Ramadhan Akan Pergi… -Sebuah Renungan- by octavianianggi

 

taubat-ramadhan

Ramadhan akan pergi

ramadhan air mata

 

Taubat ramadhan

Assalamualaikum..

Lebaran terhitung beberapa hari lagi. Ya, Ramadhan sebentar lagi akan pergi. Sedih? Pasti. Karena banyak amalan-amalan kecil yang belum sukses untuk dilakukan. Sholat sunnah belum gass pol.. Layaknya manusia lain, yang ada semangat membara di awal Ramadhan, kemudian berakhir hanya serpihannya. Astaghfirulloh. Dan sekarang aku sedang berusaha mengisi kembali ibadah-ibadah, mengejar 10 hari ini, mengejar Lailatul Qadr ini, mengejar ampunan Alloh.

Banyak kesalahan-kesalahan selalu teringat di waktu malam ketika hendak tidur. Ketika pikiran melayang ke beberapa hari, beberapa bulan, bahkan beberapa tahun lalu. Seperti nostalgia pada sejauh ini Alloh masih memberikan nyawa di ragaku, memberikan nafas hingga detik ini, Alhamdulillah. Namun akhlak, sifat, dan taqwa tak kunjung juga dibenah. Istiqomah yang masih maju mundur. Ah, lisan yang tak terjaga, sikap yang semena, emosi yang masih membara dan meletup, sabar yang terpatahkan oleh ego yang hanya sebesar biji dzarah namun menghambur iman semua. Hati yang terkadang mati, tak terisi oleh kalam Alloh, tak terisi lagi oleh semangat mencari cinta-Nya. Ah.. sungguh.. usia begini, layakkah tidak ada progress sama sekali. Bekal apa yang akan dibawa di masa nanti, di padang Mahsyar ketika hanya kita dan amal kita sebagai teman. Ketika hanya raga berbicara tentang kemudharatan selama kita hidup di dunia. Astaghfirullohal’azim.. Terkadang terbayang saat hendak tidur di dalam kegelapan, ah beginikah rasanya. Hanya jasad ini sendiri. Teman dunia kita tak mungkin menemani. Hanya doa yang menghantar kita menuju ke rumahNya. Astaghfirulloh..

Keikhlasan tak pula ditinggali. Dalam hati ini masih ada secuil tinta hitam pada orang-orang yang pernah mendzalimi, yang mencaci, yang memutuskan tali silaturahmi, yang mengganggu, yang tak sepaham dengan kita. Bibir ini belum basah akan dzikrulloh yang seharusnya diucapkan setiap waktu. Bibir ini belum basah oleh senyum ikhlas setiap saat, senyum bahagia bahkan kepada orang-orang yang mendzalimi dan menyakiti, bahkan kepada mereka yang berbuat sesukanya kepada kita. Astaghfirulloh.. Diri ini masihlah berdosa.

Kata maaf.. Maaf masih menjadi sebuah adu gengsi. Mungkin dalam hati bisa memaafkan, tapi tindakan nyata? Ah, siapa aku? Aku, kita, manusia tak ada apa-apanya. Lalu siapa kita? Kita hanya makhluk sombong. Menyalahkan orang lain, padahal diri kita belumlah benar. Tak memaafkan orang lain, padahal diri kita tak pantas termaafkan. Astaghfirulloh… Sekian dan sekian dosa tertabur. Bila dosa ini seperti debu bahkan pasir di gurun, pastilah kita terkubur rata oleh dosa itu! Allahu Akbar… Alloh.. Alloh… Sedangkan siksaan itu nyata ada. Dalam kalam Alloh di kitab suci Quran kita. Itu nyata ada. Bahkan telah diperingatkan kepada manusia sebelum kita. Astaghfirulloh..

Diri ini pun masihlah belajar. Belajar mengingat setiap kebaikan teman, tetangga, saudara, bahkan orang lain. Ya, dengan mengingatnya sedikit saja setidaknya menghilangkan noda hitam di hati. Aku masih belajar. Aku masih berharap aku bisa. Aku pasti bisa. Semoga Alloh membantu dalam jalan istiqomahku, istiqomahmu. Semoga kita semua mendapat berkah di Ramadhan suci kali ini. Semoga bisa kembali suci di Hari yang Fitri. Suci, tanpa noda di hati. Semoga gema Ramadhan selalu bergaung di hati agar menjadi pribadi yang selalu berbenah diri. Aamiin.

Akhir kata. Segala tindak tanduk rupa dari jiwa yang lemah dan rapuh ini, mohon dimaafkan. Mohon maaf lahir dan batin.

Wassalam.

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: