CINTA yang TAAT by @jauharalzanki

Harta umar bin khattab

 

Cinta yang bahagia

 

Suami bimbing istri

 

~~~ CINTA yang TAAT ~~~

Ah, bicara cinta memang tiada habisnya. Mulai dari cinta monyet, cinta codot, cinta buta, dan banyak cinta-cinta lainnya. Inilah kisah dahsyat Cinta karena Allah. CINTA yang TAAT, simak yaaaa !!

Assalamu’alaimum sahabatku yang baik hati, sembari menunggu waktu shalat ashar tiba, mari kita sejenak berbincang #CintaYangTaat, moga manfaat.

1. Hening. Diam dan bisu. Lelaki itu menatap wajah istrinya. Tajam. Lekat. Dan kuat. Bola matanya yang hitam menyorot pasti.

2. Niatnya sudah mantap. Tekadnya sudah bulat. Tegas dan membaja.

3. Sang istri duduk di hadapannya. Tanpa suara. Tanpa berkata apa-apa. Hanya dialog melalui sorot mata yang ada di antara mereka.

4.“Kini tiba giliranmu Istriku,” akhirnya Umar bin Abdul Aziz buka suara. “Perbaikan & reformasi Daulah Bani Umayyah sudah kumulai dari diri sendiri

5. Selanjutnya adalah giliranmu. Lalu anak-anak. Lalu keluarga besar istana.

6. Sekarang kembalikan seluruh harta dan perhiasanmu ke kas negara.”

7. Ada seruak yang bergelora dalam dada, menyentak, dan berdetak. Semilir meningkahi sisi hati yang saling bertaut.

8. Ada dua rasa yang saling berebut tempat di pikiran. Menuruti kata hati? Atau mengikuti titah suami? Sungguh membingungkan.

9. “Tidak, Umar!” Akhirnya sang istri mengangkat kepala dan berkata, “Ini semua pemberian ayahku, Abdul Malik bin Marwan.”

10. Mendengar jawaban ini, Umar diam sejenak. Ada bias yang kini dihadapinya. Ada dinding tebal yang mesti dirobohkannya.

11. Ternyata sang istri tak menyetujui permintaannya. “Tapi uang untuk membeli itu semua berasal dari kas negara, Fatimah!” Kata Umar kemudian.

12. Dialog berlanjut. Antara setuju dan tidak setuju terus berseteru. Kadang berjalan datar, kadang tegas dan meninggi.

13. Saling berargumentasi dan menguatkan persepsi demi mendapatkan kebenaran yang hakiki.

14. Umar duduk terpekur. Mendapati kenyataan yang sulit lagi pahit. Ini adalah tantangan.

15. Yang tiada lain justru datang dari orang yang paling dekat dengannya, dari istri yang dicintainya, Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan.

16. Dia adalah putri khalifah Daulah Umayyah sebelumnya. Tepatnya tiga khalifah sebelum Umar bin Abdul Aziz.

17. Tantangan ini sungguh berat. Lantas apakah Umar menyerah?

18. Tidak. Umar tidak menyerah.

19. Umar tidak mundur walau hanya satu langkah. Tetap maju walau bagaimana pun berat tantangannya.

20. Tekatnya sudah bulat. Sudah kuat sekokoh baja.

21. Umar langsung bangkit dan berkata, “Fatimah, sekarang aku sudah bertekad dan tidak akan mundur.

22. Engkau punya dua pilihan: kembalikan seluruh harta itu, atau jika tidak, hubungan kita berakhir di sini!”

23. Terhenyak. Menyentak. Dan membakar. Kesadaran Fatimah dibangunkan oleh sebuah kenyataan yang kini dihadapinya.

24. Sang suami ternyata tak main-main dengan ucapannya. Dengan niatnya. Dengan tekadnya.

25. Hanya ada dua pilihan saja: memilih harta atau berpisah dengan suami?

26. Akhirnya Fatimah memilih bersama dengan Umar, bersama suami tercinta. Melangkah bersama meniti jalan Ilahi. Ya Allah, ridhai kebersamaan ini

27. Mengelola cinta dalam ranah hubungan dua jenis manusia yang berbeda, harus mengikuti aturan main-Nya.

28. Apa yang dikehendaki-Nya, itulah jalan terbaiknya. Apa yang dilarang-Nya, maka segera tinggalkan agar tak membahayakan.

29. Cinta kita adalah cinta yang taat, makanya kita bertaubat. Mendekatkan diri kepada Allah agar kelak mendapat rahmat.

30. Inilah cinta yang dibangun dalam ranah rumah tangga, memiliki nilai ketaatan kepada Allah SWT.

31. Mari ikuti aturan main-Nya agar cinta membawa pada kebahagiaan yang hakiki lagi abadi. DBAS. Dunia bahagia akhirat surga. Allahumma Amin

32. Demikian celotehan tak bermakna dari orang awam tak berilmu. Mohon koreksi kehilafannya. Mohon maaf kesalahannya. Astaghfirullahal’adzim

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: