DUA WANITA KEPALA DAERAH INI BERBICARA TENTANG PSK. APA PENDAPATMU?

 

Risma surabaya

 

Bupati-kendal-widya-kandi-susanti

 

DUA WANITA KEPALA DAERAH INI BERBICARA TENTANG PSK. APA PENDAPATMU?

Jika sebelumnya kita mengenal sosok-sosok kepala daerah yang fenomenal, karena prestasinya, seperti Jokowi, Ibu Risma atau Ridwan Kamil, kini muncul satu lagi kepala daerah yang bakalan menjadi tokoh fenomenal. Beliau adalah Ibu Widya, Bupati Kendal, Jawa Tengah. Apa yang membuat Ibu Widya jadi fenomenal? Tak lain adalah pernyataannya yang sangat berani, sekaligus kontroversial.

Seperti diberitakan di Kompas.com, Ibu Widya mengatakan bahwa pekerja seks komersial (PSK) adalah pahlawan keluarga karena mereka umumnya bekerja untuk menghidupi keluarga. Dalam kondisi itu, tidak manusiawi jika tempat pelacuran ditutup. Beliau menjelaskan, menutup lokalisasi pelacuran adalah hal mudah. Hanya diperlukan persetujuan DPRD dan berkoordinasi dengan Polres dan Satpol PP. Namun, dampak dari penutupan tersebut sangat sulit diatasi.

“Bisa saja menutup tempat pelacuran, tapi PSK-nya harus diberi pekerjaan dulu,” tegas Ibu Widya. Beliau juga mengatakan, kerap ditemui bahwa para pelacur yang telah dibekali keterampilan menjahit dan pulang ke kampung halaman, tiga bulan kemudian kembali ke lokalisasi. Alasannya, saat menjadi penjahit, mereka kesulitan mencari pelanggan. Sementara pada saat yang sama, mereka harus tetap menghidupi anak-anaknya. “Pernah saya tanya kepada para PSK. Kenapa kembali ke lokalisasi? PSK itu menjawab karena kesulitan mencari pelanggan. Sementara kalau dia menjadi PSK, sehari bisa mendapat lima pelanggan,” tambahnya dengan tawa kecil.

Setujukah anda dengan pernyataan Ibu Widya di atas? Sebelum kita menjawabnya, mari kita bandingkan pernyataan Ibu Widya dengan sikap Ibu Risma, Walikota Surabaya soal PSK. Selain soal kepemimpinan Ibu Risma yang mengagumkan dengan mengontrol langsung di lapangan permasalahan-permasalahan di wilayahnya, Ibu Risma juga dikenal karena keberaniannya menutup komplek lokalisasi Dolly, yang merupakan komplek lokalisasi terbesar di Asia Tenggara.

Nah, mari kita kembali menyimak pernyataan Ibu Widya di atas.

1. Menurut Ibu Widya, menutup lokalisasi pelacuran adalah hal yang mudah. Hmmm, gimana ya kalau Ibu Risma membaca pernyataan ini. Tampaknya Ibu Widya meremehkan langkah Ibu Risma, sebagai hal yang mudah. Padahal langkah Ibu Risma tersebut tidaklah mudah. Banyak tentangan dari pihak-pihak yang berkepentingan terhadap keberadaan lokalisasi Dolly. Ibu Risma pun juga telah memikirkan penanggulangan atas dampak yang ditimbulkan dari penutupan lokalisasi tersebut.

2. Ibu Widya bilang bahwa bisa saja menutup tempat pelacuran, tapi PSK-nya harus diberi pekerjaan dulu. Jika Ibu Widya baru sebatas bicara, ternyata Ibu Risma sudah melakukannya. Untuk menanggulangi dampak-dampak akibat ditutupnya lokalisasi Dolly, Ibu Risma menganggarkan 28 milyar untuk pembangunan di bekas kawasan lokalisasi Sememi dan Klakahrejo. Rencananya, anggaran akan digunakan untuk membangun pasar, sentra pedagang kaki lima, dan sejumlah sarana fasilitas umum lainnya. “Dengan begitu, warga penghuni eks lokalisasi mendapat peluang kerja untuk memenuhi kebutuhan ekonominya,” kata Ibu Risma.

3. Ibu Widya mengatakan bahwa PSK adalah pahlawan keluarga. Hmmm, seriuskah Ibu Widya dengan pernyataannya tersebut. Apakah para PSK benar-benar “menghidupi keluarga” seperti kata Ibu Widya? Nah mari kita simak apa alasan Ibu Risma menutup lokalisasi Dolly. Puncak keyakinan Ibu Risma untuk menutup lokalisasi prostitusi justru tidak terlepas dari perkenalannya dengan seorang pekerja seks komersial yang masih menjajakan tubuhnya walaupun sudah berusia 62 tahun. Suatu kali saat berkeliling ke lokalisasi dan menemui perempuan itu, Risma mengaku heran mengapa nenek itu masih menjadi PSK. Beliau lantas bertanya, “Memang siapa yang sih yang mau (menggunakan jasanya yang sudah tua)?” Jawaban perempuan itu kemudian membuatnya tercengang. “Anak SMP/SMA yang cuma punya seribu dua ribu juga saya layani,” katanya mengulangi kalimat PSK tersebut. Bagi Ibu Risma, hal itu persoalan besar. Dia tidak rela membiarkan lebih banyak ada anak-anak muda di kotanya menjadi korban karena menikmati prostitusi di lokalisasi. Lagi-lagi dia menegaskan, “Saya rela mati demi ini.”

Nah, antara Ibu Widya dan Ibu Risma, secara tidak langsung telah terjadi perdebatan tentang satu hal, yaitu masalah prostitusi. Ketika ibu Risma berupaya menutup komplek lokalisasi Dolly, Ibu Widya mengatakan bahwa menutup lokalisasi prostitusi itu mudah. Ketika Ibu Widya mengatakan bahwa untuk menutup kompleks lokalisasi, terlebih dahulu para PSK harus diberi pekerjaan, Ibu Risma sudah melakukannya dengan menyediakan sejumlah anggaran untuk itu. Dan mungkin masih banyak perbedaan pendapat atau pro dan kontra antara Ibu Widya dan Risma terkait masalah prostitusi.

Akan lebih menarik jika Ibu Widya dan Ibu Risma dipertemukan dalam satu forum untuk memperdebatkan hal tersebut. Dua kepala daerah dengan visi yang berbeda dalam hal penanganan masalah prostitusi. Mungkin MetroTV berminat untuk mempertemukannya di acara “Mata Najwa”? Atau TVOne akan mempertemukannya di acara “Pro Kontra”?

Kalau untuk adu kecantikan, tampaknya Ibu Widya akan memenangkannya. Tapi untuk adu argumen, saya menjagokan Ibu Risma. Bagaimana dengan anda? —

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: