Meski Cacat, Mahasiswa Indonesia Lulus Sempurna di Qatar

 

cacat-mahasiswa-indonesia-lulus-sempurna-di-qatar-140615h-rev140616

Meski Cacat, Mahasiswa Indonesia Lulus Sempurna di Qatar

Muhammed Zulfikar Rakhmat memang terlahir tak sempurna. Sejak lahir dia mengalami gangguan syaraf motorik, sehingga kedua tangannya sulit bergerak.

Dream – “Jangan pernah biarkan kecacatanmu menang.” Itulah pesan yang selalu diingat Rakhmat dari sang ayah. Sebagai pemuda yang lahir dengan kebutuhan khusus, kalimat itu seolah menjadi bahan bakar untuk mewujudkan segala cita.

Pemuda bernama lengkap Muhammed Zulfikar Rakhmat itu memang terlahir tak sempurna. Sejak lahir dia mengalami gangguan syaraf motorik, sehingga kedua tangannya sulit bergerak. Jangankan menulis, untuk memegang sesuatu saja susah. Kondisi itu juga membuatnya gagap, tak lancar bicara.

Namun, di balik segala kekurangan itu, pemuda Semarang ini punya prestasi cemerlang. Bulan lalu, dia lulus dari jurusan Hubungan Internasional di Universitas Qatar. Program sarjana itu bisa dia selesaikan dalam kurun tiga setengah tahun saja.

Soal nilai, jangan ditanya. Dia lulus dengan nilai hampir sempurna: 3,93. Prestasi mencorong ini pula yang membuatnya mendapat beasiswa penuh untuk kuliah ke jenjang lebih tinggi lagi.

Cerita Rakhmat ini membetot perhatian publik di Qatar. Dia bahkan berkesempatan bertemu dengan pemimpin negeri di Timur Tengah itu. Foto wisuda yang diunggah ke jejaring sosial Facebook milik Universitas Qatar langsung mendapat 700 jempol dan juga puluhan pujian.

Meski Cacat, Mahasiswa Indonesia Lulus Sempurna di Qatar

Rakhmat menjalani wisuda (Doha News)

rakhmat Wisuda

Tentu saja semua itu tak dicapai dengan mudah. Karena kekurangan fisik, pemuda dua puluh satu tahun ini sempat ragu akan masa depan. Bukan semalam atau dua, Rakhmat gamang menatap masa depan itu selama bertahun-tahun.

“Ini sangat sulit sebab tangan merupakan bagian tubuh yang penting. Tanpa tangan yang berfungsi sempurna, banyak aktivitas yang tidak bisa saya lakukan atau setidaknya saya lakukan dengan cara berbeda dari orang lain,” kata Rakhmat dikutip Dream dari Doha News, Senin 16 Juni 2014.

“Saat saya merasa down, saya hanya kembali kepada Alquran di mana ada firman yang menyatakan ‘Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan yang Anda bisa lakukan’,” tambah dia.

Perjuangan Rakhmat sungguh tak mudah. Selama bersekolah di Indonesia, dia kerap kali mendapat pelecehan. Mulai olok-olok, penolakan sekolah, hingga tidak bisa mengakses fasilitas umum lain. Dia berkisah, perjuangan mengatasi kondisi itu seolah tak pernah berakhir.

“Banyak sekolah yang menganggap karena ketidakmampuan fisik, saya juga tak mampu secara kecerdasan,” tutur Dia. Rakhmat kecil memang sangat berbeda dengan anak-anak lainnya. Dia selalu butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan segala tugas. Saat itulah orangtua Rakhmat menguatkan hati anaknya.

Masa-masa sekolah sungguh tak mudah bagi dia. Bentuk olok-olok lain yang diterima Rakhmat juga datang dalam bentuk pertanyaan, bagaimana dia meraih cita-cita dengan kondisi fisiknya itu.

“Ada kalanya sekolah sangat menakutkan bagi saya. Meski demikian orangtua saya selalu memberi tahu saya bahwa meninggalkan sekolah berarti sama saja membiarkan kecacatan menang. Saya selalu mencoba untuk berangkat sekolah meskipun mendapat ejekan dan saya yakin ini membuat saya menjadi individu yang kuat.”

Banyak orang menyarankan Rakhmat menempuh pendidikan di sekolah khusus. Namun, sang ayah yang merupakan seorang dokter menolak saran itu. Orangtua Rakhmat terus menyekolahkan anaknya ini ke sekolah umum.

Tes demi tes dijalani Rakhmat untuk menunjukkan bahwa kemampuan akademiknya tidak terganggu. Hingga akhirnya dia mendapat tempat di sekolah Islam terkemuka.

Lulus dari sekolah, dia mempertimbangkan masak-masak kampus mana yang akan dia tuju. Tak hanya soal kualitas, kampus yang menjadi kriterianya tentu harus bisa mengakomodasi kekurangan fisiknya itu.

Pindah ke Qatar

Perjuangan Rakhmat berlanjut saat keluarganya pindah ke Qatar tujuh tahun silam. Hingga akhirnya Cambridge School Doha mempersilakannya menyelesaikan IGCSE dengan level A.

Akhirnya Rakhmat mendapat beasiswa penuh di Universitas Qatar. Dia mengatakan bahwa saat terbaik baginya untuk menuntut ilmu ya di kampus itu. Dia mengucapkan terimakasih kepada dosen dan teman-teman yang telah banyak membantunya.

“Jujur, belajar di Universitas Qatar merupakan masa paling menyenangkan dalam kehidupan akademik saya,” tutur Rakhmad. Di kampus ini pula Rakhmat mendapat banyak kemudahan. Menurut Rakhmat, teman-teman di kampus telah banyak memberikan motivasi.

Saat ini, Rakhmat masih berada di Qatar. Dia tengah sibuk melakukan penelitian untuk organisasi di Indonesia yang fokus pada penyandang cacat di Palestina. Tapi dia segera terbang ke Inggris untuk menempuh program master Politik Internasional di Universitas Manchester.

Cita-cita utamanya adalah menjadi profesor dan peneliti. Dia berharap bisa melanjutkan pendidikan ke program Ph.D setelah program master itu selesai. Dia juga berharap bisa mewakili suara kaum penyandang cacat yang kerap diabaikan oleh masyarakat.

“Ketidakmampuan fisik bukanlah ketidakmampuan sebenarnya. Ketidakmampuan sebenarnya adalah menyerah dengan mudah,” tutur Rakhmat.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: