Wanita Bekerja, Ibu Rumah Tangga dan Aktualisasi Diri

 

Ibu Madrasah anak

Tangan keluarga

Ibu dan anak2

Ibu S2

 

Wanita Bekerja, Ibu Rumah Tangga dan Aktualisasi Diri

Semalam di grup WhatsApp, seorang kawan bercerita tentang mimpinya. Mimpi yang sederhana saja, mimpi untuk menjadi seorang Ibu Rumah Tangga.

“I just want to be a pious wife and mom.. Ga lebih dari itu.. Ga pingin kerja kantoran..”

Jujur saja saya merasa salut. Mungkin jika yang berkata begitu seseorang seperti saya yang tak punya titel, akan biasa saja rasanya. Tapi kawan saya ini menempuh pendidikannya di luar negri, dengan jurusan yang tidak biasa pula bagi perempuan sepertinya.

Saya sering melihat wanita yang bertitel dan ingin segera mengaplikasikan keahliannya dengan bekerja di luar rumah. Tapi tidak dengan kawan-kawan saya ini. Mereka dengan titel yang berderet dan membanggakan, justru memilih untuk mengabdikan diri di rumah.

Tak sedikit cibiran orang ketika kawan-kawan saya itu memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga. “Sayang ya kuliah tinggi tinggi, ke luar negeri lagi.. Ujung-ujungnya cuma diem di rumah.. Sayang ilmunya.. “ ujar mereka dengan nada menyesalkan.

Padahal jika dicermati, ilmu yang mereka pelajari dulu di bangku kuliah tidaklah sia-sia. Dengan ilmu itu mereka mendidik anak-anak mereka, mengatur rumah tangga mereka, bahkan banyak yang bekerja dengan keahlian yang mereka punyai dari rumah. Sebagai seorang pekerja lepas alias freelancer.

Perempuan mesti menuntut dirinya agar pandai. Ia rumah bagi suaminya, sekolah bagi anak-anaknya dan teladan bagi kaumnya..

Coba bayangkan.. Tetap di rumah, tanpa keluar dari fitrah, lebih terjaga dari fitnah tapi tetap menghasilkan. Enak banget kan? Tak mesti berjubel dengan ratusan orang ketika menuju kantor. Tak mesti berjibaku dengan kemacetan dan stress di jalan, hingga akhirnya pulang ke rumah dalam keadaan lelah.

Apalagi jika suami sudah mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari, apa lagi yang dicari? Teringat obrolan saya dengan suami belum lama ini, ketika saya meminta izin beliau untuk aktif menerima jahitan seperti waktu masih single dulu.

“Aa seneng Neng mau kerja, apalagi bisa bantu-bantu menghasilkan. Tapi sekarang lebih baik Neng fokus aja sama anak-anak, pendidikan mereka, apalagi gak lama lagi anak ketiga kita lahir. Biar urusan pemasukan keuangan Aa yang handle.” jawab beliau.

Sejujurnya, bekerja dan menghasilkan.. it’s not all about money. Bukan hanya masalah uang. Bagi saya pekerjaan saya adalah wadah aktualisasi diri. Ketika tenggelam dalam tumpukan bahan-bahan, benang dan jarum, bahkan ketika dikejar deadline sekalipun, ada kepuasan yang tidak terjelaskan. Inilah dunia saya. Disini saya bisa sepenuhnya mengaplikasikan ilmu yang saya punya, mengerjakan sesuatu yang saya sukai, juga memberi manfaat untuk orang lain.

Tapi kembali kepada komitmen awal sebelum menikah, ketika saya meminta pandangannya tentang bekerja di rumah setelah menikah. Beliau mengiyakan dengan syarat, tidak sampai melalaikan kewajiban saya sebagai istri dan ibu. Jadi saya sadar, kewajiban sekaligus tanggung jawab utama saya adalah mengurus rumah, suami dan anak-anak. Dan saya akan dimintai pertanggungjawaban mengenai itu di hadapan Allah kelak. Selebihnya hanya sampingan saja. Jika kewajiban utama sudah selesai, baru yang sampingan itu saya kerjakan.

Sungguh saya bersyukur menjadi seorang muslimah. Yang dipelihara hak-haknya oleh Islam, yang dihormati dengan kewajiban mengenakan Hijab. Yang dimuliakan dengan penjagaan seorang suami yang tak rela kecantikan istrinya dinikmati oleh mereka yang tidak berhak. Sungguh Islam telah memuliakan kita sebagai seorang wanita. Sebagai permata yang tinggi nilainya. Adakah agama lain yang menjunjung tinggi kedudukan wanita sebagai seorang istri, ibu dan anak, seperti halnya Islam?

Teringat sebuah nasehat yang indah dari Ustadz Zainal Abidin Syamsudin Hafizhahullah ketika ditanya tentang wanita bekerja di luar rumah:

“Ustadz, kenapa wanita tidak boleh bekerja di luar rumah?”

Beliau menjawab :

“Ibu kuliah S-1 itu untuk siapa? Untuk anak sendiri atau untuk anak orang lain? Kan aneh kalau S-1 itu untuk anak orang lain. Tetapi anak Ibu di rumah didik oleh tamatan SD. Apakah ada pembantu yang tamatan S-1..?”

(Diantara faedah “Bagaimana Menjadi Isteri Shalehah” oleh Ustadz Zainal Abidin Syamsudin Hafizhahullah)

Benar yang disampaikan Ustadz, lucu dan aneh bila kuliah S-1, S-2, bahkan S-3 tetapi yang menikmatinya orang lain atau anak orang lain, sedang anaknya diasuh,dirawat dan dididik oleh para pembantu… Tegakah engkau wahai saudariku? Bukankah anak adalah investasi berharga dunia dan akhirat bagi kedua orang tuanya? Sungguh, harta dan karir yang engkau cari di luar sana, masih banyak yang bisa mengunggulimu, namun keberadaanmu di rumah, mendampingi mereka, merawat mendidik dan memperhatikan tumbuh kembangnya setiap saat, tiada yang bisa sebagus dirimu…

wanita bekerja di luar rumah..

~ pagi, hujan rintik-rintik dan secangkir kopi.. And, yes I’m proud of being a full time mom, alhamdulillaah..

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: