SEPERCIK RENUNGAN (2): Tentang “Pilpres”. Oleh: KH.Bachtiar Ahmad

Kejujuran

kejujuran Umar RA

 

SEPERCIK RENUNGAN (2): Tentang “Pilpres”.
Oleh: KH.Bachtiar Ahmad
======================
Saudaraku sebangsa dan setanah air; khususnya yang seiman denganku.

Kita telah memilih Capres/Cawapres “yang baik” menurut pikiran kita, sebagai bagian dari keta’atan yang telah Allah wajibkan kepada kita. Sedangkan hasilnya serahkan saja pada keputusan dan kehendak Allah Ta’ala.

Saya ingin mengajak dan mengingatkan kita semua, bahwa jika kita tidak punya kepentingan apa-apa dalam “pilpres” tersebut, selain daripada hanya sebagai orang beriman yang ta’at kepada aturan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang diperintahkan Allah dan Rasul-NYA; Maka saya ingin mengajak dan mengingatkan kepada kita semua, bahwa walau hanya sekadar “emosi/perasaan”; jangan libatkan diri kita dalam persoalan yang ada; apalagi ikut-ikutan menyebar “ghibah dan fitnah”. Sebab yang demikian itu pada akhirnya bisa menggerus bahkan merusak amal ibadah kita; lebih-lebih lagi dalam bulan suci Ramadhan yang mulia lagi penuh berkah ini. Ingatlah selalu akan peringatan Allah Ta’ala:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S. Al-Israa’: 36)

Kita juga perlu senantiasa ingat, bahwa ketika salah satu dari mereka sudah terpilih menjadi Presiden/Wakil Presiden di negeri Indonesia yang kita cintai ini, maka untuk kehidupan dunia dan akhirat yang akan kita jalani; buruk ataupun baiknya tetap bergantung pada usaha dan ridha Allah kepada kita. Bukan pada siapa-siapa dan juga “mereka”.

Seperti yang pernah saya sampaikan; soal “jujur atau tidaknya” mereka; Allah lebih mengetahuinya dari kita; dan biarlah Allah melakukan rencana dan kehendak-NYA atas apa yang menjadi niat mereka. Mari renungkan apa yang dikatakan oleh “Amirul Mukminin” Umar bin Khattab r.a berikut ini (dan semoga para Capres/Cawapres tersebut juga ikut membacanya):

“Seandainya “kejujuran” itu akan merendahkan martabatku; dan hanya sedikit yang bisa aku lakukan; maka hal itu lebih aku sukai dari “kebohongan” yang dapat menaikkan posisiku serta banyak hal yang bisa aku lakukan.”

Mudah-mudahan sepercik renungan ini bermanfaat untuk menambah keimanan dan ketakwaan kita semua. Wallahua’lam.

Bagansiapiapi, 13 Ramadhan 1435 H / 11 Juli 2014.
KH.Bachtiar Ahmad.

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: