FUTUR .

Futur 1

 

Futur penyakit umat

Futur dalam ibadah

 

Futur grafik

 

Ammi Aac
* Edisi: Bainana

Sahabatku…..
Saat engkau futur dari Manhaj al-haq ini setelah nikmat hidayah menyapamu, kemudian engkau melepaskannya seperti engkau melepaskan pakaianmu; boleh jadi engkau akan merasa “bebas” dan “bahagia” dengan dunia keawamanmu yang penuh hura-hura tanpa sekat-sekat pembatas dalam agama.

Namun… Tidakkah engkau sadari, pada saat yang sama engkau sejatinya telah menjual akhiratmu dengan harga yang sedikit. Engkau telah gadaikan keselamatan hakikimu demi kebahagiaan semu yang bahkan engkau sendiri tak mengerti kebahagiaan macam apa itu.

Sahabatku…..
Futur itu boleh. Yakni futur dalam beramal kebajikan yang tidak berhukum wajib. Agama kita pun memahami hal ini. Namun, ada beberapa batasan yang mesti diperhatikan:

1. Futur sementara waktu dari amal kebajikan tidak boleh menyeretmu menuju dosa dan kemaksiatan.

Cukuplah engkau “istirahat sejenak” dari amal-amal kebajikan yang tidak bersifat wajib; namun jangan engkau ganti dengan warna kelam dosa dan kejelekan.

Misalnya, engkau sedang futur, malas membaca Al-Qur’an dan sholat-sholat sunnah. Maka cukuplah itu saja. Jangan engkau beralih kepada musik, hura-hura yang kebablasan, atau hal-hal yang tidak sepatutnya bagi seorang muslim yang mengenal ilmu sunnah.

2. Futur sesaat boleh. Tapi jangan kelamaan. Jangan keterusan. Saat futur, engkau ingin sedikit santai menikmati hidup, insyaAllah tak masalah.

Tapi jangan sampai keblinger dengan kenikmatan hidup yang semu. Segeralah bangkit… Mari berbenah… Menata hati, menghidupkan niat ikhlas… Semangat lagi… Beramal lagi. Karena, betapapun dan seperti apapun kondisi hidup kita, kita tetap harus berbekal demi hidup setelah mati. Kehidupan yang abadi.

3. Futur sebentar boleh. Tapi jangan sampai futur itu mengarah pada futur manhaji.

Jangan sampai isbal lagi, musikan lagi, pacaran lagi, bahkan berkubang bid’ah lagi. Mahkota Sunnah telah terlepas dari kepala. Sungguh betapa merugi.

Pandai-pandailah membawa diri. Pintar-pintarlah melihat apa yang terbaik buat dirimu sendiri, untuk hari ini dan hari nanti.

Misalnya, jadwal ngaji yang cuma seminggu sekali berbenturan dengan jadwal futsal bareng teman-teman; maka di sinilah hati dan imanmu diuji. Apakah engkau akan memilih akhiratmu, ataukah duniamu? Sesekali mengorbankan ngaji demi futsal, mungkin masih bisa dimengerti. Tapi bila selalu dan seterusnya seperti itu?? Tidakkah engaku takut akan mati hatimu??

Mari, Kawan…
Aku mengajak diri pribadi ini, dan juga mengajakmu, untuk kembali ke jalan Allah. Kembali bermajelis ilmu. Kembali pada cahaya iman yang kian hari kian redup.

Usia kian berkurang jatahnya. Kita tidak pernah tahu, besok atau lusa, masihkah raga kita bernyawa.

Saat hari berpulang itu tiba, tak ada yang kita bawa kecuali selembar kain kafan saja. Dimanakah teman-teman yang dulu berhura-hura bersama kita?? Bahkan, bisa jadi, mereka tak menitikkan airmata atas kepergian kita.

Lihatlah masjid itu yang sudah lama tak kau kunjungi. Lihatlah mushaf itu yang sudah lama tak kau sentuh. Lihatlah tumpukan literatur itu yang sudah lama terbengkalai. Sudah terlalu lama engkau “hilang”…….

Kemanakah hatimu, Kawan?

Mumpung sinar itu belum padam. Mari kita hidupkan kembali dengan siraman ilmu dan iman.

Uhibbukum fillah…….
Barakallahu fiikum.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: