Wanita yang cantik? Banyaaaaak,, By’Aisha nhz.

 

Ukhti dan akhi

 

Wanita yang cantik? Banyaaaaak,,

Akan tetapi, apakah semua mereka itu mulia dan bahagia dengan kecantikan yang mereka miliki?
Alangkah banyaknya kita lihat wanita cantik tapi hina, tidak sedikit wanita berparas menawan, tapi sengsara!! Na’udzubillah,,
Hal ini mengingatkan kita kepada kisah seorang ratu kecantikan yang akhirnya mati bunuh diri.

Berarti kecantikan fisik tidak menjamin seseorang akan mulia dan bahagia. Karena kecantikan itu akan mengeriput seiring dengan berjalannya waktu, punah seiring dengan datangnya ajal.
Tapi ada satu kecantikan yang hakiki, kecantikan yang tak akan lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan, kecantikan yang lebih anggun daripada rembulan malam, dan kecantikan yang tak akan punah dengan berakhirnya kehidupan. Itulah kecantikan yang dimiliki oleh “ wanita shalehah. “

Wanita salehah adalah wanita yang mampu meraih kemuliaan bukan dengan kecantikan wajah. Bukan pula dengan keelokan tubuh. Tidak juga dengan banyaknya perhiasan.
Dalam Islam, ketiga hal tersebut adalah fitnah (ujian)
bagi wanita, yang disamping bisa membawanya menudju kemuliaan, juga bisa menyeretnya ke lembah kebinasaan. sehingga tidak sedikit kita lihat, banyak wanita yang terjebak dengan anggapan bahwa keelokan fisik adalah segala-galanya.
Mereka menganggap bahwa kemuliaan dan kebahagiaan akan didapat bila berwajah cantik, kulit yang putih, dan tubuh yang ramping. Maka tidak aneh kalau banyak ditemukan wanita yang mati-matian memperputih kulitnya, mengoperasi plastik bagian tubuhnya, menghambur-hamburkan berjuta-juta uang demi mengejar prestise.

Bagi yang tidak mampu, mereka menjadi rendah diri dan merasa tereliminasi dari pergaulan. Padahal, kecantikan dan kemolekan tubuh tidak dapat dijadikan tolak ukur kemuliaan. Lebih jauh lagi, semua itu tidak bisa menjamin seseorang akan bahagia.
Sesungguhnya kemuliaan yang diraih seorang wanita salehah adalah karena kemampuannya untuk menjaga martabatnya (‘iffah) dengan hijab serta iman dan takwa.
Ibarat sebuah bangunan, ia akan berdiri lama jika mempunyai pondasi yang kokoh. Andaikan pondasi sebuah bangunan itu tidak kokoh, maka seindah dan semegah apapun, pasti akan cepat runtuh.
Begitu juga dengan iffah yang dimiliki oleh seorang wanita, dengan iman dan takwa merupakan pondasi dasar untuk meraih kemulian-kemulian lain. Dengan iffah, seorang muslimah akan selalu menjaga akhlaknya.

Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa malu. Sebagaimana terukir dalam hadis Nabi Sallallahu ‘alaihi Wasallam :
” Malu dan iman itu saling bergandengan, jika hilang salah satunya, maka hilanglah bagian yang lain “
Adanya rasa malu, membuat segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan melakukan sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Sehingga dengan akhlak yang dimiliki, ia lebih harum daripada kasturi.

Dengan iffah, seorang muslimah akan sadar betul bagaimana cara bersikap dan bertutur kata. Tidak ada dalam sejarah, seorang wanita salehah centil, suka jingkrak-jingkrak dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi.

Dengan iffah, apapun ibadah yang dilakukan penuh dengan keikhlasan. Ketika memberikan senyuman kepada orang lain, tetap proporsional. (pada tempatnya). Tidak semua laki-laki yang dijumpai diberikan senyuman manis, karena senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain.

Karena iffah, seorang muslimah bisa lebih bersabar dengan musibah-musibah yang menimpa diri, dan tidak pernah mengeluh dan sedih dengan kegetiran-kegetiran yang datang bertubi-tubi.
Karena sesungguhnya ia yakin, indahnya hidup akan terasa dengan adanya kesulitan dan rintangan. Ia sepenuhnya percaya bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan. Ia benar-benar meresapi, bahwa Allah jika mencintai seorang hamba, Dia akan mendatangkan cobaan kepadanya.
Dan siapa yang rela dengan ujian itu, maka ia akan memperoleh ridha dari Allah. Namun siapa yang tidak rela dengan cobaan itu, maka Allah akan murka. Ia akan selalu mengambil hikmah dari setiap masalah dan kejadian-kejadian di sekelilingnya.

Masih banyak kemuliaan-kemuliaan lain yang akan lahir dari kemampuan mendjaga iffah. Itulah pondasi kemuliaan bagi seorang wanita salehah.
Mulialah wanita salehah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan mendjadikannya bidadari di surga.
Kemuliaan wanita salehah digambarkan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam . dalam sabdanya :
“ Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salehah. “
Jika ingin mendapatkan kemuliaan sebagai wanita salehah, maka sesungguhnya kemuliaan itu hanya dapat diraih manakala ia memiliki kemampuan untuk menjaga martabatnya dengan iman, menerima semua karunia yang Allah berikan, menghijab dirinya dari kemaksiatan, menghiasi semua aktivitasnya dengan ibadah, dan memberikan yang terbaik terhadap sesama. Seorang wanita yang mampu melakukan itu, ia akan mulia disisi Allah dan terhormat di hadapan manusia.

Belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmu dari mereka. Kita juga dapat mencontoh kepribadian dari figur-figur mulia yang mendapatkan tempat terhormat di tengah-tengah umat hingga kini.
Khadijah ra. misalnya, yang namanya terus berkibar sampai sekarang, bahkan setiap anak wanita dianjurkan untuk meneladaninya.
Terkenalnya seorang Khadijah bukan karena kecantikan wajahnya, namun karena pengorbanannya yang demikian fenomenal dalam mendukung perjuangan dakwah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam.

Begitu pun Aisyah ra. salah seorang istri Nabi dan juga seorang cendikiawan muda. Darinya para sahabat mendapat banyak ilmu.

Ada pula Asma binti Yazid, seorang mujahidah yang membinasakan sembilan tentara Romawi di perang Yarmuk, hanya dengan sebilah tiang kemah.
Masih banyak wanita mulia yang berkarya untuk umat pada masa-masa berikutnya.

Keharuman dan keabadian nama mereka disebabkan oleh kemampuan mengembangkan kualitas diri, menjaga iffah (martabat), dan memelihara diri dari kemaksiatan.

Sinar kemuliaan mereka muncul dari dalam diri, bukan fisik. Sinar inilah yang lebih abadi. Bagi mereka, fisik hanya perhiasan saja yang pada waktunya akan hancur, sehingga fisik seperti apapun tidak banyak mempengaruhi kehidupan mereka.
Wallahu a’lam bish-shawabi,,
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’alaa memberi kekuatan untuk kita amalkan,, Aamiin
Salam ukhwah fillah
By’Aisha nhz.

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: