# Surga itu Dibangun dari Rumah Anda # By : Lanang Sawah @eae18

rumahku-surgaku

Rumah ku baiti-jannati

Rumahmu surga mu

Rumah home sweet homeNabi tak pernah memukul

 

# Surga itu Dibangun dari Rumah Anda #

By : Lanang Sawah @eae18

Kemarahan itu tentu dipicu api cemburu karena saya memuji istri. Saya pikir lebih baik memuji istri sendiri ketimbang istri orang .

Saya beruntung punya istri yang tak suka berselancar di ranah facebook. tak punya akun twitter. FB ada. Gak aktif banget .

Menikahimu, cara paling dekat menemukan cahaya Allah. pantulan cahaya itu, bertebaran dari jasadmu yang makin dekat dengan sujud .

Harus disyukuri punya istri yang baik. Harus disyukuri punya istri yang menghabiskan tiga jam sehari ‘bercengkerama’ dengan Allah .

‘Bercengekrama’ sama Allah di luar waktu salat lima waktu. FB hanya sekali-kali komentar pada hal-hal yang penting saja .

Saya berterima kasih ke Allah dan Kanjeng Nabi diberi kemampuan melihat bagaimana istri-istri orang di facebook ‘berselancar’ .

‘Berselancar’ ke suami-suami orang dan cowo-cowo penghuni facebook. Bahkan bagi yang belum menikah, Anda masih virgin dan tidak pun, saya tahu .

Pernah suami istri duduk berjam-jam di depan saya (ada saksinya), saya kasih tahu bahwa istrinya sudah bersetubuh dengan suami orang .

Alhamdulillah, setelah saya kasih tahu, suaminya tambah sayang dan cinta. Kesalahan ternyata ada di suami. Terlalu cuek punya istri .

Wahai para suami. meski Anda ustadz, kiai, tokoh publik, perhatian ke istri dan anak-anak adalah hal urgen. Jangn sok jadi pendakwah .

Anda gagal total sebagai pendakwah jika bangunan keluarga kering kerontang. Penuh bara.Selalu bicara surga tapi neraka ada di rumah

Surga itu dimulai dari rumah. Surga itu ada di dunia. Jika ingin surga di akhirat, mulailah bangun surga di dunia

Wahai para istri. surga itu dimulai dari hal-hal kecil.melayani suami dengan baik. merawat dan memberi contoh ke anak-anak dengan akhlak yang baik .

Anda pakai jilbab rapi dan selalu bicara agama di facebook. wow! saya sering tersenyum-senyum karena Allah dan Kanjeng Nabi memperlihatkan

Diperlihatkan siapa diri Anda sebenarnya. Jangan suka bangun pencitraan dengan jilbab yang rapi tapi dalamnya keropos .

Seberapa suami istri yang konsul ke saya karena keluarga ada disharmoni, saya jelaskan semua karena laku diri jelang nikah .

Saya kasih tahu, kejadian para nikah. Anda sudah bersetubuh sebelum menikah. Pernikahan itu upacara sakral. Ini jadi “karma” diri .

Memang ada yang para nikah sudah bersetubuh dan keluarga baik-baik. Tapi sadarkah, pernikahan Anda sudah tercoreng nilai sakral .

Sebagai pejalan dan penyaksi,saya diberi pelajaran banyak dari berbagai fitnah dan caci maki untuk melihat berbagai persoalan

Saya menjadikan peristiwa yang lalu lalang sebagai ibrah, pelajaran sekaligus sebagai siksa (pelajaran juga).

Jangan sok-sok ingin jadi penghuni surga jika bangunan keluarga penuh bara. surga mbahmu. surga itu ada di hati dan kalbumu

Saya ambil puing-puing keluarga yang runtuh. saya ambil. saya mainkan seperti puzzle agar jadi utuh kembali

Wahai para suami, istri tak hanya butuh duit. tak hanya butuh materi. nafkah batin pun perlu. bersetubuh dengan istri itu halal

Mari, saya dan Anda belajar dari berbagai peristiwa. Membesuk diri itu jauh lebih mulia ketimbang membesuk orang lailn

Tentu saya bicara seperti ini karena hidup saya sudah dibanting-banting. Saya bangkit dan maju tak gentar membela yang tak bayar

Tentu sebagai pendosa (meminjam kata Limbad), saya selalu merasa bersalah. Merasa bukan orang saleh tapi orang salah

Setiap bertemu Allah dalam salat, saya selalu bicara ke Allah agar selalu dijaga segala laku hidup. Dialog dengan Allah itu asyik

Saya sempatkan dalam setiap jengkal ruang dan waktu, untuk dialog dengan Kanjeng Nabi dengan bersholawat

Setiap butiran sholawat harusnya jadi prasasti bukan hanya pemanis bibir. setiap guliran sholawat, setiap itu tetesan air mata jatuh .

Saya dan Anda hanyalah manusia yang tak lepas dari salah. sejauh mana kita mampu merenda kesalahan jadi jejak perbaikan diri ke depan

Mulailah hidup dengan kesabaran. Biasakanlah lidah, hati dan kalbu berdzikir agar punya vibrasi dalam laku lampah sehari-hari

– Nabi Muhammad lahir dari kultur masyarakat yang “keras” tapi kenapa Beliau amat lembut? Kultur tak selamanya berkelindan dengan laku diri.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: