PELAJARAN HIDUP .

Arti kehidupan

Dengki dan hasud

Dengki Ibnu Majah

 

PELAJARAN HIDUP

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
SubhanAllah Alhamdulillah Allahu Akbar…

Dari keseluruhan pelajaran hidup, barangkali yang paling sulit adalah belajar mengenal diri sendiri secara jujur. Karena sering kali kesibukan kita dengan berbagai urusan membuat kita kita lupa untuk mengenal lebih jauh siapa diri kita.

Padahal, mengenal diri sendiri berarti mengerti dengan baik kelebihan dan kekurangan diri. Lalu dengan pengenalan itulah kita mencari jalan mana yang bisa memaksimalkan aspek positif kita dan jalan mana yang bisa meminimalisir keburukan kita.

Pengenalan yang baik terhadap diri akan membuat kita mengerti titik start yang pas bagi langkah awal untuk menjadi sesuatu, lalu kemana langkah itu kelak diakhiri.
Pengenalan terhadap diri juga kan membuat kita dengan mudah menekan ego ke-akuan yang selalu saja membuat jiwa merontak karena merasa lebih dari orang lain.
Ungkapan “semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kemampuan dirinya sendiri” setidaknya menggambarkan betapa pentingnya seseorang tahu dan mengerti siapa dirinya dan seberapa besar potensi yang dia miliki.

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”.

Hadits di atas setidaknya memberikan penegasan pada kita, bahwa nilai-nilai estetis dan keluhuran adalah salah satu cabang penting dari misi kenabian. Tak berlebihan bila beliau shallahu alaihi wasalam memberi janji,”orang yang paling dekat kedudukannya dengan aku disurga nanti adalah yang paling baik akhlaknya.”

Logikanya, bila fiqih memberi batasan legalitas, maka akhlak dan moralitas memberi bobot yang luar biasa pada seni keindahan dalam hidup. Tak hanya sekedar batasan wajib yang sah dan legal, tapi ada pesona sunnah yang mempercantik dan membuatnya lebih berwarna. Seperti itulah ajaran agama yang hanif ini. Dan seperti itu pula pilihan hidup ini.

Jika barat meng berkoar-koar mengkampanyekan HAK ASASI MANUSIA dalam definisi yang memiliki standar ganda, maka islam pada 14 abad silam telah mendeklarasikannya sebagai dustur kehidupan. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda :

” Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing (pada hal-hal yang negatif), saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi sehingga menipu pembeli agar membayar lebih tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, dan janganlah sebagian kalian menjual di atas penawaran orang lain. Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang di perintahkan Allah kepadamu. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiayanya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. Takwa itu ada di sini, takwa itu ada di sini, takwa itu ada disini kata Rasulullah Shallahu alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. Cukuplah merupakan keburukan bagi seseorang apabila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lainnya adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya (untuk di rusak dan ditumpahkan). Jauhilah prasangka buruk karna sesungguhnya prasangka buruk adalah sedusta-dustanya pembicaraan. Dan esungguhnya Allah tidak melihatmu pada bentuk rupa dan hartamu, tetapi Dia melihat hati dan perbuatanmu.”

(HR.Bukhari, Muslim)

Jangankan untuk menyakiti dalam bentuk fisik, ajaran islam yang paripurna bahkan telah mengajarkan ummatnya untuk tidak menjadi penyebab hidup orang lain pahit dan getir. Keparipunaannya telah merubah serangkai senyum yang tadinya biasa menjadi amalan yang istimewa dan bernilain sedekah, “Senyummu terhadap saudaramu adalah sedekah”, “Janganlah engkau meremehkan perbuatan yang baik, walaupun hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah yang berseri-seri”.

Semua itu adalah aturan hidup yang tidak saja sebagai aturan konsistensi semata, tapi juga sebentuk seni yang memperindah kehidupan dalam merajut kebersamaan dengan pengharapan penuh akan pahala disisi Allah Azza wa Jalla.

Memang, terkadang sulit mewujudkan semua itu, sebab diujung perjuangan kita untuk merealisasikannya ada ujian yang paling besar, yaitu : “DIRI KITA SENDIRI”

Wa’alaikum sallam warohmatullahi wabarokatuh.
Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil ‘aliyil ‘azhim. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad. Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih.

Madinah dipenghujung senja, Rabu 22 shafar 1435 – 25 Desember 2013 M

{ abulfayruz }

ACT El-Gharantaly
Dibawah Naungan Alqur’an dan Sunnah.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: