*Kisah pemimpin yang mulia* By : Darwis Tere Liye

Muhammad segi lima

 

*Kisah pemimpin yang mulia#

Ada seorang pemimpin yang mulia. Pada suatu hari dia menjadi imam shalat. Berbaris rapilah para jamaah di belakang. Tapi shalat itu berbeda dari biasanya, karena dari tubuh imam selalu terdengar bunyi gemeretuk. Aduh, suara apakah itu? Lepas shalat, salah-satu jamaah, sahabat dekat pemimpin bertanya, “Wahai pemimpin kami, apakah engkau sakit?”. Yang ditanya menggeleng, “Saya sehat.”

Sahabat dekat pemimpin ini tetap penasaran, jelas-jelas dia mendengar suara aneh dari pemimpinnya, “Wahai pemimpin kami, apakah engkau sakit?”. Yang ditanya sekali lagi menggeleng, “Saya sehat.” Ah, mana mungkin, sahabat dekat ini mendesak, “Apakah engkau sakit, wahai pemimpin kami?”

Yang ditanya sekarang balik bertanya, “Saya sehat2 saja. Memangnya ada apa?”

Sahabat dekat pemimpin berbicara, “Kami mendengar suara gemeretuk setiap kali engkau bergerak, kami cemas engkau sakit.”

Singkat cerita, pemimpin ini akhirnya membuka baju yang dia kenakan–aduhai, itu baju paling sederhana. Di belakang baju itu lihatlah, ada buntalan kain–itu juga kain sederhana. Di dalam kain itu, bertumpuk kerikil dan batu kecil. “Ini apa, wahai pemimpin kami?”

Pemimpin tersebut melepas buntalan kain dari perutnya. Itu jelas sekali adalah alat pengganjal perut kosong. Lihatlah, pemimpin mereka perutnya tipis, terlihat menyedihkan.

“Wahai pemimpin kami,” Sahabat dekat ini berseru sambil menahan air mata tumpah, dengan suara bergetar, “Apakah engkau tidak yakin, jika engkau bilang lapar, maka kami tidak akan berebut menyediakan makanan untukmu?”

Pemimpin yang mulia ini tersenyum, “Tentu saja kalian akan melakukan apapun untukku, wahai sahabat. Tapi apalah yang akan kukatakan kepada Allah nanti, jika aku sebagai pemimpin menjadi beban bagi orang yang dipimpinnya. Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah untukku. Agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia, terlebih di akherat.”

Itulah pemimpin yang amat mulia.

***

Siapa pemimpin yang mulia itu. Kita semua tahu sekali.

Seharusnya teladan inilah yang diambil siapapun yang memimpin sekarang. Bukan sebaliknya, mobil banyak, rumah di mana2, tanah di mana2, rekening puluhan milyar (yang baru ketahuan setelah ditangkapi KPK).

Mari direnungkan teladan terbaik ini, jangan bergegas, tapi, tapi dan tapi, yang hanya menjurus ke pembelaan diri. Semoga bermanfaat.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: