*** TUNDUKAN PANDANGANMU DUHAI IKHWAT ***

Tundukan pandangan mata

Pandangan mata

Pandangan allah

Pandangan mata zina

 

*** TUNDUKAN PANDANGANMU DUHAI IKHWAT ***

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
SubhanAllah Alhamdulillah Allahu Akbar……

Ketika pertama kali engkau mengenal istrimu,terbersit dalam pandanganmu seakan Allah belum pernah menciptakan wanita sepertinya di dunia ini.

Saat engkau meminangnya,engkau melihat banyak sekali wanita yang lebih sepadan dari pujaan hatimu….

Saat engkau menikahinya,engkau melihat banyak sekali wanita melebihi kecantikannya…

Setelah lewat beberapa tahun hidup bersamanya,engkau melihat semua wanita lebih manis dari istrimu….!

Sang bijak Bertutur….
“Maukah aku beritahukan yang lebih menyenangkan dari semua itu…….?

Dengarlah…….
Andai saja kamu menikahi seluruh wanita di dunia ini,niscaya kamupun melihat binatang-binatang yang berkeliaran di jalanan lebih cantik dalam penglihatanmu dari semua wanita tersebut.

Kenapa demikian….?!
Karena problemnya bukan pada istrimu….!
Problemnya setiap manusia jika memiliki jiwa yang rakus,pandangan mata yang binal,dan jauh dari rasa malu kepada Allah,maka tidak akan mungkin dapat memuaskan pandangan matanya kecuali Debu Kuburannya……..

Hai Ikhwat……!
Persoalanmu adalah karena kamu tidak mau menundukkan pandanganmu dari larangan Allah.

Sekarang maukah kamu kutunjukan cara mengembalikan istrimu seperti keadaan semula,dia menjadi wanita tercantik didunia dimatamu….

Rahasianya adalah……
Tundukkan pandanganmu…

Allah berfirman ;
” Katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka
Demikian itu lebih suci bagi mereka Sesungguhnya Allah Maha mengetahui semua yang kamu perbuat
( QS. An-Nur 30 )

Semoga bermamfaat….

Wa’alaikum sallam warohmatullahi wabarokatuh.
Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil ‘aliyil ‘azhim. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad. Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: