COPAS Agi Betha *********** JENDRAL DAN ULAMA

COPAS

Agi Betha

*********** 🚫JENDRAL DAN ULAMA

Tugas seorang Jendral dan Ulama itu sebetulnya hampir sama.

Keduanya sama2 bertugas memimpin, sebagai panutan, dan berusaha keras menjamin keselamatan ‘anak buahnya’. Bedanya anak buah Jendral adalah tentara atau polisi, sedangkan pasukan seorang Ulama adalah umatnya.

Bedanya adalah, ketika seorang Jendral terjun ke wilayah politik, maka selama ini rakyat dengan rela hati menyebutnya sebagai Politisi. Sedangkan ketika seorang Ulama memiliki jabatan politis di pemerintahan, orang2 tetap menyebutnya Ulama.

Apalagi jika orang tsb terus berusaha membawa predikat keulamaannya untuk meraih dukungan suara dari rakyat, dan membungkus aktifitas konsolidasi politiknya di dalam aktifitas dakwah.

TAKDIR. Sesuai sebutan dan gelarnya, maka Takdir seorang Jendral adalah untuk KEBAIKAN menyelamatkan bangsanya, dan Takdir seorang Ulama adalah untuk menyerukan KEBENARAN kepada umatnya.

Itulah kontrak mereka dengan Sang Pemilik Alam Semesta. Kontrak itu tidak mesti ditandatangani dengan pena dan kasat mata. Tapi ketika setiap orang memilih karir atau jalan hidupnya masing2, pada saat itulah Kontrak dengan Allah ditetapkan.

BAGAIMANA JIKA KONTRAK ITU DISALAHI? Apa yg terjadi jika kontrak kebaikan dan kebenaran dengan Sang Pemilik Hidup itu diselingkuhi demi mengedepankan birahi dan nafsu materi? Maka bencana kepada diri sendirilah yg akan terjadi. Maka kepercayaan besar dari rakyat yg telah susah payah berhasil dipupuk oleh Sang Jendral dan Sang Ulama pun, dapat berbalik menjadi malapetaka.

MAU BUKTI? Tersebutlah seorang Jendral. Muslim. Tapi hatinya merah. Keislamannya hanya kedok. Anak buahnya yg jujur ia khianati. Tidak hanya sekali tapi berkali2. Si anak buah yg menjunjung tinggi Sumpah Prajurit, lebih gentlemen daripada pak Jendral atasannya yg berhati dusta dan berkata hina. Sang anak buah berani memikul tanggung jawab terhadap perintah pak Jendral berbintang lengkap. Tanpa jengah pak Jendral pernah memerintahkan eksekusi2 yg ngeri, tapi ia tak jengah karena ia yakin bahwa sumpah setia si anak buah kepada institusi tak akan membuatnya bercerita ke kanan dan ke kiri. Kepada agamanya sendiri, Jendral merah juga membenci. Ia mendiskriminasi cadar, celana cingkrang, kelompok penjalan sunnah, dan menjadi otak operasi2 pembubaran majelis dengan alasan membunuh radikalisasi dan intoleransi. Balasan apa yg terjadi? Anak2 Jendral itu sendiri dan mantu2 nya kini berbaju cingkrang, bergaun lebar nan longgar yg minim jahitan, dan bercadar. Asesoris keagamaan yg dianggapnya ciri2 teroris itu dipakai oleh semua anak2 nya. Ia tak berkutik melawan. Meski sang istri histeris sekalipun ketika ada anaknya yg mengalami tragedi, pak Jendral tak punya kuasa membalikkan keadaan. Apa yg dulu dibenci dan dimuntahkan oleh mulut sang Jendral, kini dipaksa oleh Yang Maha Ghoib untuk ia telan bulat2. Tak hanya itu. Organisasi politik yg ia besarkan pun direbut orang. Ia yg dulu menebar kezhaliman, kini memanen kebengisan. Kepalanya ditoyor oleh orang yg bukan siapa2 pun, ia hanya bisa kecewa. Para pengikutnya ganti menyelingkuhi dirinya, mereka berbalik mengabdi kepada orang baru yg menista dirinya. Balasan dari Allah itu pasti, dan kini balasan itu datang bertubi2. Apakah lalu pak Jendral sadarkan diri? Entahlah. Karena hati yg terlanjur merah sulit untuk kembali putih. Apalagi kini prahara juga mengguncang rumah tangganya. Memang tak salah petuah para alim ulama. Terlalu lama memakan rejeki tanpa mempedulikan Ridho Allah di dalamnya, akan mematikan nalar dan menutup semua pintu kebaikan. Sumpah Prajurit yg pernah diucapkannya itu, kini berubah menjadi Simpah Serapah kepada dirinya, akibat dari politik busuk yg dijalaninya.

BERALIH KE ULAMA. Tak jauh beda dengan jalan hidup sang Jendral yg menjadi politisi dan rela melunturkan kesucian nama prajuritnya. Ulama yg memiliki hasrat Keduniawian terlalu tinggi juga lambat laun akan mengalami nasib sama. Selihai apapun ia menjual baju ulama, pada akhirnya ia telanjang jua. Rakyat tidak bodoh. Hanya segelintir golongan lugu saja yg tertipu. Baju putih, peci dan sorban, tidak mampu menutupi mata rakyat yg melihat sendiri dashyatnya nafsu jabatan sang Ulama. Padahal skenario besar sudah ia jalankan. Jalan kitab ia tukar dengan jalan kekuasaan. Tapi Allah jualah yg akan menentukan. Sang Ulama memilih pendamping yg (katanya) mampu berbicara 5 bahasa. Memiliki jaringan sangat luas di pemerintahan maupun di mancanegara. Faktor kekerabatan sang wanita dengan orang yg berkuasa jadi pertimbangan utama. Begitu pula karirnya yg pernah mengabdi kepada negara Adi Kuasa. Sang Ulama menganggap wanita itu adalah masa depannya. Bersama perempuan yg tadinya tak seiman itu, ia bermimpi dapat merengkuh bintang-bintang. Setelah membenahi rumah tangga, ia pun memoles kebesaran namanya di mata rakyat jelata yg tak paham apa2. Pengikut dan jaringan relawan dibentuk hingga ke desa2. Memanfaatkan majelis agama ia menebar nafsu berkuasa. Semua dijalankan halus dan santun, tak terasa ada birahi politik di dalamnya. Ayat2 soal memerangi penguasa zholim ia pangkas, tapi sabda tentang dibolehkannya kain sorban berpolitik ia besarkan. Setelah semua upaya politik yg dijalankan itu, apakah masih lebih berat timbangan akhirat ketimbang nafsu dunianya? Masihkan bisa disebut Ulama Hanif ataukah Politikus Ulung? Apa hukuman bagi kalimat dusta, hati yg mendua, dan wajah yg berganti2 rupa? Yang Maha Adil dan Maha Merendahkanlah yg akan menuliskan sebaik2 nya nasib manusia. DIA yg berkuasa menentukan apakah ia akan dihujat ataukah diagungkan.

BEGITULAH MANUSIA. Dianggap dirinya adalah penentu takdir. Betapa susah payah otak kecil mereka mencari-cari cara, mengedepankan akal ketimbang iman, dan memilih yg licik daripada yg baik. Mereka tak sadar, ketika mereka menuliskan skenarionya, masih ada Sang Maha Sutradara yg akan menentukan ENDINGNYA.

Takbir

*Sekian dulu cerita fiksi dengan 2 tokoh fiktif ini. Tak perlu baper dan menerka2 siapa orangnya. Karena yg utama ambillah Hikmah dibalik cerita. Dan yg jauh lebih penting lagi, selalu cek dan pastikan diri bahwa kita masih berada di kumpulan mereka yg baik. MEMILIH bersama Pemimpin yg baik dan Ulama yg amanah, agar terjaga dunia dan akhirat kita. AAMIIN.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: