Kelak Kita akan Tahu, Siapa Sesungguhnya Pemilik Uang Ini Ditulis oleh Rizki Lesus

Duit rupiah

 

Kelak Kita akan Tahu, Siapa Sesungguhnya Pemilik Uang Ini
Ditulis oleh Rizki Lesus
[ALHIKMAH.CO]… Pekerjaan saya sebagai anggota dewan kan memang banyaknya sidang. Jadi, simpan sajalah uang itu atau kembalikan ke kas daerah,”

Di tengah hiruk pikuk pergantian materi dan gejolak suara anggota parlemen kita, saya berharap kisah ini benar-benar terjadi. Sahabat saya, seorang aktivis masjid, bertutur pada saya tentang seorang anggota parlemen dari sebuah partai di satu kota di Jawa tengah.

Anggota parlemen yang sangat bersahaja itu tinggal di rumah kontrakan di antara kontrakan tukang bakso, tukang jamu, abang becak dan para pengusaha ‘sangat’ kecil lainnya, yang harus bertarung di tengah ganasnya persaingan ekonomi kapitalis yang hampir tak bermoral.

Tak seorang pun di antara tetangganya kenal betul bahwa Tuan Fulan ini adalah anggota parlemen. Maklum, dia masih tinggal di rumah kontrakan. Bila meninggalkan rumah dia menggunakan angkutan umum. Pakaiannya masih sangat bersahaja, jauh dari gaya serba branded seperti umumnya anggota parlemen atau orang-orang kaya di kelas menengah Indonesia. Karenanya, tetangga pun memperlakukannya seperti orang biasa saja.

Diam-diam tokoh kita ini punya persoalan besar dengan bagian keuangan di DPRD kota. Bukan… bukan karena ia mendapat uang dari mitra kerja untuk lolosnya sebuah aturan yang menguntungkan pihak mitra. Bukan pula karena dia tak dapat mempertanggungjawabkan uang yang diterimanya atas sebuah program. Dia bermasalah karena tak pernah mau menerima honor persidangan-persidangan yang diikutinya. Dia menolak uang sidang.

“Maaf, saya pikir uang yang saya terima tiap bulan dan jaminan fasilitas yang telah diberikan pada saya sebagai anggota dewan, sudah sangat memadai. Jadi saya anggap uang honor sidang itu tak perlu lagi saya terima. Pekerjaan saya sebagai anggota dewan kan memang banyaknya sidang. Jadi, simpan sajalah uang itu atau kembalikan ke kas daerah,” ujarnya saat bagian keuangan memintanya agar segera menerima uang yang telah terakumulasi cukup banyak.
Namun suatu ketika dia tak dapat menolak untuk menerima dari bagian keuangan.
“Bapak menyulitkan kami. Pertanggungjawaban keuangan kita tak mengenal pengembalian dari honor. Kalau mau, semua anggota harus mengembalikannya. Itu pun bukan hal yang mudah. Tolonglah kami. Terima uang ini dan pekerjaan kami yang tertunda hampir satu tahun, akan beres. Percayalah, ini halal dan sesuai dengan undang-undang,” kata bagian keuangan dengan setengah memelas, setengah memaksa.

Akhirnya kali ini dia membawa sekantung uang ke rumah. Diletakkannya uang itu di atas meja makan. Satu-satunya meja yang dimilikinya, yang juga berfungsi sebagai meja baca, meja kerja dan meja makan. Lalu dia mandi.
Usai mandi istrinya bertanya,“Abi, uang siapa sebanyak ini?”

“Abi juga tidak tahu, Ummi. Tapi tunggu sajalah, kelak kita tahu siapa pemilik sesungguhnya uang ini,” katanya ringan. Tentu saja sang istri pun dibuat terheran-heran.
Tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu rumahnya. Setelah dibuka, masuklah seorang tetangga, pengemudi becak, dengan wajah bersedih.
“Maafkan saya, datang malam-malam begini. Sekedar mau berbagi dan kalau ada yang bisa dilakukan, saya minta tolong,” kata tukang becak itu agak pesimis karena dia melihat tetangganya itu hidupnya sama susahnya dengan dia.
Tanpa tersinggung, anggota dewan ini berkata,“Tidak mengapa. Katakan persoalan apa yang sedang Bapak hadapi. Mudah-mudahan Allah memberi jalan keluar.”

“Anak saya sakit sudah berminggu-minggu di rumah sakit. Biaya pengobatannya sangat mahal. Syukur rumah sakit masih mau nerima dan terus mengobatinya. Besok dia sudah boleh pulang tapi saya tidak punya uang buat bayar biaya pengobatan.”
Detik-detik waktu seperti cepat bergulir, dan alhasil tukang becak itu meninggalkan rumah sang anggota dewan, membawa uang sembari mengucapkan ribuan terima kasih. Anggota dewan itu kemudian berkata pada istrinya,“Ummi, itu tadi pemilik sesungguhnya uang yang tadi abi bawa.”

“Dan orang-orang yang di dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa”(QS Al Ma’arij: 24-25)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: