MURTAD KARENA CINTA Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib

 

Murtad karena cinta

 

MURTAD KARENA CINTA

Murtad karena cinta, ku dengar kisah itu terulang lagi di negeriku, kali ini menimpa seorang artis -semoga Allah mengembalikannya pada fitrah Islam-. Namun hal itu tidak membuatku heran, karena dulu ada insan yang jauh lebih sholeh darinya juga murtad karena cinta.

Dalam kitab “At-Tadzkirah”, Imam Qurthubi menceritakan kisah tentang yang murtad karena cinta.

Beliau mengatakan: Dulu di Mesir ada seorang hamba yang mengabdikan dirinya untuk mengumandangkan adzan, raut wajahnya selalu memancarkan cahaya ketaatan. Suatu hari seperti biasanya ia menaiki menara untuk mengumandangkan adzan. Kebetulan tepat di bawah menara tersebut terdapat rumah seorang Nashrani dzimmi. Ia pun melihat ke rumah tersebut, tanpa sengaja ia melihat puteri pemilik rumah tersebut. Ia terpesona kepadanya, iapun mengurunkan niatnya untuk mengumandangkan adzan. Tanpa piker panjang la turun menemui wanita tersebut dan masuk ke rumahnya.

Wanita itu bertanya kepadanya: “Ada urusan apa engkau ke sini, apa yang kau inginkan.?”.

Ia menjawab: “Aku menginginkanmu”. Wanita itu bertanya lagi: “Untuk apa?”.

Ia menjawab: “Engkau telah merampas hatiku dan segenap jiwaku”.

Wanita itu berkata: “Aku tidak ingin memenuhi keinginginanmu itu ditas sebuah keraguan (tanpa status)”.

Ia menjawab: “Aku ingin menikahimu”.

Wanita itu menjawab: “Bagaimana mungkin, kamu seorang muslim sedangkan aku seorang Nashrani. Ayahku pasti tidak akan mau menikahkanku denganmu”.

Ia pun berkata: “Aku akan masuk agama Nashrani”.
Wanita itu berkata: “Jika engkau melakukan hal itu, maka aku siap menikah denganmu”.

Maka kemudian ia pun memeluk agama Nashrani dan menikah dengan wanita itu dan tinggal bersama mereka di rumah itu.
Di pertengahan hari, ia naik ke atas atap rumah itu, lalu terjatuh dan meninggal. Akhirny ia meninggal tidak dalam keadaan muslim, tidak juga ia dapat tinggal bersama wanita tersebut untuk sesaat.

Kisah diatas menegesakan pada kita untuk tidak mudah tertipu dengan pemaknaan semu soal cinta, kecantikan, atau pemaknaan lain tentang ikatan kasih yang keliru hingga melampaui batas-batas yang telah di atur dalam agama kita yang mulia.

Kisah itu juga seperti mengajari kita untuk tidak bangga dengan amal-amal yang sudah kita lakukan. Kita tidak tau dengan apa Allah akan menutup cerita tentang kita. Iya, itu karena hati manusia berada diantara dua jemari Allah. Dia membolak-balikannya dengan kehendak-Nya. Di dalam sujudnya Rasulullah shallahu alaihi wasallam selalu berdo’a “

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, Tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu”

Kita perlu menjadikan do’a tersebut bagian dari munajat kita pada Allah. Apalagi dizaman fitnah saat ini, semua berubah dengan cepat. Sebagaimana tergambar dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad No. 8493)

Sungguh benar apa yang diberitakan Rasulullah -shallahu alaihi wasallam-, hari ini dengan mudah kita melihat orang-orang yang di pagi harinya masih beriman, namun karena kepentingan duniawi dan kenikmatan sesaat, tiba-tiba di waktu sore ia telah menjadi kafir. Demikian pula ada diantara mereka yang di sore harinya masih beriman, namun entah apa yang terjadi di malam hari, hingga tiba-tiba kita mendapatinya telah menjadi kafir dipagi hari. Semoga Allah mengarunikan pada kita Khusnul Khtimah.

Ya Allah.. Tetapkn hati kami dalam Imam.

Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: