JAMAAH HAJI SELFIE DI TANAH SUCI DIKECAM

Selfie jemaah haji

 

# Jamaah Haji `Selfie` di Tanah Suci Dikecam #

Perilaku ini dinilai lebih seperti turis, daipada jamaah haji. “Melakukan selfie dan mengambil video seperti itu bertentangan dengan harapan Nabi,” tutur Al-Hakeem.

Dream – Demam selfie juga melanda jamaah haji di Tanah Suci. Para tamu Allah itu ber-selfie di sejumlah tempat bersejarah, mulai Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan tempat-tempat lainnya. Namun, aksi itu dikritik oleh sejumlah kalangan. Mereka dinilai lebih seperti turis, daipada jamaah haji.

“Di Madinah, saya memperhatikan ada keluarga yang menghadap ke arah matahari, mengangkat tangan mereka seperti berdoa. Saya tidak bisa menerka dengan tepat apa yang tengah mereka lakukan. Tapi kemudian saya memperhatikan ada seseorang di hadapan mereka tengah memotret,” kata mahasiswa Islam, Zahra Mohammad, dikutip dari Arab News, Selasa 30 September 20104.

Tak hanya di Madinah, perilaku selfie jamaah haji juga terlihat di depan Kabah. “Saya melihat jamaah di Masjidil Haram melakukan selfie dengan menjadikan Kabah sebagai latar dan selfie itu diunggah ke Facebook membuatnya sebagai acara media sosial dan meruntuhkan makna ibadah,” tambah mahasiswi itu.

Keranjingan selfie di kalangan jamaah haji memang telah mendorong mereka mengunakan telepon seluler di masjid-masjid suci dan tempat-tempat lain untuk mengabadikan momen berhaji bersama teman dan keluarga. Namun perilaku itu diyakini bisa menghambat ketenangan dan kerendahan hati selama proses ibadah haji.

Menurut cendekiawan muslim asal Jeddah, Sheikh Assim Al-Hakeem, hukum fotografi yang dilakukan tanpa dasar manfaat memang masih diperdebatkan. Namun, jamaah hendaknya memahami hakikat ibadah haji. “Ini didasarkan pada ketulusan hati dan sunnah,” kata dia.

Al-Hakeem menambahkan, Nabi Muhammad saat berhaji pernah berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari segala kesombongan. “Melakukan selfie dan mengambil video seperti itu bertentangan dengan harapan Nabi,” tutur Al-Hakeem.

Pendapat serupa juga disampaikan cendekiawan terkemuka, Sheikh Abdul Razzaq Al-Badr. Dia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad saat sudah mencapai Miqat (awal berhaji) selalu berdoa agar ibadah ini tidak menjadi riya atau sebuah ajang pamer.

Permohonan itu, kata dia, diikuti dengan tindakan dan perjuangan melawan hawa nafsu. “Tapi sekarang di Miqat banyak orang yang mengambil foto sebagai kenang-kenangan. Mereka mengambil gambar saat Tawaf, dan Arafah, dan saat melempar Jumrah,” tutur Al-Badr. (Ism)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: