Kemiskinan yang Termanipulatif ~Budi prastiwi

COPAS

Kemiskinan yang Termanipulatif

~Budi prastiwi

Dalam sambutannya menteri keuangan, Sri Mulyani, di acara perayaan 10 tahun PT. Adora Energi Tbk., mengatakan bahwa tingkat kemiskinan per maret 2018 (9,82%) merupakan yang paling rendah dalam sejarah Indonesia. Serta tingkat ketimpangan yang berada di angka 0,389 menunjukjan bahwa Indonesia menuju arah yang benar.

Benarkah tingkat kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan dan sudah berada di jalan yang benar (perekonomian)?.

Bukan bermaksud meragukan data dari BPS namun di rezim ini, semua hal bersifat “palsu” dan setiap instansi pemerintah harus bersedia menyajikan data sesuai keinginan dan kebutuhan pemerintah (citra presiden). Sehingga, ketika menteri keuangan mengklaim telah berhasil menurunkan garis kemiskinan hingga paling rendah dalam sejarah, keraguan muncul dengan sendirinya.

Tingkat kemiskinan atau garis kemiskinan diperoleh dari menambahkan dua indikator yaitu garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan non makanan (GKNM). Dengan keadaan perekonomian yang seperti ini dimana biaya hidup serba naik dan mahal namun penghasilan tak kunjung bertambah dan PHK merajalela serta meningkatnya jumlah pengangguran bagaimana bisa tingkat kemiskinan turun hingga 9,82% dan paling rendah dalam sejarah.

GKM merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kk perkapita/hari. Dan, GKNM merupakan kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, kesehatan dan pendidikan.

Jika kita membaca panduan bagaimana BPS menghitung garis kemiskinan, yang kita dapati hanyalah kebingungan. Berdasarkan panduan tersebut perhitungan GKM dan GKNM hanya berdasarkan jumlah pengeluaran minimum kebutuhan berdasarkan indikator yang ditetapkan dengan mengabaikan kemampuan rakyat dalam mencukupi kebutuhan minimum perhari. Mungkin karena itulah seringkali pemerintah menampilkan data dan fakta garis kemiskinan yang selalu bertolak belakang.

Jika pemerintah dan BPS tidak mengabaikan kemampuan rakyat dalam memenuhi kebutuhan minimum perhari maka akan didapati bahwa pemerintahan saat ini merupakan pemerintahan penyumabang kemiskinan terbesar.

Dengan harga-harga sembako yang semakin melonjak banyak rakyat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan minimum kalori perhari (2100kk/orang/hari). Bahkan tidak sedikit rakyat memaksa diri untuk “berdiet” sesuai saran dari para menteri. Jika untuk memenuhi kebutuhan mininum makan tidak mampu dipenuhi maka kebutuhan minimun non makanan pastinya tidak dapat lagi terpenuhi dengan baik.

Jadi, bagaimana bisa angka kemiskinan tersebut mengalami penurunan bukan kenaikan?. Dan, bagaimana mungkin tingkat angka kemiskinan di rezim ini merupakan paling rendah dalam sejarah Indonesia jika banyak rakyat yang mengurangi kebutuhan makan dan non makan hingga tidak mencapai kebutuhan minimum?.

Jika, tingkat pengeluaran kebutuhan hidup makin tinggi dan paling tinggi sepanjang sejarah hingga mampu membuat kami terperosok ke garis kemiskinan, kami tidak akan mendebatnya karena itu adalah kenyataan dan kebenaran dari apa yang kami rasakan.

Sri mulyaniFahri hamzah

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: