# Panggung Sandiwara# Posted by Ade Rindu | May 27, 2014

 

Hasbunalloh wanimal wakil cukup allah penolong ku

 

# Panggung Sandiwara#

Posted by Ade Rindu | May 27, 2014

Makna dan maksud dari ‘Hasbunallah wa Ni’mal Wakiil’ (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung) akan terlihat ketika kita menghadapi suatu masalah, tidak grasak grusuk pamer kesusahal di sosial media, merasa menjadi yang paling menderita, atau bahkan siap-siap mencari pembenaran untuk menyalahkan orang lain.
Tapi kita akan tenang dan berwibawa. Bukankah kita telah meminta kepada perlindungan tertinggi dari Allah? Mengapa harus gusar? bukankah sandaran terbaik sudah kita temukan yaitu Allah, lalu apa bedanya lagi antara luka dan bahagia, semoga kita memahami makna dan maksud ayat tersebut, masalah juga punya harga diri (Ade a.k.a Rindu)

Ini adalah status facebook saya pagi ini, ayat diatas sudah lama saya coba tanamkan dalam kehidupan saya sehari hari, bahwa tidak semua orang harus tahu apa yang saya rasakan, luka adalah milik saya begitupun dengan bahagia, karena orang yang tahu betapa lukanya kita hanya bisa melihat, maximum mendengar, merasakan? gak akan bisa, karena cerita hidup saya saya bukan cerita hidup dia, begitupun cerita hidup sahabat saya bukan cerita hidup saya, bisa jadi mereka juga tidak perduli dengan cerita hidup saya karena sibuk dengan cerita hidup nya sendiri

Fenomena yang sering terjadi pada anak muda zaman sekarang adalah curhat di sosial media, seolah seluruh dunia harus tahu dan simpatik atas airmata nya yang tak pernah surut, padahal airmatanya adalah dia sendiri yang membiarkannya jatuh, dia sendiri yang membuat hidup ini penuh dengan airmata, yang nangis dia yang harus menghapus airmatanya juga dia, karena bahagia tak selalu harus karena orang lain, karena bahagia harus saya yang menciptakan sendiri, karena bahagia tidak bahagia semata mata adalah hasil dari kemampuan saya menjaga rasa, karena luka adalah ketidak mampuan saya menerima apa yang Allah takdirkan atas saya

Iya, sesimpel itu lah menjadikan hidup ini bahagia dan tidak bahagia sangat tergantung dari bahagimana saya mengolah rasa, dan dewasa tidak dewasanya saya tergantung seberapa jauh saya mampu mentertawakan luka saya .

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: