Hijab Bukan Komedi, Sebuah Surat untuk Film “Hijab” Oleh : Raidah Athirah, Penulis, Muslimah, tinggal di Haugeund, Norwegia

Hijab Film .

Hijab Bukan Komedi, Sebuah Surat untuk Film “Hijab”
Oleh : Raidah Athirah, Penulis, Muslimah, tinggal di Haugeund, Norwegia

AWALNYA saya mengira film ini hadir untuk memprovokasi semangat para perempuan Muslim di tanah air untuk berhijab.

Ternyata sebaliknya film ini lebih berisi kritik sosial yang dibuat secara komedi oleh sutradara Hanung Bramantyo. Mengkritik atau dalam istilah Pak Hanung, menggelitik. Nyatanya film dengan judul “Hijab” ini melupakan perjuangan penuh darah dan nyawa para Muslimah yang syahid karena mempertahankan hijabnya.
Walau hanya menonton trailernya, Film ini melukai semangat para Muslimah, terutama para muslimah di Eropa yang berjuang untuk berhijab. Apalagi setelah kasus penyerangan di Prancis. Luka-luka itu masih berdarah. Jadi, hormatilah para Muslimah yang sedang berjuang menjaga harga diri mereka, sebaimana Anda sebagai seorang suami berusaha menjaga harga diri istri Anda dari pelecehan, ketidakhormatan, dan kebencian orang-orang di luar rumah Anda.

Saya seorang Muslimah yang mengingat benar perjuangan ibu, saudari atau teman-teman yang berjuang untuk berhijab di masa ketika prosedur dibenturkan dengan hukum syariat. Banyak di antara mereka yang rela kehilangan pekerjaan demi mematuhi perintah Tuhan daripada aturan manusia. Lebih dari itu, hijab adalah identitas kami. Hijab ini menyatu dalam darah sebagai keyakinan yang teguh.

Pak Sutradara, ini sebuah surat dari seorang Muslimah yang ingin Anda lebih menghargai darah yang telah jatuh ke tanah.
**
Pak Sutradara yang terhormat,
Saya tak perlu menjelaskan panjang lebar tentang kebebasan berkarya, kebebasan seni, atau apalah. Hal yang patut Anda ingat adalah peristiwa-peristiwa hijab yang membuat Anda bersyukur bahwa itu tak pernah menimpa keluarga terutama istri Anda.

Pak Sutradara,
Di luar sana bahkan di sini, di Eropa, para Muslimah mengenakan hijab dengan membawa dua rasa; rasa bangga sebagai Muslimah dan juga rasa ketakutan atas penyerangan-perangan para Islamofobia.

Pak Sutradara, tolong hargai perjuangan para Muslimah berhijab. Saya bersaksi atas perjuangan seorang Muslimah Polandia yang terpaksa kehilangan teman-teman bahkan dikucilkan oleh keluarga lantaran berhijab setelah syahadat yang ia lakukan setelah peristiwa syahidnya Marwa El-Sherbini.
Hijab bukan saja seonggok kain yang menutup kepala atau trend fashion yang timbul tenggelam. Hijab adalah identitas. Hijab adalah nyawa.

Pak Sutradara, bila semua yang saya uraikan masih belum terang, saya ingatkan Anda lagi dengan berbagai peristiwa hijab yang bila itu adalah istri, saudari atau kaum kerabat Anda, niscaya Anda akan berpikir ulang untuk membuat sebuah film komedi tentang hijab. Sebelum menampar pipi orang lain, tampar saja pipi Anda sendiri. Atau tampar pipi istri Anda.Rasa sakit yang timbul tak seberapa dibandingkan rasa sakit jutaan para Muslimah di luar sana.

Pak Sutradara, apakah Anda buta, tuli saat para Muslimah di Eropa menjadi objek penderita lantaran hijab yang mereka kenakan? Di mana para Muslimah yang (dalam beberapa kasus) memakainya menjadi terkucilkan dari masyarakat di mana mereka tinggal—bahkan ada yang siap menjadi MARTIR?

Pak Sutradara….
4 SEPTEMBER, INTERNATIONAL HIJAB SOLIDARITY DAY. Sebuah hari yang diingat untuk memperingati hari-hari luka dan darah perjuangan para Muslimah .
Bukan untuk menangisi kematian El-Sherbini, tapi untuk mengingatkan Anda bahwa kematiannya adalah sebuah perlawanan kepada Islamofobia yang menghina hijab.
Ia seorang ibu muda yang ditikam 18 kali di sebuah ruang sidang di timur kota Dresden, Jerman. Ia ditikam lantaran tak menerima laki-laki Islamofobia itu menghina hijab. Suami El Sherbini pun terluka.
Ia seorang Muslimah terpelajar, seorang apoteker yang dengan berani melawan Islamofobia.
Bahkan sebuah pernyataan dari Majelis Perlindungan Hijab di Eropa memberi sebuah persaksian. “Sherbini bukan hanya seorang martir jilbab tetapi juga korban Islamophobia, dimana banyak para Muslim Eropa menderita,” tegas Abeer Pharaon, ketua The Assembly for the Protection of Hijab.

Kritik Anda yang tertuai dalan film “Hijab” adalah sebuah kritik sosial yang sempit. Think locally! Act Globally! []

Tulisan ini dikutip dari status akun facebook Raidhah Athirah dengan seizin yang bersangkutan.

https://www.islampos.com/hijab-bukan-komedi-sebuah-surat-untuk-film-hijab-159876/

 

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: