* Belajar Dari Puasa Ramadhan *

Puasa-ramadhan yes no

 

Puasa kita hijau

Puasa ibadah

 

* Belajar Dari Puasa Ramadhan *

Tidak benar jika dikatakan bahwa puasa hanya tidak makan dan tidak minum. Di samping dua hal jasmaniah di atas, puasa juga mempunyai aspek yang tidak kalah penting lagi, yaitu aspek bathiniyah ruhaniyah.

Aspek yang meletakkan ibadah puasa pada tingkat yang lebih tinggi sebagai siklus tahunan yang bertugas membentuk kader-kader muslim dengan kadar ketakwaan yang hakiki.

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah SAW . menggambarkan: “Banyak di antara mereka berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.” Dari sini bisa kita kesimpulan, bahwa di balik rasa lapar dan haus yang kita rasakan saat berpuasa, kita harus bisa menggali hikmah dan nikmat yang tersimpan, agar tidak termasuk pada golongan di atas.

Ibadah puasa menyimpan banyak hikmah yang bila kita gali, bukannya akan berkurang, tapi akan bertambah. Seperti air laut, semakin banyak kita minum semakin haus rasanya. Ramadhan ibarat cermin yang memantulkan apa yang ada di depannya.

Kalau kita menyambut dan menjalaninya dengan baik, maka ia akan baik pada kita. Tapi kalau kita memasang muka masam dan buruk rupa di hadapannya, ia akan menjelma seperti yang kita perbuat di hadapannya. Maka berhias manislah di hadapannya!

Puasa mengajarkan kita kedisiplinan waktu. Disiplin untuk berbuka dan sahur (mewakili kebutuhan biologis kita), disiplin sholat Taraweh (mencerminkan aspek rohaniyah), dan disiplin bangun pagi (mewakili kebutuhan fisikologis).

Kita diajarkan untuk bisa me-manage waktu sebaik dan seefisien mungkin, karena waktu adalah modal kita yang paling berharga. Waktu kita sadari atau tidak akan sangat cepat berlalu, dan adalah hal mustahil bagi kita untuk mengembalikannya.

Maka siapa saja yang ingin hidupnya berarti, hargailah waktu. Bahkan Tuhanpun memberikan posisi yang mulia terhadap waktu. Banyak ayat yang menerangkan tentang urgensi waktu, beberapa di antaranya:

Demi fajar, dan malam yang sepuluh[1572], (QS. Al-Fajr [89]: 1-2)[1572]. Malam yang sepuluh itu ialah malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Dan ada pula yang mengatakan sepuluh yang pertama dari bulan Muharram termasuk di dalamnya hari Asyura. Ada pula yang mengatakan bahwa malam sepuluh itu ialah sepuluh malam pertama bulan Zulhijjah.
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, (QS. Al-Lail [92]: 1-2)
Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), (QS. Adh-Dhuha [93]: 1-2) .

Puasa mengajarkan kita arti sebuah kejujuran. Jujur pada ALLAH dan kepada diri kita sendiri. Karena keduanya adalah modal paling dasar dalam kehidupan. Bisa saja kita berkata “Saya puasa” di depan umum, kemudian di belakang kita makan dan minum sepuasnya. Ia mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi apakah kita bisa membohongi ALLAH Yang Maha Tahu dan diri kita sendiri? Bersikap jujur kepada ALLAH adalah pangkal dan modal untuk bersikap jujur pada orang lain. Kita seharusnya memahami makna dan arti sebuah kejujuran. Bukankah tidak ada yang tersembunyi dari kacamata ALLAH SWT?

Dan Dialah ALLAH (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. (QS. Al-An’aam [6]: 3)
Dan ALLAH mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. (QS. An-Nahl [16]: 19)
Puasa mengajarkan kita meningkatkan rasa peduli dan solidaritas. Dengan puasa kita diajak untuk merasakan pula “belantara” kaum fakir dan miskin yang terbiasa dengan rasa lapar, haus dan dahaga. Sehari makan, sehari tidak. Sense of crisis kita dipacu untuk tidak hanya berkutat alam ranah “keprihatinan pikir” tapi juga merasakan langsung “keprihatinan praktis” nya. Puasa memberikan ruang bagi kita untuk merenung, berpikir, untuk kemudian merealisasikannya alam karya nyata. Bukankah setelah melalui masa kontemplatif sebulan itu kita diwajibkan berzakat? Itulah tindakan nyata!

Puasa juga mengajarkan kita mensyukuri nikmat. Biasanya ketika kita berada dalam kesenangan, menikmati kehidupan yang mapan, kita terkadang lupa untuk bersyukur dan mengingat Tuhan. Tapi, justru kita akan merasakn nikmat dari kenikmatan yang diberikan pada kita, jika kita berada di luar “bingkai” kenikmatan tersebut.

Bila kita sakit, kita akan berpikir tentang nikmat sehat. Ketika kita melarat, maka akan teringat nikmatnya bahagia. Begitu pula ketika kita lapar, kita akan merasakan nikmatnya kenyang. Dan saat kita mengingat nikmat tersebut, kita dituntut untuk bersyukur. ALLAH SWT berfirman:

Jika kalian bersyukur, maka Kami akan menambahnya. Dan jika kalian kufur, sesungguhnya adzab-KU itu sangat pedih. (QS. Ibrahim [14]: 7)
Puasa mengajarkan kita untuk menahan nafsu. Menahan semua keinginan yang tidak sejalan dengan agama dan realita yang ada. Semua manusia tentu tidak lepas dari keinginan, hawa dan ambisi pribadi.

Semua itu adalah fitrah. Tapi Rasulullah SAW. mengingatkan pada kita bahwa nafsu adalah medan peperangan yang besar yang harus kita hadapi. Dan puasa adalah benteng kokoh yang akan membantu kita menahan serangan-serangan nafsu. Siapakah kita berperang? Terutama berperang kepada kemiskinan dan ketidakberdayaan. (cyp)

Sumber: Kang Cepy

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: