~~~ Kisah Musafir dan Penjahit oleh Jalaluddin Rumi ~~~ by islamindonesia1

Waktu dan kehidupan

Waktu dan usia

Waktu

Demi Masa

Demi massa

 

~~~ Kisah Musafir dan Penjahit oleh Jalaluddin Rumi ~~~

Alkisah, seorang musafir yang baru singgah di sebuah kota bertanya pada penduduk kota itu, “Di manakah aku bisa menemui seorang penjahit?”

“Penjahit yang baik sudah pergi. Hanya ada satu orang penjahit penipu yang piawai menggunting kain pesanan tanpa terlihat mata” jawab penduduk kota.

Musafir yang baru ini menjawab, ”Tapi aku orang baru. Ia tidak mengenalku, dan aku tidak akan tertipu olehnya.”

Sang Musafir pun menemui penjahit itu dengan membawa kain satin: ”Aku akan menemui raja. Aku ingin kau jahitkan jubah yang indah & berwibawa”

Sang penjahit menjawab, “Tentu saja…apa pun untukmu, Tuan.” Maka mulailah tangannya bekerja, mengukur kain satin itu dari awal hingga akhir.

“Jika Tuan izinkan, aku akan mengukur kain Tuan, tetapi Tuan dengarkan cerita dan kisahku, agar waktu berlalu, dan Tuan tak jemu menunggu.”

Sang musafir menjawab, “Tentu saja, aku baru datang dari tempat yang jauh, berceritalah engkau. Ceritamu akan mengistirahatkan lelah tubuhku.”

Mulailah sang penjahit bercerita mengenai berbagai kisah jenaka & sang musafir pun tertawa. Ketika musafir itu tertawa, ia menutup matanya.

Terkadang penjahit mengisahkan cerita duka. Musafir menangis tersedu-sedu. Ia menutup matanya ketika menyeka air mata yang membasahi pipinya.

Setiap kali musafir menutup matanya, mulailah penjahit itu dengan piawai memotong bagian dari kain satinnya, tanpa diketahui oleh yang punya.

Begitu seterusnya, hingga akhirnya penjahit berkata, “Tuan Musafir… Maaf, kain satin Tuan tak cukup untuk dijadikan jubah kebanggaan Tuan.”

Musafir itu pun tahu, dirinya sudah ditipu, tapi ia tidak pernah menyadarinya. Ketika langkah gontainya ia ayunkan, sang penjahit berkata:

“Berangkatlah, hai orang yang tertipu. Celakalah aku bila berkisah lagi padamu. Kainmu terlalu sempit untuk aku jadikan pakaian…”

“Sungguh aneh kau tertawa, padahal mestinya menjerit kesakitan. Jika kau tahu sedikit kebenaran, maka kau akan menangis & tawamu menghilang”

Melalui cerita tsb, Rumi mengingatkan bahwa kita adalah musafir yang berjalan dari dari alam rahim ke alam dunia, hingga kelak ke alam baqa.

Penipu ulung itu adalah kehidupan dunia kita. Kadang-kadang ia membawakan kepada kita, cerita-cerita yang lucu dan menyenangkan.

Tak jarang kita mabuk dengan cerita dunia. Tanpa kita sadari, waktu pun
menggunting satin kehidupan kita.

Tanpa kita sadari, jatah waktu yang diberikan tidak lagi cukup untuk dijadikan bekal perjalanan.

Tanpa terasa waktu berlari & malaikat maut mulai mengepakan sayapnya di atas kepala, barulah kita menyadari bahwa selama ini kita tertipu.

Marilah kita berusaha menyelamatkan serpihan satin-satin kehidupan untuk kita jahit menjadi pakaian dan jubah kesalehan.

Dengan jubah itu, berangkatlah kita menuju alam keabadian untuk bertemu Sang Raja dari segala raja, yaitu TUHAN.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: