AMAL SEPELE Ditulis oleh Rizki Lesus

Amalan yg ditanyakan di akhirat

amalan takwa

 

Amal Sepele
Ditulis oleh Rizki Lesus

“Kita putar lagi ya Ummi. Itu ada pohon tumbang Abi mau benerin dulu. Takut nanti ada yang kecelakaan,”
Siapakah di antara kita yang tidak ingin naik haji? Tidak akan ada yang menyangkal kalau setiap Muslim pasti ingin menginjakkan kakinya di Tanah Suci tersebut. Minimal sekali seumur hidup. Tapi tahukah Anda kalau saya memiliki teman yang sudah puluhan kali pergi ke Tanah Suci. Uniknya lagi kepergiannya itu bukan dengan biaya sendiri, seringkali gratis bahkan ketika pulang malah mendapatkan uang. Lho, bagaimana caranya?
Teman saya tersebut bernama Ustadz Maulana. Pekerjaannya mengajar dan mengasuh santri di sebuah pesantren. Umurnya lebih muda dari saya tapi Allah berkenan mengundangnya berkali-kali. ‘Apa amalan yang biasa dilakukan oleh ustadz?’ tanya saya suatu kali.
Ustadz Maulana hanya menggeleng kepala. Ia merasa bahwa amalannya biasa-biasa saja bahkan lebih kecil dibanding yang lain. Tak puas dengan jawaban tersebut, saya memberikan pertanyaan lagi;
“Coba diingat-ingat amalan apa yang kira-kira bisa membuat Allah mengundang Ustadz berkali-kali ke Tanah Suci?”
Setelah berpikir lama akhirnya Ustadz Maulana bercerita;
Syahdan, suatu waktu saat dirinya bersama sang istri hendak pulang dari mengajar di tengah jalan dirinya melihat sebuah pohon pisang yang roboh ke tengah jalan. Mulanya Ustadz Maulana tak acuh dengan pohon tersebut. Ia melenggang begitu saja. Maklum saat itu hujan rintik-rintik yang membuatnya harus cepat-cepat sampai di rumah.
Namun, entah mengapa hatinya tak tenang. Dirinya lantas meminggirkan sepeda motornya.
“Ada apa Abi?” tanya istri ustadz Maulana.
“Kita putar lagi ya Ummi. Itu ada pohon tumbang Abi mau benerin dulu. Takut nanti ada yang kecelakaan,” jawab ustadz Maulana.
Di lain waktu saat Ustadz Maulana sedang berjalan di trotoar ia melihat ada rimbunan ranting pohon yang bergelantungan di atas sebuah kabel telepon. Tanpa pikir panjang ia mencari bambu untuk menurunkan ranting tersebut. Alasannya Ustadz Maulana khawatir kabel telepon tersebut putus. Jika putus dirinya beranggapan bagaimana misalnya jika ada seorang istri yang hendak melahirkan lantas tidak bisa menelepon suaminya atau dokter karena kabel teleponnya terputus, atau misalnya ada orang sakit yang tidak bisa memberitahukan keluarganya untuk pergi ke dokter.
“Ini yang saya kira yang membuat saya diundang berkali-kali oleh Allah,” tukas Ustadz Maulana.
Dalam pikiran kita pastinya muncul anggapan bahwa apa yang dilakukan oleh Ustadz Maulana adalah amalan sepele. Namun ingat, tidak ada di dunia ini yang namanya amalan sepele. Mentang-mentang yang dilakukan hanya soal ‘kecil’ lantas amalan tersebut dianggap kecil pula? Tidak bisa. Setiap amal yang dilakukan bermakna besar bagi kita umat Muslim.
Kelak saat waktu hisab Allah akan memberikan tiga buah buku pada kita. Berisi catatan amal, dosa dan nikmat yang Allah telah berikan pada kita. Buku catatan amal tersebut akan dibandingkan dengan nikmat yang telah diberikan Allah pada kita. Hasilnya? Dapat ditebak amal kita lebih buruk dibanding dengan anugerah kenikmatan Allah.
Lantas, malaikat pun bertanya;
“Ya Rabbi, apakah manusia ini dimasukkan saja ke dalam Neraka? Catatan amalnya saja sudah rendah dibanding nikmat yang engkau berikan. Apalagi jika dibandingkan dengan dosanya,”
Namun, Allah SWT menjawab;
“Masukkan dia ke dalam surga. Bukankah sudah Aku bilang Aku akan melipatgandakan amal yang dilakukan oleh setiap umat-Ku,”
Sebenarnya tidak ada kepantasan bagi diri kita untuk masuk surga. Namun, itu tidak menjadi alasan bagi kita untuk tidak beramal saleh. sekecil apapun, sebab di sanalah mungkin rahmat Allah akan kita jelang. Rahmat yang akan mengantarkan kita kepada surga kelak, atau bahkan seperti kenikmatan yang diperoleh Ustadz Maulana? Ingat tidak amal yang sepele.

(diolah dari ceramah ust. Budi Prayitno)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: