“Tanggung Jawab ‘Identitas’ Kita Kepada Tuhan” by @ErieSudewoID

 

Pertanggungan jawaban G+

Allah lihat hati dan amalan

Hutang bayar

Hutang

 

“Tanggung Jawab ‘Identitas’ Kita Kepada Tuhan”

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
SubhanAllah Alhamdulillah Allahu Akbar…..

1. Waktu diminta kenalkan diri, nyaris semua kenalkan nama, suku, hobi, ciri fisik, pendidikan terakhir, keahlian, keluarga dan alamat

2. Betulkah itu identitas kita? Belum. Itu baru sebagian dari diri kita. Malah itu belum merambah jati diri – siapa kita sesungguhnya

3. Apakah malaikat peduli pada nama kita Ucok atau Buyung? Rasanya tidak. Yang malaikat pedulikan, apakah si Joko itu curang atau jujur

4. Mungkin malaikat juga tak peduli, apakah kita cerdas atau bodoh. Yang jadi masalah, ketika yang pintar dan bodoh bekerja sama korupsi

5. Mau jadi dokter atau insinyur, malaikat juga tak peduli. Yang malaikat pedulikan, apakah orang sakit makin dipersulit sebagai sumber rezeki

6. Sumpah dah, malaikat juga tak peduli, apakah asal kita Jawa, Ambon, atau Amrik. Yang dipedulikan, apakah kesukuan itu jadi pemecah-belah

7. Malaikat juga tak peduli, hobi kita naik Harley atau lari. Yang bakal disoal, apakah saat naik Harley dengan sombong hingga lecehkan si bebek

8. Malaikat tak ambil pusing soal motor bebek. Yang jadi soal, sudah motor bebek butut, tapi “ngocol terus dan bikin keki” pengguna jalan lain

9. Maka hati-hati. Siapkan jawaban bagi yang ubah rambut keriting jadi lurus. Yang lurus digelung jadi keriting. Itu tanda tak pandai bersyukur

10. Rasulullah SAW: “Allah tidak memandang wajah dan harta kamu. Tetapi Dia memandang hati dan #Amalan kamu”

11. Jasad ini tempat manusia melihat. Lelaki senang lihat perempuan. Sebaliknya wanita senang lihat pria .

12. Sebatas senang, normal dan masih dibolehkan. Yang tak boleh adalah nafsu syahwat. Khususnya pada yang bukan muhrim

13. Tetapi hati tempat siapa melihat? Itulah agaknya iblis dan malaikat yang memperebutkannya. Tarik-menarik, berbuat baik atau buruk

14. Jadi boleh-boleh saja kita kaya. Cuma siapkan jawaban yang tepat. Khusus harta, pertanyaannya 2: “Darimana hartamu, untuk apa digunakan?”

15. Pertanyaan untuk yang lain, cuma satu: “Engkau gunakan untuk apa anugerah atau pemberian Allah SWT?”

16. Maka gunakan 5 sebelum datang yang 5. Untuk apa waktu mudamu sebelum tuamu. Waktu kuatmu sebelum lemahmu. Waktu luangmu sebelum sempitmu

17. Waktu sehatmu sebelum sakitmu. Waktu kayamu sebelum miskinmu. Intinya gunakan waktu hidup sebelum matimu

18. Ketika harta yang kita kumpulkan dari mencuri/korupsi, bukankah itu merusak “semua yang 5 sebelum datang yang 5?”

19. Dengan korupsi, itu tanda ybs tak peduli pada kematian. Ketika tiba-tiba dia mati, bukankah harta curian itu akan hancurkan dirinya

20. Korupsi itu “sedap-sedap ngeri”. Sulitkan apapun. Ke-1 korup itu susahkan dirinya sendiri. Begitu stroke, tak bisa nikmati korupnya

21. Ketika sehat, apa dibilang enak nikmati hasil korup. Itu uang panas. Cepat habis, tak barokah. Makan korup, dia rusak dirinya sendiri

22. Ke-2, hidup anak isteri dirusak bapaknya juga. Uang tak halal masuk tubuh, merusak tubuh siapapun. Jiwanya juga turut rusak

23. Suasana keluarga koruptor, apakah harmoni? Wallahu’alam. Tampaknya tidak. Sebab yang dipakai untuk hidupi keluarga ya uang panas

24. Uang panas kan bakal membakar apapun. Jika uang korup itu bunga-berbunga, maka kerusakannya juga mencakup cucu-cicit

25. Jangan-jangan di Padang Mahsyar kelak, ini juga jadi soal. Anak isteri bakal jadi musuh. Mengapa bapak nafkahi kami dengan uang tak halal

26. Ke-3, jika koruptor taubat, bagaimana hendak selesaikan harta korupnya. Hendak dikembalikan ke negara, kemana, via siapa dan bagaimana caranya

27. Mau jujur, malu dengan tetangga dan sanak saudara. Terlanjur petantang-petenteng. Gak dikembalikan, tersiksa. Terbayang adzab. Serba sulit

28. Korupsi itu tanda bukan hanya kita tak siapkan diri di Padang Mahsyar, malah kita jerumuskan diri .

29. Aneh. Waktu sekolah kita belajar sungguh-sungguh cuma untuk lulus. Tapi soal selamat atau cilaka, kita malah tak siapkan sungguh-sungguh

30. Jika kita mau renungi, banyak hal yang kita lakukan, ternyata itu tanda kita tak perhatikan soal akhirat. Kita anggap itu sepele

31. Soal korupsi, tentu lebih banyak lagi orang yang tak lakukan korupsi. Tetapi soal utang, jangan-jangan tiap keluarga, pasti punya utang

32. Ayo jujur dan unjuk tangan: “Siapa di antara kita yang tak punya utang?”

33. Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang sesungguhnya kaya, itulah orang yang tidak punya utang”

34. Orang yang kaya harta, jangan-jangan utangnya melampaui jumlah asetnya. Karena bisa jadi pula, aset itu dibeli dengan utang

35. Utang ini perkara berat tapi kita ringankan. Ketika cari utang, kita bergombal-ria, obral janji dan sumpah apapun dikatakan

36. Setelah dapat utang, sontak semua itu terlupakan. Bayar utang, tinggal janji. “Tar sok tar sok”. Lalu jika bisa ngemplang, why not?

37. Pesan bijak: “Gunakan utang sebaik-baiknya”. Cara bijak 1, utanglah dalam kondisi darurat. Ini kondisi yang amat terpaksa. Dimaklumi!

38. Cara bijak 2, dalam usaha bisnis, juga hati-hati berutang. Jangan sampai karena ingin bangun kerajaan bisnis, utang besar dilakukan

39. Berarti ada keinginan lebih. Ini bukan kebutuhan, melainkan keinginan. Ada rasa-rasa hati, niat khusus, atau ada kepentingan tertentu

40. Developer misalnya. Untuk bangun kawasan, butuh utang besar. Rumah laris manis, dana pun masuk

41. Pertanyaannya, apakah segera dia lunasi utang-utangnya? Biasanya cash flow diatur begitu rupa. Jika tiba-tiba mati mendadak, so what?

42. Siapa yang masih punya utang ketika wafat, Rasulullah SAW pun tak mau shalati jenazah orang yang masih punya utang

43. Jadi cilaka 12 bukan. Rasulullah SAW pun tak bisa beri syafaat. Harta banyak tapi utang juga. Itu tanda, Padang Mashyar kita abaikan

44. #Amalan Semoga jadi pengingat. Selamat berakhir pekan. Sampai jumpa pekan depan, insya Allah.

by @ErieSudewoID

Wa’alaikum sallam warohmatullahi wabarokatuh.
Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil ‘aliyil ‘azhim. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad. Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: