*** Tugas Utama Suami *** Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Suami dan kewajiban nya

Suami g +

Suami penentu syurga dan neraka

lelaki yg bisa mengubah menjadi sholeha

 

*** Tugas Utama Suami ***

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
SubhanAllah Alhamdulillah Allahu Akbar..

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

MOHON maaf sebelumnya, mungkin kita sering mendengar kata-kata mahligai atau singgasana cinta pada sebuah rumah tangga. Jujur saja saya kurang tertarik dan kurang sepakat dengan hal seperti itu. Karena kita tidak boleh berlebihan mencintai pasangan. Cinta kepada sesama makhluk hanya di tempat yang pas bagi makhluk. Dan cinta penuh kita hanya kepada Allah SWT.

Yang menciptakan, menghidupkan, mencukupi dan menyelamatkan kita adalah Allah. Lalu bagaimana mungkin kita bisa mencintai seseorang habis-habisan? Makhluk itu siapa? Makhluk tidak bisa memberi manfaat sedikit pun pada kita tanpa izin Allah SWT. Sehingga bila terucap kalimat, “Duhai suamiku/istriku, engkaulah segalanya bagiku,” maka ini berarti musyrik dan pasti tidak akan bahagia.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Mahapengampun, Mahapenyayang.” (li ‘Imrn [3]: 31).

Dan dalam sebuah hadit, sahih Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda, “Tiga hal yang apabila manusia melakukannya, maka ia akan merasakan manisnya iman: lebih mencintai Allah dan rasul-Nya daripada sesuatu yang lain, mencintai karena Allah, dan membenci kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu) laksana ia membenci neraka.”

Nah, kepada para suami jangan lebay. Kalau istri saudara kurang menunjukkan cintanya, tapi cinta berat kepada Allah, itu bagus. Karena inilah tugas utama seorang suami. Yaitu mendidik istri supaya benar-benar cinta kepada Allah. Sedangkan cinta kepada suami ala kadarnya saja, cinta kepada sesama makhluk.

Sejujurnya saya sendiri tidak berminat dicintai oleh istri saya habis-habisan. Kepada keduanya saya sampaikan, “Wahai istri-istriku, tidak perlu mencintai saya habis-habisan, karena saya cuma makhluk, cinta sepenuhnya kepada Allah.” Justru saya tidak mau istri saya mencintai saya sampai Allah SWT menjadi kecil di hatinya.

Saya menjadi suami yang keliru dan tidak benar jika istri lebih mendahulukan saya daripada Allah. Lebih berharap dan takut pada saya daripada kepada Allah. Istri saya digigit nyamuk saja saya tak sanggup melindungi. Bahkan seandai saya meninggal setelah ini, rezeki istri saya tetap lancar sesuai dengan rencana Allah SWT. Suami bukan pemberi rezeki, tapi hanya menjadi jalan sebagian rezeki selama ia masih hidup.

Mungkin di antara pembaca ada yang suaminya sudah meninggal. Dan itu salah satu bukti suami bukan pemberi rezeki. Kalau suami pemberi rezeki, ketika suami meninggal, perjalanan hidup sang istri pun selesai sudah.

Jadi, didiklah istri supaya berharap dan takut kepada Allah SWT, bukan pada suami. Supaya cinta kepada Allah. Jangan sampai cinta kepada pasangan atau makhluk mendominasi hati kita, dan mengabaikan Allah. Demikian juga terhadap anak, kita akan selamat kalau bebas dari musyrik. [*]

Wa’alaikum sallam warohmatullahi wabarokatuh.
Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil ‘aliyil ‘azhim. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad. Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: