INTI SARI MUQODDIMAH BAYAN MAULANA SA’AD DI DEPAN PARA ULAMA PADA IJTIMA’ BSD 2009

 

Jamaah Tablig

 

INTI SARI MUQODDIMAH BAYAN MAULANA SA’AD DI DEPAN PARA ULAMA PADA IJTIMA’ BSD 2009.

Mutarjim : Ust. Lutfi.
Penyunting : Nasar Azis.

Setelah memuji Allah SWT dan memohon salam dan shalawat keatas junjungan Rasulullah SAW, beliau membaca beberapa ayat dan hadits, amma ba’du …

Para ulama dan hadirin yang di rahmati Allah SWT, beliau menyampaikan bahwa tanggung jawab yang besar dari para alim ulama adalah menyampaikan ilmu kepada umat melalui amal. Kalau sekiranya para ulama mengajarkan ilmu kepada umat tanpa melalui praktek tanpa amal, maka yang akan tersebar adalah maklumat, dan ilmu tidak akan tersebar kecuali sekedar maklumat. Maka itulah nabi dan para sahabat menyampaikan ilmu kepada setiap pribadi umat melalui amal.

Dikatakan ketika Sayidina Ali r.a ditanya para sahabat bagaimana cara Rasulullah melakukan wudlu, maka beliaupun minta diambilkan air, setelah itu beliau berdiri di tempat yang tinggi, dan beliaupun melakukan wudlu. Setelah selesai ber-wudlu beliau katakan ” demikianlah cara Rasulullah berwudlu.” Jadi takrir atau penyampaian cara wudlu hanya pendek saja yaitu ” beginilah yang saya lihat cara berwudlunya Rasulullah SAW.” Jadi menyampaikan ilmu dengan praktek itulah yang diajarkan Sayidina Ali kepada umat.
Juga beliau katakan bahwa sarana untuk menyampaikan ilmu bukanlah alat-alat seperti yg ada sekarang seperti televisi dlsb, tapi sarana untuk menyampaikan ilmu adalah dengan cara shuhbah( ?????? )kepada para alim ulama. Maka para anbiya’ a.s yang mendapatkan ilmu dari Allah untuk disampaikan kepada manusia, maka mereka sendiri yang menyampaikan kepada manusia. Jadi sarana untuk menyampaikan ilmu kepada manusia adalah manusia itu sendiri. Maka para anbiya’ a.s yang diutus Allah SWT untuk menyampaikan ilmu kepada manusia adalah dengan cara mereka sendiri yang berhadapan langsung kepada manusia tanpa melalui alat-alat atau perantara. Maka sekali lagi bahwa alat bukanlah sarana untuk menyampaikan ilmu. Tapi ilmu akan sampai dengan baik bukan melalui alat-alat, tapi melalui manusia itu sendiri. Bahkan nabi kita Muhammad SAW ketika menyampaikan ilmu kepada sahabat langsung melalui amalan. Ayat-ayat yang turun dari langit langsung beliau sampaikan dalam bentuk amalan. Waktu itu al-qur’an belum berbentuk kitab. Ayat-ayat yang turun masih berupa catatan di lembaran yang terpisah-pisah dan sebagian ada dalam hafalan para sahabat. Jadi sekali lagi bahwa ilmu tidak disampaikan dengan sarana alat, tapi melalui shuhbah.

Ilmu haruslah disampaikan melalui syirat atau amalnya para ulama. Untuk menyampaikan ilmu kepada ulama dibutuhkan syirat atau amal alim ulama, sehingga masyarakat melihat langsung bagaimana belajar gerak nabi dari para alim ulama.

Syekh Muhammad Ilyas mengatakan : ” kalau ilmu disampaikan tanpa gerak, tanpa harakah, tanpa amal daripada alim ulama, maka nantinya yang akan tersebar di kalangan umat hanyalah kebodohan.” Jadi bukan ilmu yang tersebar, malah kebodohan. Kalau ilmu disebarkan tanpa gerak, maka seperti itulah yang akan terjadi.

Syaikh Muhammad Ilyas berkata: ” Yang saya inginkan setiap jamaah yang bergerak ada di dalamnya seorang alim dan ada satu orang hafis. Jadi ketika jamaah bergerak mereka bisa belajar langsung dengan ulama atau hafiz dalam rombongan tsb……….

 

============

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: