# Di Suatu Subuh #

 

Bismilahirohmannirohim awal hari

Matahari dan bulan

Bismilahirohmanirohim

 

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

# Di Suatu Subuh #

Kontemplasi Ramadhan tentang hakikat keberadaan diri

Hening pagi menanti mentari menyibak tirai beledu dengan garis jingga berpendar ungu

Kududuk mencakung di tepian gunung,beri’tiqaf dlm sunyi memenjarakan nafsu menjernihkan hati nurani

menembus angin dingin menerpa, kesada ranpun menyapa,aku rapuh dan butuh untuk bersandar

Di tengah alam nan luas bintang yang besar perkasapun tampak bersahaja

Mengemis cinta menjaja rindu, tak berpunya selain apa yang telah jadi karunia

Lirih lembut embun yg meluruh di muka daun,bertasbih menyambut cahaya pertama yang datang dengan kehangatan Cinta

Tak terbayang saat cahaya pertama lahir ke semesta lalu menyapa membawa kabar tentang akan hadirnya manusia

Dalam plasma yang bergolak berbanjarlah hidrogen sang atom tua yang terhempas dalam pusaran dahsyat yang membuatnya terlompat

Bergelut dalam tumbukan mesra percikkan daya asmara fotonik di bilangan bintang purba yang cantik

Saat itu kelam bersimaharaja,sebelum cahaya cinta telah ada,ia membebaskan gejolak yang hasilkan riak tak bertepi dari dawai yang bernyanyi

Lalu bintang tua melebur asa dalam kabut yang sarat pesona menghablur dan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya tata surya

Lalu hadirlah matahari pertama,lalu lahirlah bumi dengan langit yang sangat jingga,lalu diluar sana kegelapanpun bersemayam

Saat takbir tanpa kata berkumandang bershaf kembalilah anak2 atom yang kini beraneka rupa. Menjadi air,menjadi tanah,dan menjadi manusia

Lalu mengapa kita senang membantah dan memilih kufur tinimbang bersyukur ?

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil ‘aliyil ‘azhim. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad. Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: