Mengetahui arah kiblat sebelum ‘buang air’, dimanapun kita berada.

 

42

 

Selain Shalat yang dianjurkan untuk mengetahui posisi kiblat, kita juga dianjurkan untuk mengetahui arah kiblat sebelum ‘buang air’, dimanapun kita berada.
Kenapa?

Tidak lain agar tidak terjerumus larangan buang air menghadap/ke arah kiblat.

Sebagian dari kita masih menganggap masalah ini adalah hal yang sepele. Tatkala kita masuk ke kamar mandi atau ke tempat untuk buang air, langsung kita melaksanakan ‘hajat’ kita tanpa memperhatikan adab2nya terlebih dahulu. Padahal menghindari arah kiblat ketika buang air termasuk adab yang sangat penting bagi seorang muslim.

Dalilnya adalah hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu menghadap ke arah kiblat ketika buang air besar maupun buang air kecil, dan jangan pula membelakanginya. Akan tetapi berpalinglah ke arah timur atau arah barat.” (HR. Bukhari dalam Kitab Wudhu’ bab laa yastaqbilul qiblah bibaulin wa laa ghaaithin [144] dan Muslim dalam Kitab Thaharah bab Istithabah [59]).
Abu Ayyub mengatakan, “Dulu kami datang ke negeri Syam, ternyata kami dapati kamar-kamar kecil telah dibangun menghadap ke arah Ka’bah. Maka kami pun berpaling dari arah itu dan meminta ampun kepada Allah karenanya.”

Masih ada lagi amalan2 yang penting bagi kita untuk mengetahui arah kiblat sebelum mengamalkannya. Diantara amalan2 tersebut antara lain adalah meludah dan membuang ingus. Tidak lain agar kita tidak meludah atau membuang ingus ke arah kiblat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang meludah ke arah kiblat, maka ia akan datang pada Hari Kiamat dnegan diludahi di antara kedua matanya.” (HR. Abu Dawud dan ibnu Hibban dari Hudzaifah, dan Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam kitab Shahih Al-Jami’, 6160).

Sedangkan untuk larangan membuang ingus ke arah kiblat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Dibangkitkan orang yang mengeluarkan ingus ke arah kiblat pada Hari Kiamat, (dimana ingus itu) dikembalikan ke wajah orang tersebut.” (HR.Al-Bazzar dari Ibnu Umar, dan Syaikh Al bani menshahihkannya di dalam Shahih Al-Jami’, 2910).

Menguburkan mayit dan menyembelih qurban juga termasuk amalan yang sama, yaitu penting untuk mengetahui arah kiblat. Inilah kesempurnaan agama Islam, dimana tidak ada agama2 selain Islam yang mengajarkan sampai sedetail ini.
Wallahu a’lam.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: