“Tubuhnya Di-Jilbab-in, Hatinya Di-Bener-in”

Hijab syar'i dan kata 2

Jilbab syari biru muda

Hijab contoh

 

“Tubuhnya Di-Jilbab-in, Hatinya Di-Bener-in”

Bismillah. Assalamu’alaikum.

1. Berjilbab, Apakah Harus Hatinya Dulu?

2. Banyak yang bilang “dijilbabin dulu hatinya,dibenerin dulu. Daripada nanti copat-copot, kasian juga Islam jadi jelek di mata orang.”

3. Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya.

4. “Bagaimana cara men-jilbab-i hati?”
Bukankah hati menjadi tertutup jilbab apabila jilbabnya ada di hati?…

5. Karena hatinya tertutup jilbab akhirnya mereka tidak bisa lagi berpikiran jernih dan benar, sehingga mereka mengatakan seperti itu…

6. Jilbab itu bukan di hati, tapi jilbab itu menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

7. Sebagian Ulama’ mengatakan wajah dan telapak tangan juga wajib ditutup, dan sebagian yang lain mengatakan tidak wajib.

8. Akan tetapi itu sunnah dan lebih afdhal.

9. Yang benar adalah;
TUBUHNYA DI-JILBAB-IN DAN HATINYA DI-BENER-IN,

10. Allah Ta’aala berfirman:
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:

11. “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.

12. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.

13. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59).

14. Kewajibannya, yaitu tubuhnya di-jilbab-in dan hatinya di-bener-in.

15. Seandainya kewajiban yang satu masih belum bisa dikerjakan maka kewajiban yang satunya tetap harus dikerjakan dan tidak digugurkan.

16. Kita memahami betapa beratnya dilema yang wanita alami. pilihan antara dunia ataukah aturan agama.

17. Namun untuk yang sering copot copot jilbab.. karena pekerjaan atau apapun lah itu…

18. Hadits dari Ka’ab bin Iyadh radhiyallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

19. “Setiap umat memiliki ujian. Dan ujian terbesar bagi umatku adalah harta.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan al-Albani).

20. Betapa banyak orang yang berubah menjadi tidak karuan, melanggar syariat, bahkan murtad, gara-gara harta dan harta.

21. Rezeki 100% dari Allah

Inilah konsep yang selayaknya kita tanamkan dalam diri kita, sebagaimana yang Allah tegaskan dalam Alquran,

22. “Tidak ada satupun makhluk yang hidup di muka bumi ini, kecuali rezekinya ditanggung Allah…” (QS. Hud: 6).

23. Di ayat yang lain, Allah juga mengingatkan,

24. “Janganlah kalian membunuh anak kalian karena kondisi miskin.

25. Aku yang akan memberi rizki kalian dan memberi rizki mereka (anak kalian)..” (QS. Al-An’am: 151).

26. Sering kita dengar.. KALAU SAYA TINGGALKAN PEKERJAAN INI, SAYA MAKAN APA?, ANAK, ISTRI SAYA MAU DIKASIH MAKAN APA?

27. Kita camkan dalam lubuk hati kita, rezeki itu datang dari Allah,

28. … sementara kerja yang kita lakukan, sejatinya adalah sebab untuk menjemput rezeki itu.

29. Dan tentu saja, sebab untuk mendapatkan rezeki itu tidak hanya satu, tapi beraneka ragam.

30. Perlu kita sadari, tidak mungkin Allah simpan rezeki salah hamba-Nya sementara dia hanya bisa memperolehnya dengan cara yang haram.

31. Karena jika demikian, berarti Allah telah mendzalimi hamba-Nya.

32. Karena itu, rezeki Allah pasti bisa diperoleh dengan cara yang halal, tanpa harus menerjang aturan syariat.

33. Orang yang kurang memahami prinsip ini, dia akan beranggapan bahwa banyaknya rezekinya murni akan ditentukan oleh upaya & usahanya saja.

34. Akibatnya, dia akan lebih bersandar kepada kemampuannya dari pada kepada Allah.

35. Dia akan berusaha mengambil peluang apapun, agar pemasukannya bisa lebih besar.

36. Tanpa peduli aturan kanan-kiri. Tak heran jika dia beranggapan, jika menuruti apa kemauan syariat, saya gak bakal dapat peluang kerja.

37. Di saat itulah, dunia lebih penting bagi dia, dari pada aturan syariat.

38. Beda dengan orang yang memahami prinsip rezeki ini dengan baik.

39. Ketika dia harus mengalami kegagalan, karena peluang yang ditawarkan bertentangan dengan aturan syariah,

40. Maka akan muncul dalam dirinya bahwa Allah pasti akan memberikan ganti usaha yang lebih baik.

41. Dengan memiliki keyakinan semacam ini, kita akan semakin waspada dalam mencari rezeki.

42. Kalau-pun terjadi kegagalan, spontan dia akan segera berharap kepada Allah.

43. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada umatnya:

44. “Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu telat datangnya,

45. … karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga dia mengenyam jatah rezeki terakhirnya.

46. Tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.”

47. (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan dishahihkan Al-Albani)

48. Dengan demikian, cara dan pola berfikir sebagian dari wanita yang bekerja dengan melepas jilbab adalah cara yang keliru.

49. Ingat, Allah-lah yang memberi rezeki. Kalaupun harapan kita tidak terpenuhi, Allah tetap yang akan menanggung jatah rezeki kita.

50. Semoga manfa’at dari 2 artikel @Kons_Syariah yang disadur oleh kami. Selamat menjalani hari. Assalamu’alaikum.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: