* Rumah Tanpa Pondasi *

 

Rumah pondasi

Komitmen cinta

Cinta adalah suka dan kasih sayang

 

* Rumah Tanpa Pondasi *

Ketika banyak perempuan dilukai oleh laki-laki. Berarti banyak pula laki-laki yang melukai perempuan. Sebanyak peganduan dalam setiap curhatan bahwa laki-laki itu brengsek dan menjengkelkan. Bila kita dengar dari teman-teman dekat kita dalam ceritanya.

Mengapa banyak cinta yang terluka sebelum terjadi ikatan yang suci lagi baik. Karena, disana tidak ada ikatan. Kalaupun merasa terikat, itu sesuatu yang tidak ada sama sekali. Siapapun bisa meninggalkan siapapun, kapanpun. Bahkan dengan alasan-alasan yang sederhana. Hilang rasa misalnya. Karena di sana tidak ada komitmen yang jelas antara keduanya. Negara bahkan tidak bisa menindaknya dengan hukum.

Lalu mengapa kita sibuk membangun cinta diatas lahan yang rawan. Seperti membangun rumah di atas rawa-rawa. Membangun rumah tanpa pondasi dan kita berharap bisa membuat gedung tinggi. Sayangnya banyak sekali orang yang melakukan itu. Kita pun pernah, di masa muda yang bergelora. Di masa muda yang ingin mencoba banyak hal.

Laki-laki akan terus melukai perempuan bila tidak ada komitmen. Sementara perempuan akan terus terlukai karena menuntut kepastian. Padahal tidak ada kejelasan. Laki-laki dan perempuan tidak saling belajar saat ini. Pun tidak saling mampu menahan diri.

Membangun cinta tanpa rahmat dan berkah dari Tuhan. Berangan-angan tentang masa depan padahal kosong. Bermimpi tentang keluarga harmonis padahal hanya mulut manis.

Cinta memerlukan kesabaran. Cinta memerlukan pengendalian. Sebab itu Dia memberikan pentunjuk-Nya. Perasaan ini suci dan fitrah, sebuah perasaan yang sengaja diciptakan dengan rasa-rasa yang indah. Hanya saja banyak orang yang terburu-buru ingin merasakan keindahannya dan ditempat dan orang yang tidak tepat.

Perempuan haruslah menjaga diri, menjaga kehormatan, dan mampu mengendalikan. Laki-laki haruslah mampu menjaga kehormatan, tidak sembarangan memberi perhatian apalagi harapan. Karena perempuan mudah memberikan kepercayaan.

Bandung, 6 Juli 2014 | (c)kurniawangunadi.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: