RINDU DAN CINTA By : Darwis Tere Liye

 

Hati berkorban demi cinta

 

Itulah, Nak,

Jatuh cinta itu persis kau naik gunung, tiba2 terjerambab ke dalam jurang dalam, meluncurnya mudah, tapi susah payah merangkak naik kembali.

Jatuh cinta itu persis seperti komputer atau HP kau tiba2 terkena virus, kena-nya gampang, tapi memperbaiki, servis datanya susah kali–bahkan tetap tidak bisa diperbaiki hingga kapan pun.

Jatuh cinta itu sama dengan kau naik mobil cepat, kau gas kencang, jalan landai, tiba2 rem-nya blong. Mobil kau melaju tak terkira, susah payah menghentikannya. Bahkan harus menabrak sana-sini, kau patah hati.

Maka, pahamilah resikonya.

*Tere Liye

 

Hati berbicara kebenaran

 

Rasa sakit di hati itu hanya ibarat kabut di pagi hari. Tunggulah matahari tiba, maka dia akan hilang bersama siraman lembut cahayanya.

Rasa sakit di hati itu hanyalah ibarat kabut pagi.

Tidak pernah mengubah hakikat indahnya pagi. Bahkan bagi yang senantiasa bersyukur, dia akan menari (meski sambil menangis) di tengah kabut. Dan itu sungguh tarian indah. Tarian penerimaan.

*Tere Liye

 

Rindu bertasbih

 

*Sajak UN

Jika cinta adalah pilihan, maka dia persis soal pilihan ganda.

Jika cinta adalah alasan, maka dia persis soal essay.

Jika cinta adalah kesempatan, maka dia persis soal “benar” atau “salah”.

Jika cinta adalah kecocokan, maka dia persis soal mencocokkan daftar A dengan daftar B.

Entahlah. Jenis soal seperti apa cinta ini.
Yang pasti, tidak ada cinta yang tidak pernah diuji, dek.
Dan ketahuilah, semakin tinggi cinta itu, maka akan semakin dahsyat ujiannya.
Jangan mengeluh.
Jangan risau.
Hanya orang2 terbaik yang akan lulus.
Lantas melihat kristal cintanya begitu indah.

*Tere Liye

 

Rindu surga

 

Karena kita tidak bisa melihat penjelasan di hati orang lain, maka bukan berarti penjelasan itu tidak ada.

Karena kita tidak bisa melihat keindahan pada sesuatu, maka bukan berarti tidak ada indah di sana.

Dunia ini dipenuhi dengan hal-hal yang tidak bisa kita lihat.

Coba periksa, ketika orang lain tidak bisa melihat betapa rindunya kita pada seseorang, maka bukan berarti rasa rindu itu tidak ada, bukan?

Ketika orang lain tidak bisa melihat betapa sakitnya hati kita, maka bukan berarti rasa sakit itu tidak ada, bukan?

–Tere Liye

 

Daun tdk membenci angin

 

”Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.

Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.

Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.“

–Tere Liye,

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: