PRABOWO PRESIDENKU, INI PESTA, RAYAKANLAH!

 

PRABOWO PRESIDENKU, INI PESTA, RAYAKANLAH!
Salam sejahtera untuk kita semua.

Pilpres 9 Juli adalah pesta, pesta demokrasi namanya. Aku melihat KBBI, dan pesta (n): perjamuan makan (bersuka ria dsb): perayaan. Sementara demokrasi (n): sistem pemerintahan rakyat. Jadi jelas di sini, bahwa pesta demokrasi adalah perayaan jamuan makan untuk merayakan pemerintahan atas nama rakyat yang dirayakan dengan suka ria dan bersama.

Link: http://kbbi.web.id/pesta dan http://kbbi.web.id/demokrasi

Lalu kenapa ada hujat, ada sikut bahkan ada fitnah? Aneh, bukan?

Sebagai suatu perayaan, pesta demokrasi, sedikitnya harus memiliki tiga hal. Pertama, makan bersama. Kedua, rasa suka cita dan bahagia. Terakhir, doa.

Mulailah tanamkan dalam pikiran kita, ”Carpe diem! seize the day! Rayakanlah, jangan memfitnah! Bersenang-senanglah, jangan terpecah belah!” Saya melihat banyak wacana dan isu tidak benar, dan berlebihan.

Kampanye itu adu visi dan misi. Sebagai pemilih aktif, kita harus melihat kedua kandidat secara benar dan teliti, siapa pihak di belakangnya, siapa pengusungnya, dan tentu saja, visi dan misi mereka terhadap kemajuan bangsa.

Ingat puja-puji media massa, hanyalah satu pintu. Kita butuh pintu lain atau jendela, agar rumah kita cukup udara. Dan saya tidak percaya media massa. Setelah saya membaca banyak media, justru saya melihat polesan dan kosmetik berlebihan. Sebagai media tandingan, saya sering melihat media sosial dan tentu saja, obrolan warung kopi. Di forum inilah, obrolan visi dan misi Indonesia jauh lebih menarik dari yang ada di televisi. Sungguh!

Untuk orang kecil —ojek, petani, pedagang, buruh pabrik– mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin negara aman, ekonomi stabil, sandang papan pangan terbeli, susu dan sekolah anak terbayar. Jika mereka sakit, mereka bisa berobat. Orang kecil tidak meminta serba gratis, tidak sama sekali. Mereka justru lebih suka ke dokter swasta daripada ke puskesmas, karena mereka ingin sembuh. Saat saya tanya ke mereka, ”Bukannya di puskesmas juga ada dokter dan gratis?” Mereka jawab, ”Antri dan siapa bilang di Puskesmas gratis.”

Orang kecil menganggap pesta demokrasi adalah pesta sesungguhnya. Pesta di mana mereka ada bahan obrolan, debat kecil-kecilan, guyonan dan bahkan terhibur dengan tingkah laku para politisi saat mendukung capres dan cawapresnya. Benar saja, saat Pilpres ini, warung kopi sungguh ramai dan saya sendiri terhibur.

Prabowo tangan

Setelah menimbang banyak hal, saya mantap memilih Prabowo. Saya tahu pilpres dengan dua calon adalah ajang perang satu lawan satu. Begitu banyak firnah, black campaign, negative campaign dan saling hujat adalah strategi meraih simpati masyarakat. Dengan dua calon saja, hati-hati! Tidak semua fitnah berasal dari kubu lawan. Bisa saja fitnah itu muncul dari kubu sendiri, melukai diri sendiri, agar dapat simpati. Kita harus jeli dan tidak mudah percaya dengan wacana yang muncul ke permukaan.

Kenapa saya pilih Prabowo? Penasaran ya!

Pertama, saya bukan orang bodoh. Saya punya mata, telingga, otak dan hati. Dan berdasarkan keyakinan itu, saya percaya Prabowo adalah pilihan yang tepat pilpres tahun ini. Dia dicintai rakyat Indonesia apa adanya.

Prabowo huruf

Kedua, Tantangan negara Indonesia lima tahun ke depan tidak mudah. Reformasi berjalan dengan baik dan ini butuh diteruskan. SBY adalah presiden yang baik dan cemerlang di mata saya. Dan ini butuh diteruskan. Saya percaya Prabowo Hatta dapat meneruskan yang baik dan memberi perhatian untuk yang belum baik.

Ketiga, satunya kata dan perbuatan. Sampai detik ini, Prabowo adalah misi yang harus dibuktikan. Saya merasa saatnya Indonesia memilih dia, setelah dua kesempatan lepas darinya. Inilah karakter yang benar. Bahwa seseorang itu bersungguh-sungguh atau tidak dengan perjuangannya adalah ketika dia telah gagal dan tetap bangkit dan tidak menyerah. Karakter kuat, tegas, pantang menyerah, berwawasan tinggi dan meluas, dihormati serta punya keinginan kuat untuk membawa Indonesia sejahtera.

Prabowo AA

Keempat, US gives a sign. Benar bahwa saya memilih Presiden yang tidak disukai Amerika dan sekutunya. Indonesia telah lama, menjadi ladang kemakmuran Amerika dan sekutunya. Kekayaan alam diekploitasi oleh mereka. Segala macam kebijakan diendors oleh mereka. Maka sudah saatnya, Indonesia menentukan pilihan sendiri, putra terbaik bangsa ini, untuk kemajuan dan kesejahteraan Bangsa Indonesia.

Meski sekarang Amerika membenci Prabowo, dan tidak memperbolehkannya ke Amerika, tapi kita tunggu sebentar. Saat Prabowo terpilih jadi Presiden Indonesia, maka Amerika akan memberi visa A1 untuknya. Saya percaya itu.

Link: http://www.pemimpinbaru.com/Prabowo/amerika-janji-berikan-visa-jika-prabowo-terpilih.html

Kelima, saya tidak suka pencitraan. Saya bertemu dengan banyak orang hebat. Mereka hebat, bukan saja karena mereka pintar, saleh, bijak, cerdas, jujur tetapi mereka tak terlihat. Jika ingin melihat karakter seseorang yang sesungguhnya adalah saat tak ada seorang pun melihat, bukan justru saat dilihat banyak orang. Sekarang ini, media telah luar biasa mencuri ruang ruang privat manusia. Seakan tidak ada celah sama sekali untuk menghindar, dan selamatlah orang-orang yang jauh dari moncong kamera wartawan.

Saya pikir lima alasan saya ini cukup untuk membuat saya tidak beralih ke calon lain. Bahkan saya percaya banyak pembaca blog saya yang akan menerima logika sederhana dengan premis sederhana yang saya tuliskan. Toh, jika memang tidak sejalan dalam pemikiran. Ingatlah, ini pesta! Mari bersenang-senang dan tetap bergandengan tangan! Kita adalah saudara, dan sebagai saudara, ukhuwah tetap di atas segalanya. Siapa tahu lima tahun depan, kita saling setuju dengan pilihan saya ini.

Sebagai santri dan penulis maka tiada lain yang saya ikuti, Kyai, ustad dan para penulis senior yang tentu sangat memberi pemahaman dan penguatan dalam membuat pilihan. Dan ternyata Kyai saya dan penulis yang saya kagumi juga memilih Prabowo, bukan yang lain.

Sekarang ini, dari pada melihat berita di televisi, saya lebih suka melihat acara komedi bernilai di televisi. Pilihan saya cuma dua: ILK dan StandUpComedy. Dari Kang Maman, Cak Lontong, Abdur, dan lain sebagainya, saya belajar mentertawakan hidup sambil mensyukurinya.

Akhirnya, selamat berpesta. Jangan sia-siakan hak dan kewajiban kita untuk negeri ini. Ibu pertiwi yang selalu kita cintai. Jika bukan kita, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? Bersama Prabowo-Hatta, Indonesia berjaya.

Berikut ini beberapa gambar yang saya ambil dari beberapa sumber, dan semoga memberi gambaran betapa Pilpres adalah pesta demokrasi yang positif demi kemajuan negeri.

# Penulis adalah Mahfud Aly, penulis, santri, ayah dan suami. Selain sastra, penulis juga aktif menulis kritik sosial, pendidikan, politik dan lingkungan serta perlindungan hewan langka. Silahkan temui dia di @alytera_tion atau FB: Mahfud Aly Haidar Manan.

prabowo-hatta

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: