Menjadi Asing

 

Islam Asing 1

Islam Asing

Asing

 

# Menjadi Asing #

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang ‘asing’.”(HR Muslim)

Hidup dihari seperti sekarang ini memang membingungkan. Berbuat baik dianggap pamer/pencitraan. Shalat rajin dianggap sok suci. Pake kerudung lebar dianggap sok islami. Menolak jabat tangan (lawab jenis) dianggap ini dan itu.

Ya kehidupan sekarang memang membuat kita semua sulit untuk mengambil peran yang baik. Ketika kita menolak untuk pacaran, lingkungan tidak menguatkan. Justru membuatnya semakin berantakan. Kita sulit dan merasa kesulitan untuk menggenggam sesuatu yang sebenarnya mudah.

Kita hidup di mana orang-orang baik diasingkan. Orang-orang yang masih sehat akal dan hatinya dijauhi. Pikiran-pikiran yang bertentangan padahal baik, dianggap menyesatkan. Kita dibuat bingung oleh keadaan. Meski sampai hari ini, aku sendiri selalu percaya bahwa kebenaran tidaklah ditentukan oleh suara terbanyak. Kita dibuat bias tentang mana yang benar dan mana yang salah.

Ketika kita ingin memegang sebuah prinsip tapi kita lemah bila sendirian. Maka carilah orang-orang yang bisa menguatkan. Sama sekali tidak mudah memegang sebuah prinsip hidup yang baik. Kita akan bertentangan dengan masyarakat umum bahkan kadang dengan orang tua kita sendiri.

Kita akan dianggap menjadi orang aneh. Dianggap asing dan kemudian diasingkan. Orang-orang yang berjalan pada jalan-jalan yang tidak biasa. Orang-orang akan melihat sebelah mata. Orang-orang akan memandang rendah. Orang-orang akan mencibir. Biarkanlah, sebab kita percaya bahwa ada Tuhan yang melihat kita dengan mata yang mengasihi dan mencintai.

Bila kita memutuskan mengambil pilihan ini. Menjadi orang asing. Maka kita harus siap di asingkan. Dan percayalah, dipengasingan itu kamu tidak sendirian. Ada aku. Ada orang-orang lain yang akan menjadi teman-temanmu nantinya.

Dan sebenarnya, kita tidak benar-benar diasingkan. Bersyukurlah, pengasingan dari orang banyak itu membuat kita menemukan teman-teman sejati kita. Teman-teman yang memiliki jalan yang sama. Teman-teman yang saling mengingatkan dan menguatkan. Di jalan itu, kamu sungguh tidak benar-benar sendirian.

“Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api.”(HR. Tirmidzi)

semoga bermanfaat.

(c)kurniawangunadi.

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: