Sahabat yang mulia itu bernama Sya’ban by amantebe

Muhammad jalal

Muhammad kubah arab

Muhammad pigura kabbah

 

# Sahabat yang mulia itu bernama Sya’ban #

Terkisahkan seorang sahabat nan teguh menjaga shalat berjamaah, hingga, dalam hidupnya, hanya ajal nan menghentikanya tuk berjamaah.

Adalah Sya’ban, nama sahabat mulia itu. Yang selalu datang di awal waktu, duduk di pojok depan shaf, tuk mempermudah saudara lainnya

Tak pernah barang sekali pun ia meninggalkan shalat berjamaah, hingga, d suatu Subuh, Rasul tak menemukannya dalam shaf terdepan

Lantas usai menyulam Cinta denganNya di Subuh itu, Rasul bertanya pada sahabat, “Aina Ya Sya’ban??”, dimanakah gerangan Sya’ban?

Pertanyaan tadi tak ada nan menjawab, hingga Rasul pun bertanya, “Dimanakah rumah Sya’ban?” lantas tertunjuklah seorang sahabat

Ia berkenan menghantar Rasul ke rumah Sya’ban. Betapa khawatirnya Rasul nan mulia lagi terCinta itu memikirkan sahabatnya

Allah hendak menunjukan pada Nabi, bahwa sahabatnya tersebut benar2 sahabat nan tangguh, 3 jam perjalanan hingga tiba di rumah Sya’ban

Terbayangkah ikhwah? Jarak dari rumah Sya’ban dan Mesjid, adalah 3 jam perjalanan. Dan Sya’ban selalu menjadi jamaah terdepan!

Maka setibanya Rasul dirumah Sya’ban, tersambutkan oleh seorang wanita, ialah Istri Sya’ban. Matanya membengkak, ini sebuah pertanda

Rasul memberi salam, disahut takzim oleh Istri Sya’ban. Lalu “Bolehkah kami menemui Sya’ban??”, setiba sang istri tertunduk

Ada gerimis di pelupuk matanya, lantas dengan parau, ia sampaikan pada Rasul nan mulia, “Ia, suamiku, telah meninggal tadi pagi”

Ikhwah, satu-satunya alasan Sya’ban tak datang untuk Subuh berjamaah adalah, ajal nan menjemputnya. Bagaimana dengan kita?

Innalillah, itulah alasan Sya’ban tak datang subuh tadi, tapi, sesaat kemudian, istrinya berujar, “Ya Rasul, ada tanya bagi saya”

Rasul menyimak. “Menjelang wafatnya, suamiku berujar tentang 3 hal”, ujar sang istri

“Duhai, kenapa tak lebih jauh! Duhai, kenapa tak yang baru! Duhai, kenapa tak semua!”, lanjut si Istri. Rasul pun tersenyum

Ternyata, Sya’ban dianggap wafat dalam keadaan ingkar kepada Allah tersebab 3 pernyataannya tsb, namun apa jawaban Rasul?

Rasulpun berujar, “… Maka kami sibak hijab nan menutupi matamu, lantas penglihatanmu hari itu amatlah tajam.” QS.50:22 “”

Sya’ban tak ingkar. Adalah Allah nan menyibak apa2 nan terlakukan olehnya semasa hidup, hingga ia pun berujar 3 hal tsb

Allah sibak padanya, jejak2 langkahnya menuju Mesjid tuk melaksanakan Sholat berjamaah. 3 jam perjalanan terlalui olehnya

Tiap hari ia istiqomah melakukannya, maka di kala Sakaratul Maut tersebut, Allah singkap balasan nan indah kelak untuknya

Lantas, Sya’ban pun berujar hal pertama nan mencengangkan keluarganya, “Duhai, kenapa tak lebih jauh!!”, Allahu Akbar!

Tak hanya itu, dalam episode selanjutnya, Allah pun menyibak kebaikan Sya’ban nan lain. Kebaikan nan membuatnya takjub

Suatu hari, pada dinginnya cuaca, ia mengenakan 2 pakaian, yang satu adalah pakaian terIndah nan termiliki tuk menutupi tubuhnya

Yang satu lagi adalah pakaian lusuh yang ia jadikan pelapis pakaiannya tadi, agar bila terkena debu, ia bisa melepasnya

Namun, di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seseorang nan hampir mati kedinginan, maka, dibalutnya orang tadi dengan pakaian lusuhnya

Seraya di bantunya orang tsb menuju Mesjid. Lantas, kala Sya’ban sakaratul maut, Surga nan indah diperlihatkan oleh Allah

Itulah balasan atas kain lusuhnya tsb, sehingga terucaplah pernyataan kedua dari lisannya, “Duhai, kenapa tak yang baru!!”

Tak pelak sampai di situ, Allah hendak menggembirakan Sya’ban untuk yang ketiga kalinya. Ia sibakkan amalan lainnya nan indah

Kala itu, Sya’ban hendak sarapan seperti biasa. Sepotong roti dan segelas susu, menu santap paginya saat itu

Hingga, datanglah seorang pengemis nan meminta makan darinya, sudah 3 hari pengemis itu tak makan, lantas apa jawab Sya’ban?

Sya’ban membagi dua Rotinya, serta menuangkan separuh susunya tuk diberikan pada si pengemis, kemudian mereka menyantap bersama2

Atas kebaikannya tsb, Allah bentangkan tampilan Surga di hadapannya, balasan atas ketulusannya memberi makan seorang pengemis

Lantas di kala Sakaratul Maut itu, Sya’ban pun berujar tuk ketiga kalinya “Duhai, kenapa tak semua!!”, dan suasana pun, hening

Apakah kita tak yakin dengan janjiNya? Apakah kita enggan tuk berjamaah di Mesjid? Lantas, engkau kemanakan lembaran2 tilawah itu?

.@onedayonejuz

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: