#WANITA_MUSLIMAH_BERPOLITIK#…

Politik

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh

#WANITA_MUSLIMAH_BERPOLITIK#…

Bismillahirrahmanirrahim

Artinya :

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yang ta’at kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana” (QS.At-Taubah:71).

Politik atau siyasah menurut Syaikh Abdul Qadim Zallum adalah mengatur urusan umat dengan negara sebagai intuisi yang mengatur urusan tersebut secara praktis, sedangkan ummat mengoreksi-melakukan muhasabah terhadap-pemerintah dalam melakukan tugasnya.

Tujuan berpolitik dalam Islam adalah tegaknya syariat Allah dalam segala lini kehidupan. Dalam konteks ini peran Muslimah untuk menegakkan ajaran Allah subhanahu wata’ala dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara juga dibutuhkan demi tegaknya dienullah, agama Allah subhanahu wata’ala.

Islam punya seperangkat aturan yang sudah komplit. Islam memandang manusia sebagai satu kesatuan utuh baik laki-laki atau perempuan. Aturan yang diturunkan Allah bertujuan untuk solusi seluruh masalah manusia bukan hanya laki-laki saja atau perempuan saja. Jika ada peraturan perundang-undangan yang sudah sesuai syari’ah ditetapkan di parlemen. Insya Allah aturan itu sesuai fitrah manusia dan dijamin tidak bias gender. Walau yang menetapkan adalah laki-laki semua.

Muslimah memang tidak dilarang terjun dalam dunia politik, selama tetap berada dalam bingkai Islam. Ketika Muslimah berpolitik, rambu-rambu berikut kudu dipahami;

1. Tidak mengabaikan peran utamanya sebagai ummu rabbatul bait (ibu dan pengatur urusan rumah tangga) bahkan harus sinergi.

2. Bukan untuk menguasai posisi tertentu dengan maksud mengalahkan laki-laki.

3.Bukan untuk meraih kekuasaan atau penentu kebijakan, karena dalam pandangan Islam posisi penguasa dan posisi rakyat, Keduanya memiliki peran yang sama-sama penting. Hadits yang diriwayatkan oleh Abi Bakrah :

“Tidak akan pernah menang suatu kaum yang menyerahkan urusan (kekuasaannya) kepada perempuan” (HR Bukhari)

4. Bukan untuk meraih prestise di kalangan perempuan.

5. Bukan aktivitas politik yang dilarang oleh Islam.

Peran politik perempuan dalam Islam itu mendidik/membina sesama muslimah. Ini merupakan aktivitas yang sangat penting, karena dalam kesehariannya seorang muslimah bergaul sangat dekat dengan para mahramnya, anak-anaknya, dan perempuan-perempuan lain yang ada di sekelilingnya.

Di tangan para Muslimah tergenggam masa depan ummat, karena dari tangannyalah akan terlahir anak-anak sebagai generasi penerus di masa datang. Oleh karena itu, pembinaan terhadap kaum muslimah merupakan hal yang sangat urgen.

Sekalipun memang tidak dilarang pembinaan laki-laki kepada perempuan, tetapi dengan pembinaan yang dilakukan dari perempuan kepada perempuan, maka hal ini akan lebih mendekati kepada tujuan pembinaan itu sendiri.

Selain itu muslimah juga bisa berperan dalam mengoreksi pemerintah yang menetapkan aturan apabila tidak sesuai aturan Allah. Hal ini pernah dicontohkan Khaulah binti Hakim. Khaulah memprotes khalifah Umar bin Khattab selaku pemimpin ummat Islam. Ketika beliau menetapkan jumlah mahar tertentu bagi perempuan karena tingginya mahar yang diminta kaum perempuan pada waktu itu.

Kemudian Umar menyadari kekeliruannya dan segera mencabut keputusannya dengan menyatakan :
“Perempuan ini benar”, Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam bersabda: “Agama Islam itu nasihat/kesetiaan”. Kemudian ditanyakan : “Kepada siapa ya Rasulullah? Beliau menjawab : “Untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan rakyat mereka” (HRBukhari)

Wanita muslimah memiliki peluang amal yang begitu luas di ranah politik. Di wilayah itu, perempuan muslimah dapat meningkatkan potensi aqliyah-nya, potensi sosialnya, dan potensi lainnya, sehingga muslimah menjadi berarti dan memberi kontribusi positif bagi masyarakat. Peluang itu semata-mata harus dimanfaatkan untuk isti’maru al-ardl dengan amar ma’ruf dan nahyu ‘anil munkar. Namun demikian, dalam beraktifitas publik (politik), seorang muslimah harus tetap memperhatikan rambu-rambu syar’i yang menjaganya supaya tetap dalam fitrahnya sebagai perempuan.

Wanita adalah tiang Negara. Bila wanitanya shalihah (baik), maka akan baik pulalah Negara. Namun sebaliknya, jika wanitanya rusak maka akan rusak pula Negara.

(Almar-atu ‘imadul bilad, in shaluhat shaluhal bilad, wain fasadat fasadal bilad)

Wallahu a’lam bish shawwab

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: