((( Haji dan Memenuhi Panggilan Allah )))

 

Kabbah Baru

Hajaraswad dan hijir ismail

Arafah 1

Sai.

 

((( Haji dan Memenuhi Panggilan Allah )))
sumber:Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr
Terjemah : Ahmad Zawawi
Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad

Sesungguhnya haji adalah bentuk ketaatan yang agungdan ibadah
yang mulia. Didalamnya terdapat realisasi penghambaan dan
kesempurnaan ketundukan dan kerendahan diri dihadapan Rabb Azza wa Jalla. Haji mengeluarkan manusia dari kenikmatan dan gemerlap dunia menuju kepada Rabb-nya, meninggalkan harta dan sanak keluarganya, meninggalkan rumah dan tanah airnya, melepaskan pakaian yang biasa ia kenakan dan hanya mengenakan dua helai pakaian (pakaian ihram), tidak mengenakan penutup kepala, merendahkan diri kepada Rabb-nya,
meninggalkan wewangian dan istri, melakukan banyak amalan sunnah disela-sela manasik haji dengan hati yang khusyu’, mata yang berlinang air mata, dan lisan yang berdzikir, mengharap rahmat dari Rabb-nya, takut akan adzab-Nya, dan syiar dari semua yang disebutkan diatas adalah: (Labbaik Allahumma labbaik).
Maknanya, sesungguhnya aku tunduk kepada-Mu wahai Rabb, aku
memenuhi panggilan-Mu, mentaati hukum-Mu dan melaksanakan perintah-Mu.
Talbiyahadalah syi’ar haji. Seorang muslim memulai amalan haji
dengan talbiyahdan berjalan menuju Makkah dengan bertalbiyahhingga tiba di Baitullah kemudian segera melaksanakan thawaf. Setelah itu ia bertalbiyah setiap kali berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain dan dari satu manasik ke manasik yang lain. Jika ia berjalan menuju Arafah

maka ia bertalbiyah, begitu juga jika ia menuju Muzdalifah dan Mina
sampai melempar jumrah aqabah baru ia memutus talbiyah. Talbiyah adalah syi’ar haji dan yang disunnahkan dalam amalan-amalan manasik.
Betapa besar pengaruh dari ibadah haji yang penuh keberkahan bagi
kaum muslimin terhadap pensucian dan perbaikan jiwa, dan sebagai obat kekurangannya dalam menjalankan perintah dan melaksanakan hak-hak Allah.

Bukankah wajib atas seorang muslim untuk selalu bertalbiyah

terhadap panggilan Allah, melaksanakan perintahnya,dan menunaikan
hukum-Nya. Bukankah wajib atas seorang muslim untukmenjadikan
urusannya dalam setiap ketaatan untuk bertalbiyahterhadap panggilan
Allah dan melaksanakan perintah-Nya.
Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk shalat, zakat, puasa,
shadaqah, menepati janji, amanah, berbuat baik, danmelarang mereka dari berzina, membunuh, meminum khamr, berdusta, berbuatcurang, dan khianat. Bagaimanakah posisi seorang muslim terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut. Apakah ia harus memenuhi perintah Allah dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya ataukah ia akan bergelut dengan kefasikan dan kemaksiatan.

Sesungguhnya hakikat Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah
dengan mentauhidkan-Nya dan melaksanakan ketaatan kepadanya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Firman Allah: (masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan ( ) yaitu
berislam dengan melaksanakan syariat Allah dan taatterhadap perintah-Nya. Dan firman-Nya: (secara keseluruhan) yaitu semua hal. Mujahid berkata: “ yaitu laksanakan semua amalan-amalan danjalan-jalan kebaikan”.Memenuhi panggilan

Al Baqarah : 208

Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (I/163)

Allah memerintahkan mereka dengan semua cabang imandan syari’at-syari’at Islam sedangkan syari’at Islam itu banyak.Oleh karena itu
hendaknya mereka melakukkannya semampu mereka.. Sebagaimana Allah berfirman:

“Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian..”

Dalam sebuah hadits:
?

“ Jika Aku memerintahkan kalian dengan sebuah perintah maka
lakukan semampu kalian”.

Ayat-ayat yang mengandung perintah untuk berserah diri kepada
Allah, memenuhi panggilan-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan
senantiasa taat kepada-Nya itu sangat banyak.

Wahai orang yang diperintahkan berhaji oleh Allah kemudian kalian
penuhi panggilan-Nya dan kalian datang menuju baitullah dengan
mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya,. Bagimana dengan perintah-perintah yang lain? Bagaimana dengan shalat yang merupakan tiang agama dan ibadah yang paling agung setelah syahadat? Bagaimana shalatmu? Bagimana puasa dan zakatmu? Bagaimana usahamu untuk menjauhi hal-hal yang dilarang dan diharamkan? Jikakamu melaksanakan semuanya maka bertahmidlah dan mintalah kepada-Nya tambahan ibadah yang lain. Akan tetapi jika kamu lalai dan luput maka hisablah dirimu sebelum kamu dihisab di hari kiamat.

Sesungguhnya hari ini adalah hari untuk beramal danbelum ada
hisab, sedangkan besok adalah hari hisab dan tidak ada lagi amal.
Sebagaimana Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

At Taghabun : 16

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya ini adalah amalan kalian, Aku hitung
untuk kalian kemudian Aku penuhi janji atas amal kalian. Barangsiapa yang mendapati amalannya baik maka pujilah Allah, dan barangsiapa yang mendapati amalannya tidak baik maka janganlah kau mencela kecuali dirimu sendiri”

Sesungguhnya manusia dengan perintah dan larangan terbagi menjadi beberapa keadaan: diantara mereka ada yang mewajibkan diri mereka untuk melakukan ketaatan dan menahan diri dari perbuatan maksiat. Demikian ini adalah keadaan orang yang beragama dengan sempurna, dan termasuk dari sifat orang bertaqwa yang paling utama. Keadaan yang lain yaitu mereka tidak melaksanakan ketaatan dan lebih mendahulukan perbuatan maksiat. Ini adalah keadaan yang paling buruk dari keadaan orang-orang yang terbebani dengan syari’at. Dia berhak mendapatkan adzab
dikarenakan ia telah lalai untuk mengerjakan apa yang diperintahkan
kepadanya dari ketaatan, dan juga adzab dikarenakania telah melakukan perbuatan maksiat. Diantara mereka juga ada yang melaksanakan ketaatan dan mendahulukan perbuatan maksiat, maka ia berhak mendapatkan adzab. Karena ia telah celaka terkalahkan oleh syahwat untuk lebih mendahulukan perbuatan maksiat. Keadaan yang lain yaitu mereka yang menghalangi orang untuk melakukan ketaatan dan mencegah dari
perbuataan maksiat. Orang tersebut berhak mendapatkan adzab dari
agamanya. Wajib bagi seorang muslim untuk menasehati dan menjaga dirinya sendiri agar selalu melakukan ketaatan kepada Rabb-nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nyadengan kesabaran dan mengharapkan pahala.

Salah seorang salaf berkata, “ Sesungguhnya kami telah meneliti dan
kami dapati bahwa bersabar dalam mentaati Allah itulebih mudah daripada bersabar atas adzab-Nya”. Berkata yang lain, “ Bersabarlah wahai hamba Allah atas amalan yang pahala-Nya tidak cukup bagi kalian, dan bersabarlah dari amalan yang adzab nya membuat kalian tidak bersabar”.

Shahih Muslim (2577)

Betapa besar manusia menjaga dirinya di dunia ini dari perkara-perkara yang ditakutkankan akan membahayakan tubuhnya atau
mempengaruhi kesehatannya. Bersamaan dengan itu mereka tidak menjaga diri dari perkara-perkara yang akan membawa dirinyakepada hukuman Allah dan mengarahkan dirinya kepada adzab-Nya.

Ibnu Syubrumah berkata, “ Aku heran terhadap orang yang menjaga
makanannya karena takut terhadap penyakit, akan tetapi dia tidak menjaga dari perbuatan dosa karena takut ancaman neraka”.

Hammad bin Zaid berkata, “ Aku heran terhadap orangyang menjaga
makanannya karena takut akan membahayakan dirinya, sedangkan ia tidak menjaga dirinya dari dosa karena takut akan akibatnya”.

Wahai saudaraku yang diberi taufiq pikirkanlah semua yang telah
disebutkan tadi, juga dengan mengingat wasiat Nabi terhadap para jamaah haji. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan selainnya dari Abi Umamah, ia berkata, “ Aku mendengar Rasulullah berkhutbah dalam haji wada’ bersabda: ( Bertaqwalah kepada Rabb kalian, shalatlah lima waktu, puasalah pada bulan ramadhan, tunaikanlah zakat danharta kalian, dan taatilah pemimpin kalian, maka kalian akan memasukisurga Rabb kalian).

Tirmidzi berkata: “ini adalah hadits hasan shahih”.Diriwayatkan dari
Hakam berkata: “shahih atas syarat muslim”. Disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi.

Kami memohon kepada allah untuk menjadikan kami dankalian
semua termasuk dari orang-orang yang memenuhi panggilan-Nya dengan sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya. Semoga Allahmengilhami kepada kita petunjuk, juga memberi taufiq kepada kita untuk mentaati-Nya.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Pengabul Do’a.

Lihat Adab Ad Dunya Wa Ad Din oleh Al Mawardi (hal. 103-104)

Sunan At Tirmidzi (616) dan Al Mustadrak (I/9)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: