TRAGEDI KAPAL TITANIC: PELAJARAN BERHARGA TENTANG KRITIK DAN KESOMBONGAN  – By. Aad Satria Permadi 

TRAGEDI KAPAL TITANIC: PELAJARAN BERHARGA TENTANG KRITIK DAN KESOMBONGAN

By. Aad Satria Permadi

Tenggelamnya kapal Titanic pada 15 April 1912, telah memakan korban korban jiwa sekitar 1.500 orang. Hampir semua korban meninggal karena tidak mendapatkan skoci (kapal penyelamat) yang jumlahnya sangat sedikit. Titanic tidak dilengkapi banyak sekoci karena kapal raksasa ini diyakini oleh produsennya sebagai kapal yang tidak mungkin tenggelam.

Kritikus dan desainer kapal dunia sebenarnya telah mengingatkan soal kebutuhan sekoci yang banyak untuk kapal sebesar Titanic, namun perusahaan pembuat kapal sangat percaya mitos bahwa kapal tersebut tidak akan pernah tenggelam. Bahkan dalam percakapan di film Titanic, nahkoda sempat mengatakan, “Tuhan pun tidak sanggup menenggelamkan Titanic”. Pongah memang, namun itulah faktanya!

Kapal itu kemudian diberangkatkan dari Southampton menuju New York, melewati jalur yang cukup “berbahaya”, yaitu Samudra Atlantik bagian utara. Memasuki samudra Atlantik, kapal TItanic sesekali diperintahkan “gas pool” oleh sang nahkoda. Alasan menambah kecepatan tidak lain karena sang nahkoda pun percaya dengan kesombongan bahwa Titanic adalah kapal yang tidak bisa tenggelam. Menjelang ajalnya, kapal itu menabrak gunung es, dan sang Nahkoda baru sadar pentingnya sekoci yang selama ini mereka anggap sebagai kritik tak berdasar. “Nyinyir”-lah istilahnya sekarang! Singkat cerita, tragedi kapal Titanic pun karam dan meninggalkan ribuan korban jiwa yang terapung di samudra Atlantik.

Belajar dari tragedi Titanic, tenggelamnya sebuah peradaban, diawali dengan kepongahan. Enggan mendengarkan kritik. Kritik selalu dianggap sesuatu yang mengganggu, memecah belah persatuan, dan istilah-istilah sejenisnya.

Indonesia akan bernasib sama dengan Titanic, jika kritikus malah dianggap musuh. Saya kecewa dengan cara rezim Jokowi menghadapi kritikus-kritikusnya. Kritik kadang disebut hoax. Bahkan banyak kasus masyarakat yang mengkritik pemerintah berakhir di jeruji besi dengan tuduhan menebar kebencian. Pemerintah tidak paham, bahwa kritik adalah kasih sayang, seperti sekoci yang menyelamatkan ribuan penumpang Titanic.

Saya coba memahami, mengapa begitu sulitnya penguasa menerima kritik dari rakyatnya sendiri, sampai-sampai presiden punya “tim pembela” yang terdiri dari advokat-advokat. Bahkan salah satu jubirnya yang baru mengancam masyarakat, “kalau salah omong saya perkarakan”. Dan presiden diam saja. tidak menegur ucapan jubirnya itu! Presiden malah memprovokasi pengikut setia nya untuk “berani” pada lawan politiknya.

Saya benar-benar khawatir, pemerintah ini memiliki dictatorship mentality. Ciri khas orang dictator adalah, selalu menganggap kejadian buruk itu berasal dari faktor eksternal. Faktor eksternal ini bisa kejadian alam atau orang lain. Namun kalau ada hal yang baik, menganggap bahwa itu adalah faktor internal. Singkatnya, kalau gagal menyalahkan orang lain, namun kalau ada prestasi diklaim karena dirinya yang hebat, sekalipun itu adalah pretasi orang lain.

Mungkin kita sering merasa geli ketika menteri dan orang partai koalisi mencari kambing hitam eksternal untuk menutupi kegagalanya. Semisal, harga telur naik karena piala dunia, atau yang menaikkan BBM adalah SPBU. Bahkan yang terakhir Sri Mulyani mengatakan, melemahnya rupiah disebabkan karena krisis keuangan di Turky. Sekarang mata uang Turky sudah menguat seperti semula, tapi rupiah kok belum? Intinya, tidak mau bertanggung jawab atas kegagalannya!

Kritikus adalah pihak eksternal, yang selalu menuntut pemerintah bertanggung jawab atas keadaan negara yang semakin bobrok. Artinya, kritikus memaksa pemerintah untuk mengkui, bahwa kejadian buruk pada negara ini disebabkan oleh faktor internal, yaitu faktor kinerja pemerintah itu sendiri. Tentu hal ini tidak disukai oleh rezim yang memiliki mental diktator. Bagi rezim diktator, mengakui bahwa hal buruk yang terjadi sebagai tanggung jawabnya, akan menurunkan harga diri. Mereka merasa terhina, karena tidak mampu membedakan kritik dengan hinaan. Sehingga kritikus pun dimusuhi.

Pemerintah yang demikian, tidak akan mau memperbaiki dirinya, karena bagi mereka, yang harus diperbaiki perilakunya adalah masyarakat. Makanya ketika harga pangan naik, maka solusinya malah menyarankan masyarakat mengubah perilakunya. Sebagai contoh saran dari mentri Puan Maharani ketika harga beras naik, solusinya ibu-ibu diminta diet. Harga daging melonjak, masyarakat yang diminta makan keong. Kali ini adalah kata mentri pertanian. Tidak kalah anehnya, mentri perdagangan menyalahkan piala dunia sebagai penyebab harga telur naik, sehingga sarannya adalah, kalau makan nasi goreng sambil nonton piala dunia tidak usah pakai telur. Intinya, bukan mereka yang harus berubah, tapi rakyatlah yang harus berubah!

Seharusnya pemerintah menganggap, segala macam kejadian buruk menjadi pelecut dirinya untuk berubah. Tidak menuntut masyarakat berubah sebelum dirinya berubah. Seluruh tanggung jawab ada di pundaknya. Dia akan merasa bahwa dialah penyebab keburukan ini terjadi. Pemimpin seperti inilah yang akan membawa kemajuan, karena orang yang maju adalah mereka yang selalu memperbaiki diri. Syaratnya, pemimpin harus menghargai kritik sebagai bantuan masyarakat. Masyarakat membantu melihat masalah pada dirinya yang tidak dapat dilihatnya sendiri.

Makanya, dengan mentalitas seperti itu, janji Pertamina akan bersaing dengan Petronas, adalah hoax yang bisa jadi bahan lucu-lucuan. Bagaimana bisa bersaing kalau enggan memperbaiki diri? Apakah Petronasnya yang akan disalahkan karena lebih maju dari pertamina? Dan buktinya terjadi, alih-alih bersaing, Pertamina dikabarkan merugi dan menjual sebagian asetnya. Bahan untuk kelemahan yang sudah objektif pun, pemerintah mencari-cari cara untuk menghindari kritik dengan menyalahkan pihak eksternal. Ingatkan, kata Mentri Luhut soal rupiah yang mulai terpuruk? Apa kata dia? Bukan rupiahnya yang melemah, tapi dolar yang menguat! Inti dari semuanya adalah, kepongahan penguasa yang tak mau menerima kritik.

Kapal besar Indonesia sedang dibangun, dan membutuhkan kritisisme, agar ketika dilepas ke samudra yang luas, dia mampu menghindari bahaya-bahaya. Dan andaikata harus karam, manusianya bisa diselamatkan sebanyak-banyaknya, sehingga mampu untuk membuat kapal yang lebih baik lagi. Harunya kita belajar dari peristiwa Titanic, bahwa yang menenggelamkannya bukan gunung es, namun kesombongan yang mengabaikan dan memusuhi kritik.

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
Gambar mungkin berisi: meme dan teks
Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
Gambar mungkin berisi: teks

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: