Agar Rumput Kita Selalu Tampak Hijau Ditulis oleh Rizki Lesus

Dengki MAS

Buruk sangka

 

Agar Rumput Kita Selalu Tampak Hijau
Ditulis oleh Rizki Lesus

Kita terkadang lupa dengan apa yang dimiliki. Lupa untuk sekadar mensyukuri.
Memang rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Tampak indah dan menyilaukan mata. Hingga tanpa sadar ingin memiliki rumput yang sama dalam pekarangan rumah kita. Timbul pertanyaan dalam hati mengapa mereka memiliki rumput yang demikian menyilaukan mata? Bukankah waktu siramnya sama? Jenisnya pun tak berbeda. Bahkan, saat membeli pada florist yang sama.
Apakah menggunakan pupuk kelas nomor wahid? Pantas saja jika seperti itu. Wong, ia mampu beli setiap bulan dengan harga fantastis sedangkan saya mana mungkin. Gaji ini tidak akan cukup membeli pupuk hebat seperti itu.
Tapi dari mana ia punya uang sebanyak itu. Jangan-jangan ia korupsi, gajinya pasti tak akan jauh berbeda dari saya. Pasti ia main kongkalingkong di kantornya. Pasti ia main mata. Pasti ia. . . . Pasti ia. . . .
Pikiran-pikiran itu merasuki kepala kita. Iri mulai menjangkiti. Suudzon adalah pintu gerbangnya. Susah melihat orang senang. Cemburu buta. Tak suka apabila seseorang memiliki prestasi yang lebih baik dari kita. Bahkan soal memelihara rumput sekalipun.
Kita terkadang lupa dengan apa yang dimiliki. Lupa untuk sekadar mensyukuri. Kita tak pernah merawatnya. Membuatnya lebih baik dibanding orang lain. Malah jatuh dalam labirin iri hati, suudzon, dan cemburu sosial tingkat tinggi.
Apakah Anda pernah mengalaminya? Misalnya soal pekerjaan. Kita sering bertanya mengapa ada seseorang yang memiliki rejeki lebih banyak dibanding diri ini. Pikiran kita mengawang-awang pada sesuatu yang absurd. Menuduh korupsilah. Menuduh kongkalikong dengan bosnya. Berbisnis yang kotorlah. Na’udzubillah.
Tak pernahkah kita bertanya mungkin seseorang itu shalat tahajudnya lebih baik dari kita? Bangun malam lantas berdoa sesegukan pada Allah mengadukan nasibnya. Shalat dhuhanya lebih istiqamah dari kita. Menyempatkan waktu bermesraan dengan Allah dikala kesibukannya yang segudang.
Jika kita juga sudah melakukan hal serupa, bagaimana dengan kelakukan keluarganya? Mungkin saja istri mereka selalu mendoakan suaminya agar Allah selalu melindungi dan memberi keberkahan. Puasa sunnahnya tidak pernah terlewat. Anak-anaknya selalu mengaji dan mendoakan ayahnya agar mendapatkan rejeki halal yang diridhai oleh Allah. Pernahkah terlintas dalam benak soal seperti ini? Tanyakan dalam hati.
Selama ini kita selalu terjerumus pada lubang yang sama. Iri hati dan tak pernah bersyukur dengan apa yang dimiliki. Padahal Allah sangat membenci pada orang-orang yang tidak pernah mensyukuri nikmat yang Ia berikan. Allah akan selalu membuat orang-orang ini gelisah. Ketakutan dan selalu merasa kurang. Rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau. Bersyukur lantas bertanya kepada diri sendiri adalah obat paling mujarab agar kita selalu merasa rumput di halaman rumah kita selalu tampak hijau.
Allah telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rejekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan (QS An-Nahl: 112).

(disarikan dari ceramah Ustadz Budi Prayitno yang terekam oleh media)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: