERGAULAN YANG BAIK
Ia akan rukun, damai, slaing kasih-menyasihi “silih asih, silih asah, silih asuh”. Saling hormat-menghormati, sebab sifat-sifat yang demikian adalah kesempurnaan dari pada iman dan sebagai tanda kepatuhan kepada Allah s.w.t. yang memuliakan kedudukan manusia dan mengangkatnya sebagai khalifah fil ardi, utusan di muka bumi, the manager of the universe.

Kepercayaan Islam yang disampaikan Rasulullah s.a.w. yang ditanamkannya sedalam-dalamnya dalam jiwa para sahabat, pengikutnya, alim-ulama dan guru-guru kita semua adalah merupakan tiang sendi yang terbesar dalam mendirikan perbaikan dan perubahan masyarakat. Dari situlah bersemainya hidup rohani yang luhur dan budi pekerti yang utama di dalam diri setiap Muslim.

Di dalam masyarakat di mana berkuasa ‘aqidah suci semacam ini niscaya fikiran, akhlak, budi pekerti dan amal perbuatan orang tak mungkin dapat dipengaruhi oleh kebendaan dan niscaya akan terhindar dari bencana sebagai yang dideritai oleh kita sekarang (krisis moral), karena merajalelanya pengaruh kekuasaan dan kebendaan (materialistis).

Demikanlah indahnya dan mulianya budi dan ahlak orang yang menjalankan pengajaran dan petunjuk yang dibawa Rasulullah Memang, Islam adalah agama pergaulan yang menghendaki kebersihan lahir dan batin dan yang menuntut tiap-tiap orang patuh dan takut hanya kepada Allah s.w.t. semata.

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Yang terakhir Beliau mengadakan revolusi budaya (Cultural revolution). Yang tadinya kebudayaan Arab adalah rendah sama sekali, kini sudah mendapat pancaran keindahan jiwa daripada Agama Islam, budayanya naik sehingga sampai sekarang kita masih kagum akan keluhuran budaya Islam di Granada, di Kairo, di Istambul, di Samarkand dan lain-lain. Singkatnya, Muhammad telah mengadakan revolusi kemanusiaan!

Revolusi ini dikerjakan oleh seorang ummi, seorang yang miskin, seorang yang buta aksara, tetapi hanya sekadar dapat membaca bintang di angkasa. Kita bisa bayangkan, tatkala beliau menyendiri di tengah padang pasir memandang ke angkasa dengan jutaan bintang yang gemerlapan, bahwa di situ manusia merasa dirinya sangat kecil. Sangat kecil dibandingkan dengan besarnya Karya Agung Allah SWT. Apalagi kalau kita pikirkan apa yang ada di balik bintang-bintang itu. Tidak boleh tidak kita tidak dapat sampai kepada apa yang dinamakan Allah SWT. Kita tidak bisa dan tidak mampu mengukur Dzat Allah SWT, seorang ulama mengatakan Jangan mencoba mengukur Dzat Allah SWT, kamu sendiri akan hancur lebur jikalau mencoba untuk mengukurnya.

Jika kita analisa dari sudut pandang sejarah, tidak bisa seseorang menulis sejarah salah satu Negara tanpa menulis nama pelaku sejarahnya sebagai “The Great Man” (Manusia Hebat). Seorang pakar bernama Thomas Caryle berkata “History is the Biography of great men”, Sejarah adalah riwayat hidup dari pada orang-orang besar.

Misalnya, kita bicara sejarah Amerika, pasti menyinggung George Washington atau Kennedy, kita bicara sejarah Inggris, pasti menyinggung Disraeli, kita bicara sejarah India, pasti menyinggung Gandhi dan Nehru, kita bicara sejarah Perancis pasti menyinggung Napoleon Bonaparte, kita bicara sejarah Mesir, pasti menyinggung Gamal Abdel Nasser, kita bicara sejarah Indonesia pasti menyinggung Hayam Wuruk, Sultan Agung bahkan Soekarno, dan sebaginya.

Tetapi nama Muhammad, dia bukan tergantung kepada sejarah Arab saja. Muhammad bin Abdullah adalah sejarah satu jaman. Bahkan bukan satu jaman tetapi sekalian jaman, oleh karena itu kita mengetahui bahwa ajaran yang dibawa oleh Muhammad adalah satu ajaran buat sekalian jaman.

Dan tiadalah Aku mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al Anbiya, 21: 107)

Maka pelajaran yang paling tinggi yang harus kita ambil dari Beliau adalah justru oleh karena beliau diangkat oleh Allah SWT di atas sebenarnya, di atas tarafnya manusia biasa. Mengambil contoh beliau yang tidak mungkin salah, kita harus menuruti segala contoh yang beliau berikan. Inti daripada contoh yang beliau berikan adalah bahwa segala perbaikan itu, segala apa yang kita kehendaki tergantung dari pada amal manusia sendiri.

INNALLÃHA LÃ YUGAYYIRU MAA BI QAUMIN HATTÃ YUGAYYIRÛ MÃBI ANFUSIHIM

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada dirinya sendiri.
(Q.S. Ar Ra’d, 13:11)

Kaum Muslimin Rahimakumullah!!

Oleh karena itu marilah kita beramal dan selalu berbuat dan berihtiar serta berkarya! Rasulullah yang telah memulai revolusi kemanusiaan bagi kita belum selesai dengan revolusinya. Revolusi Muhammad masih dilanjutkan terus oleh ummat Islam pada umumnya. Tidak diragukan lagi dan tidak susah untuk mengakuinya, bahwa revolusi Islam yang digerakkan Muhammad seribu-empat-ratus-tahun yang lalu belum selesai. Satu tahap besar telah selesai dengan adanya pengakuan Allah, bahwa Islam adalah agama yang benar:

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam (Q.S. Ali Imran: 19)

Tapi untuk membuktikan selanjutnya, dan untuk menyelesaikan selanjutnya, bahwa Agama Islam adalah memang agama yang benar dan yang harus dianut oleh semua ummat manusia, maka seluruh ummat manusia belum menganut ajaran yang benar ini, selama itu pula ummat Islam belum menganggap bahwa revolusi Islam sudah selesai.

AL-YAUMA AKMALTU LAKUM DINAKUM WA ATMAMTU ‘ALAIKUM NI’MATI WA RADITU LAKUMUL-ISLÃMA DÎNÃ.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S. Al Maidah, 5: 3)

Oleh karena itu pula ajaran jihad masih berkumandang, maka selama itu berarti bahwa revolusi Islam belum selesai. Oleh karena itu pula kiranya agar menjadi perhatian ummat Islam betapa mereka dan kita semua harus mengisi waktu ini sebaik-baiknya untuk menanamkan sifat dan ajaran Islam ke dalam dadanya tiap insani. Inilah yang menjadi kewajiban mutlak bagi setiap Muslim.

Islam masih tetap dalam gejolak revolusi. Revolusi Islam adalah menjadikan semua ummat manusia sebagai Muslim. Orang yang percaya kepada Allah, orang yang percaya bahwa menyerahkan diri kepada Allah itulah yang benar. Ingatlah motto ini:

“ISLAM IS NOT A STATEMENT OF BEING, BUT A PROCESS OF BECOMING”

ISLAM BUKANLAH SUATU IKRAR KEBERADAAN, TETAPI PROSES UNTUK MEMBANGUN”

Barokallahu li walakum bil ayati Wal-addikril hakim. Wataqabbala minni waminkum tilawat(i), Innahu huwas-samiul alim.

Assalamu’Alaikum warakhmatullahi wabarakatuh!

Ki H. DR Ihwan Natapradja.

Direvisi, 26 Juni 2014

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: