Rasa Itu Bernama “Cinta” By :@ rindu_ade

 

Rindu belum berbunga

 

Rindu

 

Rasa Itu Bernama “Cinta”

Didalam cinta ada tiga hal yang selalu tumbuh, Rindu. Senang. Lalu khawatir alias takut kehilangan. Ketiganya menyatu. Bermula dari kebaikan yang disampaikan, lalu merasuk ke dalam hati. Dan sebagaimana lazimnya cinta, kebaikan orang itu selalu saja melintas berlari di kepala. Berharap agar kebaikan-kebaikannya kita rasakan lagi. Seperti mata air yang segar, jernih airnya, mengalir, menderas, ini yang namanya Rindu, meski mungkin yang kita rindukan tidak merasakan hal yang sama, tapi cinta datang dan pergi sesuka hatinya bukan?

Pada ia yang kita cinta, inginnya tak ada kekhawatiran itu, tak ada kecemasan, selain kepastian, bahwa ia baik-baik saja. Namun apalah daya, tak semua hal dalam genggaman kita. Yang kita tahu, kita punya Allah. Tempat menggantungkan segala urusan, tempat mencurahkan segala kekhawatiran, pun untuk dia yang kita cintai, meski dia tidak tahu betapa kita mengkhawatirkannya ….

(Ade a.k.a Rindu)

Ini status facebook saya pagi ini, sebenarnya kalimat diatas saya tulis tadi malam tapi tak sempat saya upload karena saya yang cengeng ini tak harus disibukan dengan menghapus airmata yang tiba tiba jebol diujung mata atas rasa yang kian waktu kian sesak, mungkin ini yang orang bilang cinta, ah, entahlah, bagi saya cinta memang selalu tak mudah untuk dimengerti. Bahkan kehadirannya pun seringkali tak disadari. Tiba-tiba ia telah memiliki tempatnya sendiri, lalu tumbuh. Setelah entah berapa hari, barulah saya ketahui bahwa ia ada. Dan ketika itu, cinta sudah tak lagi berwujud benih. Ia telah mendewasa, telah tampak kuncup dan bunganya, dan saya sudah sangat terlambat untuk menghentikannya 🙂

Dulu sahabat saya pernah bilang betapa bahagianya orang yang bisa memiliki cinta saya, karena ketika saya jatuh cinta maka semua rasa akan saya berikan, semua khawatir akan saya tumpukan, meski saya tahu akibatnya jika tiba tiba cinta itu pergi seperti jelangkung, datang tak diundang, pergi tak diantar, dan kembali rasa kehilangan akan merusak separuh nyawa saya, dan pernah ada yang menasehati saya ”De, kalau cinta biasa aja nape, ntar mati loh kaya dulu, gak bisa bangkit” ah!! berlebihan, buat saya cinta itu yah begitu, total memberikan, total sakitnya dan total bangkitnya, saya sudah membuktikannya. I Did It 🙂 so dont worry, be happy

Iya, ketika saya jatuh cinta saya ingin suatu hari saat perpisahan itu datang, “koq berharap pisah De?” hehehe, gak berharap tapi kan tiada yang abadi didunia ini, jika besok atau lusa Allah memanggil saya pulang, kan selesai urusan cinta cintai ini 🙂 saya hanya berharap bisa lebih lama bersamanya, meski dia tidak tahu, hehehe #cintadalamdiam, maka ia akan mengenang saya sebagai orang yang pernah mencintainya dan tak ada seorangpun yang pernah mencintainya melebihi saya mencintainya, kelihatan berlebihan tapi tidak juga, cinta saya kan hanya mampu berdiri dibatas garis pengharapan, karena cinta itu melibatkan dua orang yang semua nya tidak dalam genggaman saya, dan saya mensyukuri rasa yang kerap hadir dengan segala kekhawatirannya yang menyergap, kalau gak khawatir gak cinta dong, hayah !! dah ah

Inilah sekelumit tulisan saya tentang cinta, tentang rasa, bukan hanya untuk saya, setiap yang mencintai pasti punya rasa ini, kalau gak punya berarti gak cinta, wak waw .

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: