# Melazimkan Zikrullah #

Zikrullah

Dzikir lidah

Dzikir hati

Dzikir hzti bersih

Dzikr masak

 

# Melazimkan Zikrullah #

Dikutip dari buku “Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan” oleh Haidar Bagir

“(Orang2 yang kembali kepada Allah adalah) mereka yang beriman, dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah…,”

“…Sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Orang2 yang beriman ini, dan yang beramal saleh, merekalah orang2 yang berbahagia,…”

“…dan bagi mereka tempat kembali yang terbaik.” (QS Al-Ra’d: 28-29)

Ayat tsb bermakna bahwa orang yang percaya keberadaan Allah dengan segala kebaikan-Nya lalu melazimkan amal saleh adalah orang yang bahagia dunia & akhirat

Seperti tertuang dalam Al-Baqarah ayat 3-5: bertakwa & berzikir memiliki makna yang berkaitan yakni suatu sikap batin percaya & sadar akan Allah

Sebagai konsekuensinya, pemilik sikap ini akan selalu melahirkan amal saleh yang diridhai-Nya, dan memelihara ingatan kepada Allah.

Pada gilirannya, ingatan kepada Allah adalah sumber kebahagiaan sejati yang tak akan pernah kering.

Keyakinan pada adanya orang atau wujud yang mau melakukan apa pun untuk kebaikan, akan menenangkan kita dan menjadikan hidup kita “penuh”.

Sebaliknya, kesengsaraan adalah keadaan sepi & terasing, yang di dalamnya terdapat kengerian akibat kehampaan makna & ketiadaan tujuan hidup.

Inilah yang dalam terminologi agama disebut sebagai keadaan terlaknat atau terkutuk yang menyiksa jiwa.

Mungkin, ini jugalah makna surga (ketenangan atau kepenuhan hidup) dan neraka ukhrawi (kesumpekan atau kehampaan hidup).

Sesungguhnya iman, takwa, & zikrullah sejati tak akan bisa diraih tanpa diiringi amal saleh dan tanpa tindakan memberi & menolong orang lain

Bahkan, ujian sesungguhnya atas keimanan kita kepada Allah terletak pada kesiapan kita dalam memberi dan menolong orang lain.

Tanpa itu semua, sesungguhnya keimanan kita hanyalah dusta belaka. Rasul bersabda, “Pemberian (sedekah) adalah bukti (keimanan)”

Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau memberi, justru akan diterpa kesulitan dan kesumpekan jiwa.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: