Mungkinkah Hari Ini Akhir Usia Kita Ditulis oleh Rizki Lesus

Kematian 2

Kematian masih hidupkah saya besok

 

Mungkinkah Hari Ini Akhir Usia Kita
Ditulis oleh Rizki Lesus

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang Mukmin. Yaitu, orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. Dan orang orang yang meninggalkan perbuatan sia-sia.” (QS Al-Mukminun :1-3)
Kematian? Selalu saja memperbincangkan soal ini menimbulkan perasaan tersendiri pada hati kita. Entah itu rasa takut, gelisah, ngeri, was-was ataupun bahagia. Jutaan perasaan bakal timbul kala kita bicara soal ini. Tak ada yang menyangsikan bahwa kematian akan datang menjemput setiap insan. Bahkan, bagi mereka yang mengaku tidak percaya Tuhan pun yakin kalau kematian akan datang.
Kalau boleh menebak mungkin kebanyakan dari kita, perasaan yang timbul kala berbicara soal maut adalah rasa was-was. Was-was dengan kehidupan yang akan dijalani selanjutnya di akhirat. Ribuan alasan dapat diberikan untuk menjawab mengapa rasa was-was ini timbul. Mulai dari tidak siap meninggalkan dunia yang fana ini sampai dengan yakin mengatakan kalau kita tidak memiliki bekal untuk dibawa menghadap sang Khalik.
Lho, kenapa tidak memiliki bekal? Bukankah Allah telah memberikan jatah umur yang panjang kepada kita untuk mencari bekal tersebut? Memangnya umur kita selama ini dihabiskan untuk apa? Apa saja yang kita lakukan selama ini di dunia?
Jangan-jangan kita termasuk ke dalam manusia al-laghwu. Manusia yang sering melakukan perbuatan sia-sia. Coba mari kita ingat-ingat, berapa banyak perbuatan sia-sia yang kita lakukan selama ini? Bangun tidur kita tidak bersyukur kepada Allah. Bagaimana kita akan menjalani hari-hari kita jika awalnya saja sudah kufur nikmat? Para pemuda kita kebanyakan menghabiskan usianya hanya untuk hura-hura bukan untuk untuk menuntut ilmu dan meningkatkan budi pekerti.
Ketika bekerja kita seringkali meniadakan keberadaan Allah untuk hadir menghiasi pekerjaan kita. Juga perbuatan sia-sia lainnya yang biasa kita lakukan tanpa sadar. Kita merasa bahwa apa yang kita lakukan selama ini sudah baik dan bernilai pahala di mata Allah. Jika seperti ini memang benar kalau kita tidak akan mempunyai bekal untuk di akhirat kelak.
Kehidupan ini tidaklah dijadikan sebagai ladang amal. Kita terbuai oleh kenikmatannnya yang fana. Hingga lupa bahwa dunia ini hanya tempat singgah, lantas nanti harus meninggalkannya. Kematian itu adalah gerbang untuk menemui Sang Kekasih, kata kaum sufi. Namun mengapa banyak dari kita yang terkejut ketika kematian itu datang?
Dari sekarang mari kita tinggalkan segala perbuatan sia-sia itu. Mulai detik ini kita mulai mengumpulkan apa-apa yang akan kita jadikan bekal untuk dibawa ke hadapan Allah SWT nanti. Bayangkanlah dalam benak Anda jika setiap hari adalah hari terakhir usia Anda. Kita harus mengakrabi kematian itu agar tidak terkejut ketika ia datang menjemput. Kuncinya dengan mengisi hari-hari ketika dengan perbuatan yang mendatangkan pahala dan ridha dari Allah SWT.
“Katakanlah: Maukah kamu, kami beritahukan tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan-Nya, maka terhapuslah amalan-amalan mereka dan kami tidak mengadakan pernimbangan amal bagi mereka pada hari kiamat” (QS. Al-Kahfi : 103 – 105)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: