ISTRI BERCADAR

 

Terima kasih bercadar ibu

 

Istri bercadar, bukanlah wanita idamanku, dahulu. Selain asing di kampungku, kedua orang tuaku juga tak menyetujui seorang wanita bercadar. Dan kupikir, wanita bercadar hanya kan membuat sekat di tengah-tengah masyarakat, ya lebih eksklusif gitu, pada akhirnya, dakwah pun kan semakin sulit diterima masyarakat. Pikirku.

Waktu terus berputar, dan sedikit demi sedikit, waktu mencoba menyingkap teka-teki jodohku, dan di penghujung masa perjakaku, Allah membiarkan kuhanyut dengan perasaanku, menikah dengan seorang wanita yang tak bercadar. Alhamdulillah.

Kehidupan di dalam biduk rumah tangga kujalani dengan penuh cinta dan bahagia. Kumenikmati hari-hariku bersama sang bidadari yang belum pernah kukenal sebelumnya, dan suatu hal yang lebih membuatku bahagia adalah, kumakin kuat untuk istiqamah berjalan di rel peraturan Allah, dan semakin kuat istiqomahku, maka kebahagiaan semakin merambat di relung hatiku.

Iman datar, dan istiqomah yang biasa-biasa saja, mungkin dirasa kurang istimewa jika itu saja yang dipuasi oleh jiwa, maka sebagai jiwa yang haus akan cinta Ilahi, kan berusaha berproses tuk tampil dengan kesempurnaan di hadapan Khalik, maka tak ayalnya dengan istriku, di tengah perjalanan rumah tanggaku yang masih berumuran jagung, ia merubah penampilannya dengan sebuah alasan, “Kuingin tampil mulia di hadapan Rabku.” Kata istriku, setelah membaca buku Risalah Cadar dalam Fatwa-Fatwa wanita.

Mungkin terlalu naif, jika kuharus melarangnya, sedangkan kumengetahui hukum cadar, dengan pasrah hati dan mengharap kebaikan dari sisi Rab, kubiarkan istriku memakai cadar. Dan kini, tinggal kusiapkan mental tuk menghadapi kedua orang tuaku, karena jika kedua orang tuaku telah menerima, maka persetan dengan ejekan orang lain. Bagiku.

Kujalani biduk cintaku berdua jauh dari sanak keluarga. Kedua orang tuaku pun tak mengetahui penampilan terbaru bidadariku. Dan kumencoba diam menyelinap di antara putaran waktu yang tak pernah lepas dari pengawasan Ar-Rahman sampai berujung pada sebuah waktu yang di mana kedua orang tuaku kan berkunjung ke Makassar menghadiri acara wisuda adik perempuanku.

Pesawat yang kan ditumpangi kedua orang tuaku, sebentar lagi lepas landas. Telepon genggamanku pun berdering dengan isi pesan agar menjemput kedua orang tuaku di Bandara Hasanuddin Makassar. Dengan senang hati, kuiyakan permintaan mereka, namun ada satu hal yang mengganjal dalam benakku, ‘bagaimana kalau kedua orang tuaku tahu kalau istriku telah bercadar?’.

Tak ada cara lain lagi kecuali hanya dua keputusan, ‘melepaskan cadar dan mendapatkan cinta kedua orang tua dan belum tentu mendapatkan cinta Allah’ atau ‘tetap dengan cadar dan insya Allah mendapti cinta Allah dan cinta kedua orang mungkin bisa diusahakan tuk mendapatkannya’.

Seperti itulah dua keputusan yang kuambil dengan istriku, maka dengan pertolongan Allah, istriku memilih tuk tetap bercadar, dan ia hanya butuh dukungan dari diriku, dan aku pun iakan hal ini. Di penghujung pertimbangan, istriku tetap bercadar.

Aneh memang, pada saat istriku berada di bandara, kedua orang tuaku tak mengenalnya, dan malah mengira orang lain ketika istriku mendekati mereka berdua dan mencium tangan mereka. Sedangkan diriku hanya bisa senyum asam melihat adegan itu.

Kami tumpangi Taxi menuju tempat tinggal, sedangkan suasana terlihat kaku. Kedua orang tuaku hanya diam membisu, sedangkan istriku diam dalam tanda tanya, dan aku hanya bisa cuek dengan keaadan, tapi esensinya menyimpan tanda tanya juga, apa nanti reaksi kedua orang tuaku.

Beberapa pekan kedua orang tuaku di Makassar, dan mereka tak menunjukkan reaksi marah atas penampilan kedua istriku. Hatiku telah gembira, bahwa kedua orang tuaku sudah bisa menerima penampilan bidadariku dengan cadar, dan sekarang persetan dengan tanggapan orang lain.

Ternyata kusalah, sekembalinya kedua orang tuaku di Ternate, mereka menelepon dan meminta supaya istriku melepaskan cadarnya. Mereka memuji akhlak istriku, tapi masalah cadar, tak ada grasi. Kuterdiam membisu, dan begitu juga dengan istriku, tapi walau mereka melarang, kini jarak antara kita tak bersama, maka istriku tetap dengan cadarnya.

Aku dan istriku terus berjalan dan berlari di antara putaran waktu di daerah Sulawesi Selatan Kabupaten Bone, aku merasa bangga dengan penampilan istriku, dan istriku merasa makin mantap dengan cadar, sampai pada akhirnya putaran waktu mengantarkan kami berdua pada bulan Ramadhan 1435 Hijriah, dan pada saat itulah kuharus kembali ke Ternate dengan membawa bidadariku.

Untuk pulang ke Ternate, tidak hanya memesan tiket dan menumpangi pesawat, tapi kami harus berpikir, bagaiamana agar istriku tetap bercadar tapi bisa diterima kedua orang tuaku dan masyarakat di kampungku pun bisa menerima hal itu.

Aku dan istriku membuat satu keputusan, bahwa istriku kan menghadapi semua itu dengan budi pekerti yang mulia. Maka sepakatlah kami berdua, dan berani pulang ke Ternate dengan penampilan cadar istriku, dan aku pun merasa bangga dengan hal itu, padahal dulunya kutak menghendakinya.

Setibanya kami berdua di Ternate dan disambuat kedua orang tuaku, kumelihat senyum tak setuju di bibir kedua orang tuaku. Kudiam saja dan berusaha berjalan di lorong waktu yang tak pernah tahu, apa yang terjadi di penghujung sana.

Istrik lalui hari-hari di daerah seribu pulau dan berusaha agar tidak membuat sekat antaranya dan kedua orang tuaku, begitu juga dengan masyarakat setempat. Kujuga merasa bahagia bisa bersama keluarga, ditambah lagi, kedua orang tuaku tak pernah lagi permasalahkan penampilan bidadariku.

Namun, suatu kejadian yang tak pernah kuduga. Ketika istriku sendiri, maka datanglah kedua orang tuaku dan menasehati istriku dengan baik-baik, “Umi, nanti kalau kakak laki-laki Irsun datang, begitu juga dengan ipar laki-lakinya, tolong Umi lepaskan cadarnya ya. Tak mengapa Umi gunakan cadar di luar, tapi tak usah lagi di dalam rumah, apalagi bersama keluarga.” kurang lebih seperti itu kata-kata kedua orang tuaku kepada istriku.

Istriku terdiam, dan setelah itu berdiri dan masuk kamar diikuti dengan rinai air mata yang membasahi pipinya. Ia tak habis pikir, kalau melepaskan cadar di dalam rumah kepada orang yang bukan mahramnya, maka apa bedanya dengan tak memakai cadar di jalanan? Kalau memang seperti itu, maka lebih tak menggunakan cadar sama sekali. Seperti itulah pikir istriku.

Sepulangnya diriku ke rumah, kumelihat mata istriku yang tak pernah bisa berbohong, bahwa ia sedang dirundung pilu, maka kucoba mendekatinya dan bertanya kepadanya dengan baik-baik. Dengan pertanyaanku, ia tak mencari kesempatan tuk menjelekkan kedua orang tuaku, tapi malah ia hanya mencari solusi dari masalahnya, maka pelan kuberbisik kepadanya, “Um, coba pergi pada mereka berdua, dan curhat padanya, seakan-akan itu ibu ayahmu sendiri, ungkapkan perasaan Umi.”

Istriku mencoba saranku, ia pergi di hadapan kedua orang tuaku dan berbicara dengan penuh kelembutan dan budi pekerti, sehingga kedua orang tuaku menaruh iba padanya dan pada akhirnya membiarkan istriku tegar dengan cadarnya, dan kini masyarakat di kampungku pun, bisa menerima cadar, dan malah mereka merasa itu bukan suatu hal yang aneh, dan kini terbantahlah sudah asumsiku, bahwa cadar hanya kan membuat sekat, dan orang-orang kan menjauh dari dakwah ini. Benar-benar memangsalah asumsi itu bagiku.

***

Ah, memang, untuk bisa tegar di atas dakwah, kadang kita hanya butuh mengorbankan perasaan, dan bukan mengorbankan jiwa. Insya Allah.

Dari fb Irsun Badrun
Labuha 29 Agustus 2014

Ket: foto diatas hanya illustrasi.

[Abu Fahd NegaraTauhid]

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: