SEJARAH TAHUN BARU MASEHI, PANDANGAN UMAT ISLAM DAN FAKTA TAHUN BARU

Tahun baru gambar G+

Tahun baru hotel G+

tahun baru kondom G+

 

SEJARAH TAHUN BARU MASEHI, PANDANGAN UMAT ISLAM DAN FAKTA TAHUN BARU.
**********************************************

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
SubhanAllah Alhamdulillah Allahu Akbar….

#SEJARAH_TAHUN_BARU_MASEHI..
Sejak Abad ke-7 SM bangsa Romawi kuno telah memiliki kalender tradisional.
Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali perubahan.
Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya.

#Pada tahun 45 SM Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian.
Urutan bulan menjadi:
1) Januarius,
2) Februarius,
3) Martius,
4) Aprilis,
5) Maius,
6) Iunius,
7) Quintilis,
8) Sextilis,
9) September,
10) October,
11) November,
12) December.
Di tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (Juli).

#Sementara pengganti Julius Caesar, yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “Agustus”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.

[Janus. Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan.
#Pertama:
diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang.
Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus.
Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru.

#Kedua:
Karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin.
Di saat itu biasanya pemilihan konsul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur.
Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru.
Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.

#Orang Romawi merayakan Tahun Baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci.
Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus.
Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.
*********************************************

#PANDANGAN_ISLAM..
Firman Allah SWT dalam surah al-Furqan ayat 72, yang artinya:
“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu,
dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”

Dalam ayat tersebut terdapat kata “al-Zur” (perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah).
Menurut Ulama Tafsir, maksud al-Zur adalah perayaan-perayaan orang kafir (Ibn Kasir, 6/130).
Jelas dari pada ayat ini Allah melarang kaum muslimin menghadiri perayaan kaum muyrikin.

Sabda Rasulullah SAW yang artinya:
“Sesungguhnya bagi setiap kaum (agama) ada perayaannya dan hari ini (Idul adha) adalah perayaan kita”. (Sahih al-Bukhari dan Muslim)
Oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan maksud hadis tersebut bahwa dilarang melahirkan rasa gembira pada perayaan kaum musyrikin dan meniru mereka (dalam perayaan).
(Fathul Bari, 3/371).

Sebagai umat islam kita dilarang ikut merayakan / menyerupai kaum musyrik, sabda nabi mengenai hal ini adalah “Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah-laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka.”
(HR. Abu Dawud)

Hadits dan ayat di atas merupakan dasar yang jelas bahwa merayakan tahun baru masehi bukankah perayaan dalam islam dan haram untuk ikut merayakannya.

Tahun Baru Puncak Kemaksiatan
Maksiat tahun baru, tahun baru, puncak kemaksiatan tahun baru
Budaya merayakan pergantian tahun merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Perayaan malam tahun baru menjadi puncak kemaksiatan. Anak-anak muda melakukan hura-hura, pesta narkoba, hingga seks bebas, dengan alasan merayakan malam tahun baru. **********************************************

#FAKTA_TAHUN_BARU….
Hura-hura di malam tahun baru menjadi cerminan bahwa kapitalisme semakin dominan.
Kapitalisme mengutamakan kepentingan kapital, di mana ada dorongan kuat untuk digelar acara-acara hedonis dan hura-hura.
Di balik acara tahun baru ada kepentingan bisnis, mendorong masyarakat untuk membelanjakan uangnya sebanyak-banyaknya.

Tak akan pernah ada manfaat yang bisa kita ambil dari perayaan tahun baru ini, adapun manfaat yang diada-adakan adalah hanya sebatas kesenangan yang tak jelas hukumnya (syubhat).

Dari Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata:
_Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku dan bersabda,
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan.”
Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata,
“Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore, manfaatkanlah masa sehat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.”
(HR. Bukhari)

Pada kenyataannya, pada malam tahun baru dihiasi dengan berbagai hiburan yang menarik dan sayang untuk dilewatkan.
Muda-mudi tumpah ruah di jalanan, berkumpul di pusat kota menunggu pukul 00.00, yang seolah-olah dalam pandangan sebagian orang “haram” untuk dilewatkan.

Sudah sepantasnya umat Islam menghidupkan kembali syiar-syiar Islam.

Hidup di dunia laksana perjalanan, ada awal dan akhir.
Tujuan dalam perjalanan ini adalah kampung halaman kita, surga. Maka sepatutnyalah kita mencari bekal untuk dapat pulang ke kampung halaman tersebut.?

Wa’alaikum sallam warohmatullahi wabarokatuh.
Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil ‘aliyil ‘azhim. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad. Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih.

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: