# Konsep Ketuhanan # oleh Haidar Bagir

 

Allah resume3

Allah resume2

Allah resume

 

# Konsep Ketuhanan #

Dikutip dari buku ‘Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan’ oleh Haidar Bagir

Suatu kali, seorang laki-laki yang tidak percaya kepada Tuhan (ateis) datang untuk menantang Imam Ja’far Al-Shadiq, “Apa buktinya Tuhan itu ada?”

Kemudian Imam Ja’far memerintahkan para sahabatnya untuk menceburkan si laki-laki ke sebuah telaga yang ada di sekitar itu.

Laki-laki malang itu ternyata tak bisa berenang. Dia pun gelagapan sambil berteriak-teriak meminta tolong,

“Wahai Ja’far, tolonglah aku!” Akan tetapi, Imam Ja’far melarang sahabatnya untuk menolong orang itu.

Hal itu terjadi berkali-kali hingga ketika hampir putus asa, si ateis berteriak, “Ya Allah, tolonglah aku.”

Maka, Imam Ja’far memerintahkan agar laki-laki itu dikeluarkan dari telaga. Imam berkata kepada laki-laki itu:

“Tuhan adalah yang engkau sebut nama-Nya itu, ketika engkau yakin tak ada sesuatu pun yang dapat menolongmu selain-Nya.”

Memang, Tuhan tampaknya bersemayam dalam fitrah makhluk yang bernama manusia. Betapa pun para ateis berusaha menyangkalnya.

Sebagian ateis mengartikan Tuhan sebagai ‘God of the gaps’, artinya keberadaan Tuhan demi mengisi ketidakmampuan kita untuk menjelaskan keadaan.

Jika kita bingung menjelaskan kenapa alam ini penuh bencana yang kita tak kuasa menolaknya, maka dibuatlah konsep Tuhan untuk menjelaskan hal itu.

Ketakutan dan juga ketidaktahuan telah mendorong manusia menciptakan (konsep) Tuhan.

Ada juga konsep yang disebut dengan meme. Meme adalah semacam gen, tetapi bukan bersifat biologis melainkan sosial.

Jadi, sebagaimana manusia mempunyai gen yang diturunkan dari orang tua, gen sosial ini juga diturunkan kepada masyarakat oleh lingkungan sosial.

Maka, dalam konteks ini Tuhan semacam warisan turun-temurun lingkungan sosial.

Kenyataannya, apakah itu meme, gen, atau ‘God of the gap’, manusia butuh sesuatu yang disebut sebagai Tuhan, Allah, Yahwe, Sang Hyang Widi, dsb.

Kenyataannya, sejak 180 abad lalu sampai sekarang, apa yang disebut Tuhan itu tak pernah sirna dari kehidupan manusia.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: